Daily Archives: January 30, 2016

Craftsmanship

“Lihat, telah Kutunjuk Bezaleel  bin Uri bin Hur,  dari suku Yehuda, dan telah Kupenuhi dia dengan Roh Allah  , dengan keahlian dan pengertian dan pengetahuan,  dalam segala macam pekerjaan (craftsmanship)” (Keluaran 31:2-3)

Bezaleel adalah seorang lelaki Israel yang ditunjuk untuk mengarsiteki pembangunan Kemah Suci dan segala macam peralatannya. Bezaleel ditunjuk karena ia adalah tukang yang ahli dalam bahan bangunan. Ia juga piawai dalam seni dan ukir-mengukir kayu, logam, dan batu berharga. Dalam pelaksanaan pembangunan Kemah Suci, ia banyak mengajarkan kepiawaiannya itu kepada pekerja-pekerja lain.

Seorang Bezaleel memiliki kapasitas yang dibutuhkan dalam proyek pembangunan Kemah Suci, yaitu: keahlian, pengertian dan pengetahuan.  Tetapi yang paling penting adalah kemampuan untuk mengintegrasikan ketiga itu ke berbagai macam pekerjaan yang kompleks itu.

Tidak cukup seorang Bezaleel memiliki kualitas keahlian, tanpa didukung oleh pengetahuan dan hikmat dalam memahami kehendak Tuhan. Pekerjaan Kemah Suci itu harus dibuat tepat sesuai yang diperintahkan Tuhan kepadanya (Keluaran 31:11). Artinya pekerjaan dari Tuhan itu harus dilakukan dengan kualitas unggul dan penuh integritas sesuai yang dikehendaki Tuhan.

Bill Johnson dalam bukunya “Dreaming with God” menjelaskan istilah craftsman sebagai orang yang mengerjakan pekerjaan atau tugas yang diberikan Allah dengan kualitas unggul (excellence), penuh kreativitas, dan integritas.

Dalam pemahaman tersebut, maka craftsman adalah seorang yang memiliki “keahlian” (craftsmanship) dan membawa semangat keahlian (power of craftsmanship) itu dalam berbagai bidang yang digelutinya. Menurut Bill, di dalam aspek “keahlian” itu terkandung prinsip kreativitas dan kebaruan (inovasi).

****

Pelayanan alumni sejatinya adalah pelayanan untuk menghidupkan craftsmanship alumni melalui pergumulan spiritualitas dalam  menemukan titik vokasinya. Membangun kualitas keahlian (craftsmanship) yang mumpuni tidak sekedar tentang keahlian, ketrampilan dan pengetahuan, tetapi termasuk sikap dan karakter yang menyertainya.

Seorang alumni yang hidup sebagai craftsman adalah alumni yang mampu mengintegrasikan antara kualitas keahlian dengan kualitas iman. Prinsip hidup mencari kehendak Tuhan menjadi hal penting dan mendasar dalam hidup alumni.

Prinsip kebaruan selayaknya menjadi urat nadi hidup alumni. Sehingga seorang alumni selalu berinovasi dalam rangka perubahan dan pertumbuhan dirinya. Jika kehidupan seorang alumni mandeg dan stagnan, maka ia mulai melupakan jatidirinya sebagai seorang craftsman.

Dalam acara sebuah Kamp Nasional Alumni 2015 yang lalu dideklarasikan menifesto alumni. Dari 7 butir manifesto alumni, manifestó ke-6 berbicara tentang craftsmanship alumni. Manifesto butir ke-6 itu berbunyi “kami bertekad menjadi pribadi yang berkualitas, unggul, produktif, berkebaruan (berinovasi), beretika, bermental pemimpin yang melayani di setiap profesi kami”.

Jika spirit of craftsmanship ini hidup dalam diri setiap alumni, maka alumni akan menjadi pribadi-pribadi yang memberi pengaruh kuat bagi lingkungannya. Dan pengaruh itu akan mendorong perubahan dalam masyarakat dan bangsa.

Maka tantangan pelayanan alumni adalah bagaimana memperkuat pembinaan alumni agar spirit of craftsmanship itu terinternalisasi dalam kehidupan alumni. Pemuridan alumni adalah kunci untuk memperkuat hal itu. Karena itu adalah fondasi untuk menumbuhkan, memperkuat, dan mentransfer spirit of craftsmanship itu dalam hidup alumni.

****

Peter Drucker, seorang pakar manajemen terkemuka dunia, pernah mengatakan “Time is the scarcest resource: and unless it is managed, nothing else can be managed”. Dalam dunia yang penuh kompetisi ini, maka waktu adalah sumberdaya yang amat langka. Jika tidak mampu dikelola dengan baik, waktu (bisa dipahami sebagai kronos dan kairos) akan hilang.

Sebagai bangsa, kita sudah kehilangan banyak waktu untuk berbenah. Peningkatan indeks kompetisi global (GCI: Global Competitiveness Index) kita belum bergerak signifikan. Kita masih dibawah Singapura, Malaysia, dan Thailand, meskipun kita memiliki potensi sumberdaya manusia yang besar.

Revolusi mental yang diangkat oleh Presiden Jokowi, sejatinya adalah sebuah revolusi untuk mengelola waktu tersebut, agar bangsa Indonesia tidak kehilangan momentum untuk menjadi bangsa yang unggul. Waktu harus direbut dengan sebuah revolusi kesadaran tentang pentingnya membangun kesejalanan antara kualitas keahlian dan kualitas karakter bangsa.

Jadi revolusi mental ini adalah sebuah gerakan untuk mendorong spirit of craftsmanship kita sebagai bangsa Indonesia.  Budaya dan karakter unggul, kreatif, dan inovatif adalah jantung dari spirit of craftsmanship.  Ini lahir dari kombinasi dan integrasi antara ketrampilan (kompetensi), pengertian (hikmat atau wisdom), dan kedalaman akan pengetahuan.

Tugas menghadirkan craftsmanship adalah tugas kita bersama sebagai bangsa. Dan alumni sebagai bagian dari kaum intelektual di masyarakat, punya peran mendorong perubahan itu. Pelayanan alumni harus didorong agar memfasilitasi peran-peran alumni sebagai craftsman di berbagai bidang. Bukankah itu sebuah tantangan yang besar?