Uang Kaget dan Mentertawakan Kemiskinan


“Uang sepuluh juta ini akan menjadi milik ibu, dengan satu syarat ibu harus membelanjakannya dalam waktu 30 menit. Sisa uang yang tidak berhasil dibelanjakan akan kami ambil kembali”, kata Helmi Yahya ,dengan pakaian khas layaknya “pesulap” dalam sebuah tayangan di RCTI, kepada ibu penambal ban “tubeless”. Saya sempat tidak “ngeh” (dari bahasa Jawa yang artinya mengerti) permainan acara tersebut sampai akhirnya mencoba untuk mengikutinya dari awal hingga akhir. Selanjutnya sang Ibu yang mendapat kesempatan tersebut, dengan bergegas segera berlari menuju ke berbagai pertokoan dan memborong barang-barang yang bisa dibeli tanpa ditawar lagi.Sementara orang-orang yang melihat sang Ibu tersebut ada yang tertawa-tawa, ada yang setengah kasihan, dan yang lainnya terbengong-bengong. Entah apa yang terpikir oleh sang Ibu tersebut ketika menerima uang dalam jumlah yang luar biasa besar tersebut dan bagaimana ia merencanakan untuk menghabiskannya dalam sekejab.

Adegan berikutnya membuat saya tertegun, karena yang diborong oleh sang Ibu adalah barang-barang yang selama ini mungkin tidak bisa mereka beli. “Mas, kulkas yang paling mahal berapa ?”, teriak sang ibu kepada penjual barang elektronik. “Cepet..ayo cepet”, teriak sang ibu lagi dengan logat jawanya yang medok ketika disodori “stopwatch” yang menujukkan sisa waktu oleh presenter TV. “Kuitansi mana?.ayo dong mas cepet”, teriaknya lebih kencang. Kulkas, VCD, TV ukuran 29? akhirnya sudah berhasil dibeli oleh ibu tersebut (saya membayangkan rumahnya yang tentu saja sangat sederhana, dipenuhi oleh barang-barang tersebut , sehingga terasa semakin sempit ).

Berikutnya ibu itu lari ke toko emas, dan memborong perhiasan emas dalam jumlah besar. Terakhir barulah sang ibu teringat bahwa dirumah belum ada sembako (beras dan kebutuhan pokok lainnya). Dengan penuh wajah kelelahan, Ibu tersebut akhirnya berhasil membelanjakan hampir uang sepuluh juta tersebut, dan hanya tersisa empat ratus ribu rupiah.

Menyaksikan tayangan tersebut, ada kegundahan yang saya alami. Saya tidak mempermasalahkan kalau ada orang yang mau memberikan uang gratis kepada orang yang berkurangan dalam jumlah besar, tetapi meng-ekspose kemiskinan orang untuk suatu tontonan tentulah sangat tidak mendidik masyarakat. Sama saja dengan kita mentertawakan kemiskinan itu sendiri, bahkan menghina kemiskinan. Seolah-olah kemiskinan adalah identik dengan kasihan, ketidakmampuan orang untuk mencukupi diri sendiri termasuk kebutuhan pokok yang paling mendasar. Disisi lain, ada juga usaha untuk meng-expose kemiskinan untuk meningkatkan citra diri sang pemberi bantuan. Masih segar dalam ingatan saya, tentang tingkah laku pejabat atau calon pejabat selama kampanye pemilihan legislative berlangsung. Berdalih sumbangan kemanusiaan, mereka meng-ekspose diri mereka sebagai dermawan yang bagaikan sinterklas datang memberikan pertolongan, tetapi sesungguhnya sedang menginjak-injak kemiskinan untuk keuntungan diri sendiri.

