Panggilan dan Kepahlawanan – Catatan Film Soegija


“Kadangkala memang kita tidak tahu harus melakukan apa”, ujar Mgr.Soegijapranata. Ia hanya memandang pasrah dan hanya bisa terpaku menyaksikan serdadu-serdadu Jepang membawa para pekerja gereja dan orang-orang yang berlindung didalamnya. Cuplikan film ‘Soegija’ itu sangat membekas di kepala saya. Ya, kadangkala dan ada saatnya memang manusia tidak tahu harus melakukan apapun ketika berada dalam situasi yang kritis.

Soegija hanya berusaha menjalani apa yang menjadi tanggung jawabnya. Menjaga iman jemaatnya sembari mengupayakan pertolongan kemanusiaan dalam perjuangan kemerdekaan itu. Namun jangan dikira sikap pasrah itu menunjukkan kelemahannya, karena di lain kesempatan ia berani menantang kepala serdadu Jepang yang meminta gedung gereja untuk dijadikan markas tentara Jepang. ‘Penggal kepala sayaterlebih dahulu’, katanya dengan suara yang sangat tegas dan sorot mata tajam.

Perjuangan kemanusiaan Soegija tidaklah muluk-muluk. Sebagai seorang pastor ia hanya tetap melakukan tugas melayani jemaatnya, memberikan penghiburan dan penguatan di masa perjuangan itu, memberikan gagasan-gagasan dan inspirasi kemanusiaan melalui kotbah-kotbah yang relevan dengan denyut perjuangan kebangsaan saat itu. Tetapi apa yang dilakukannya sebagai pemimpin adalah berusaha memahami getir pahitnya perjuangan rakyat yang memakan korban kemanusiaan. Ia menginspirasi dan mendorong jemaatnya menjadi pekerja-pekerja kemanusiaan yang melayani masyarakat. Soegija amat memahami bahwa itulah esensi kehadiran gereja, yaitu ketika gereja mampu merasakan denyut nadinya rakyat, mampu menjadi bagian dari pergulatan penderitaan rakyat, dan menjalankan fungsi dan tugas kemanusiaan tanpa memperhitungkan resiko.

Sebagai pemimpin yang amat memahami situasi sosial politik di masa perjuangan rakyat saat itu, yang bisa dilakukan dalam tataran aksi yang strategis dan menentukan adalah ketika ia melakukan upaya diplomasi melalui struktur gereja katolik yang membuahkan pengakuan Vatikan atas kedaulatan Indonesia. Hal yang akhirnya menjadi titik balik yang penting dalam pengakuan internasional terhadap kemerdekaan Indonesia. Ia bukan politikus, tetapi ia memahami situasi sosial politik karena wawasan yang dimilikinya. Yang dilakukan tidak melebihi kapasitas dan kemampuan yang dimilikinya sebagai seorang pemimpin gereja dan jemaatnya,sekaligus sebagai pemimpin informal yang melayani masyarakat.

Soegija menjadi pahlawan karena hal-hal yang dilakukannya dalam kesederhanaan akan tugas dan panggilannya sebagai pemimpin spiritual umat katolik, namun yang mampu merasakan dan berempati terhadap perjuangan rakyat secara keseluruhan. Menyaksikan film ini, terasa bahwa perjuangan Soegija tidaklah bombastis, tetapi sederhana dan mengena bagi rakyat pada saat itu.

Menjadi pahlawan bagi kemanusiaan tidak selalu harus melakukan hal-hal besar.Tetapi melakukan hal-hal yang menjadi penggilan sucinya. Meriyem, seorang jemaat katolik yang di film ‘Soegija’ sebagai perawat korban perang, bagi saya adalah seorang pahlawan pada jamannya. Ia melakukan panggilan sucinya dengan tulus, penuh kasih, meski hatinya bergejolak tak menentu karena dirinya juga menjadi korban kemanusiaan. Tetapi Mariyem mampu hadir dalam waktu dan situasi yang memang membutuhkan kehadirannya. Dan Mariyem menaatinya. Ia terhisap dalam penggilan sucinya karena kesadaran dirinya sebagai umat percaya dan sekaligus sebagai bagian anggota masyarakat yang merasakan penderitaan rakyat.

Film ini sungguh memberikan inspirasi tentang makna ‘pahlawan’ dalam konteks jaman yang berbeda-beda. Kita hanya perlu menaati panggilan suci yang mendengung-dengung telinga kita, mengusik hati dan jiwa kita, untuk melayani orang lain. Dan itu sudah cukup untuk menjadikan kita ‘pahlawan’ dalam konteks dan situasi kita masing-masing.

Leave a comment