Secara fakta, bisa jadi orang-prang yang diberi bantuan tidak mempermasalahkan apakah mau di-expose atau tidak. Yang penting toch saya dapat makan dari bantuan tersebut dan “kebutuhan sesaat” saya terpenuhi. Tetapi secara esensi, sesungguhnya sedang terjadi pen-tertawaan terhadap kemiskinan. Seolah-olah kemiskinan bisa menjadi “barang dagangan” yang laku dijual untuk berbagai kepentingan komersial.

Tayangan TV tersebut secara sadar telah menjadikan kemiskinan mejadi suatu tontonan komersial, yang berujung kepada kepentingan komersial. Dan secara sadar telah memberikan pembodohan bagi masyarakat dalam memandang persoalan kemiskinan. Bahwa orang-orang miskin adalah orang-orang yang harus dikasihani, orang-orang yang tidak mampu memberdayakan dirinya. Padahal bisa jadi sikap masyarakatlah yang menjadi bagian dalam proses yang menjadikan ketidakberdayaan orang-orang tersebut.

Prof. Mubyarto, guru besar Fakultas Ekonomi UGM, mengatakan salah satu akar kemiskinan structural adalah sikap masyarakat yang mengungkung orang-orang miskin tersebut untuk semakin tidak berdaya. “Percayailah orang miskin dan berilah peluang. Itulah sikap yang harus dimiliki oleh masyarakat”, lanjut Prof Mubyarto dalam suatu wawancara dengan Harian Republika tanggal 22 Januari 1996.

Mempertontonkan kemiskinan bisa jadi adalah sikap tidak mempercayai orang miskin dan semakin tidak memberikan peluang bagi mereka untuk memberdayakan dirinya. Seharusnya acara-acara televisi memberikan tontonan yang memperlihatkan nilai-nilai kerja keras, kemauan berusaha, peluang-peluang yang ada dan sebagainya. Saya teringat salah satu acara di TVRI yang dulu saya anggap membosankan, tentang kisah-kisah kesuksesan para transmigran, tentang budidaya tanaman dan hewan bagi masyarakat terbelakang, dan acara-acara sejenis lainnya. Belakangan saya menyadari bahwa ada nilai-nilai yang mau disampaikan dalam tayangan yang sangat “membosankan ” tersebut. Setidaknya tayangan tersebut telah mempertontonkan bagaimana masyarakat miskin memberdayakan dirinya melalui kerja keras dan pemanfaatan peluang-peluang yang ada.

“Uang kaget” hanyalah salah satu tayangan yang seolah-olah ingin memberikan pertolongan instant kepada masyarakat, tetapi sebenarnya melakukan pembodohan dan pemasungan kepada masyarakat, khususnya masyarakat miskin. Acara-acara yang bermutu yang memberikan informasi peluang bisnis dan kerja dan lain sebagainya lebih diperuntukkan bagi kalangan masyarakat yang justru sudah bisa memberdayakan dan memampukan dirinya. Sedangkan bagi masyarakat miskin semakin dijejali dengan berbagai tontonan yang tidak rasional, mistis dan menyeramkan seperti: “Penampakan”, “Alam Gaib”, “Jin dan Jun”, dan lain sebagainya.

Barangkali inilah tantangan sekaligus peluang bagi kita, untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan pelayanan yang bukan hanya bersifat karitatif, tetapi sekaligus pelayanan yang bersifat edukatif kepada masyarakat. Terlibat dalam usaha-usaha dan pemikiran untuk mengembangkan usaha kecil dan menengah adalah salah satu bidang pelayanan yang bisa kita lakukan. Mahasiswa bisa memikirkan program-program kategorial yang bersifat mendidik dan memberdayakan masyarakat melalui keilmuan yang dipelajarinya, dan terlibat dalam berbagai program pengabdian masyarakat yang dibuat oleh kampus dan sebagainya.

Dengan cara demikian kita mengasah diri untuk tidak semakin diperbodoh oleh tayangan-tayangan di media, yang akhirnya membuat kita “secara atau tidak sadar” ikut mentertawakan kemiskinan.

November 2004,

Leave a comment