Oleh: Sigit Darmawan
e-Relation Dan Penetrasi Gereja
Kebutuhan manusia yang hidup dalam jaman digital ini sangat berbeda dengan kebutuhan di jaman sebelumnya. Arus modernisasi dalam pola dan cara berkomunikasi yang begitu cepat, mengobah pola dan perilaku manusia yang serba cepat pula. Karena itu organisasi, termasuk gereja, yang lambat meresponi kebutuhan anggotanya akan semakin kewalahan dalam memenuhi apa yang diharapkan oleh mereka. Dan terjadilah gap dalam pelayanan organisasi kepada anggotanya.
Dalam dunia digital, keterpautan antara individu tercipta dalam sebuah pola interaksi melalui jejaring sosial yang menguat melalui kemajuan teknologi informasi ini. Jejaring ini melahirkan pertukaran informasi dan data yang secara cepat terjadi di antara masyarakat pengguna jejaring sosial, dan menciptakan hubungan-hubungan baru yang bisa positif maupun negatif. Pola komunikasi yang terbangun dalam dunia digital melalui jejaring sosial (milis, twitter, facebook, skype dan sebagainya) meskipun intens, tetapi tetap memiliki keterbatasan. Interaksi yang tanpa sentuhan hati, keterbukaan yang “terbatas” karena tidak akan mampu mengungkapan perasaan terdalam individu, pencitraan yang maya atau palsu menjadi sebuah model atau pola relasi yang kering.
Teknologi digital memang mampu mempertemukan individu di luar batas-batas komunitas yang dimilikinya dan menciptakan banyak persahabatan-persahabatan baru, relasi-relasi yang baru yang memungkinkan proses interaksi ide, gagasan, ideologi, dan iman terjadi. Di satu sisi terciptanya hubungan dari jejaring di jaman digital ini bisa memerosotkan pribadi manusia ketika terjadi proses manipulasi dan monopoli secara tidak bertanggung jawab. Penciptaan hubungan baru ini sekaligus memberikan ruang “pertikaian” yang meluas dalam interaksi antar manusia ketika terjadi konflik dalam “relasi digital” tersebut, oleh karena kecepatan informasi yang sulit dicegah dalam penyebarannya. Namun di sisi lain adalah sebuah peluang untuk menyatakan kehadiran khas kristiani dalam dunia jejaring digital ini melalui berbagai bentuk komunikasi yang jujur, terbuka, hormat, membangun, dan bertanggung jawab. Penetrasi gereja dalam media baru ini tidak sekedar mendorong jemaat membawa isu-isu religius secara terbuka dan bertanggung jawab dalam panggung media, tetapi juga suara yang setia di dunia digital itu tentang berbagai pergumulan anggota jemaatnya yang menuntut pertanggungjawaban atas berbagai pilihan yang diambil dan dibagikan melalui jejaring sosialnya.
Karena itu gereja harus mendorong kehadiran orang percaya dalam relasi digital ini untuk bisa secara kreatif dan bertanggung jawab, dengan tetap mendepankan sebuah komunikasi dalam relasi yang penuh hormat, menggugah kesadaran kemanusiaan, membuka cakrawala intelektual dan spiritual yang lebih luas, dan memperkenalkan iman dalam arti seluas-luasnya.
Gereja harus terus mendorong sebuah relasi yang utuh yang tidak mampu diberikan dalam sebuah pola relasi digital yang terbatas tersebut. Bahwa relasi antar manusia adalah relasi kepribadian, karena itu relasi digital tersebut tidak akan pernah mampu menjawab kebutuhan interaksi manusia yang seutuhnya. Perubahan cara berinteraksi manusia ini akan berpengaruh besar dalam pelayanan gereja yang menekankan makna persekutuan yang utuh dan hangat dalam kehidupan gereja. Perlu sebuah kreativitas dari pelayanan gereja agar perubahan pola interaksi ini diarahkan dalam sebuah model dan bentuk persekutuan (fellowship) yang tetap memanfaatkan kemajuan digital ini, namun tetap memberikan arah dan pemaknaan akan arti persekutuan yang seutuhnya. Yaitu bagaimana, meski di dunia digital, anggota jemaat tetap berkomunikasi dan berinteraksi dengan keutuhan dan kejujuran.
Namun e-relation ini tetap harus dibawa ke dalam ranah persekutuan yang menghadirkan interaksi fisik yang memungkinkan relasi yang utuh itu benar-benar terjadi. Jejaring sosial hanya sebuah alat penciptaan hubungan yang memudahkan interaksi antar individu terjadi dengan lebih luas dan cepat. Gereja memanfaatkan kemudahan dan kecepatan dalam interaksi manusia tersebut untuk membangun komunikasi dan berbagi informasi yang kemudian membawanya ke dalam persekutuan yang sebenar-benarnya. Karenanya, gereja rasanya harus hadir dalam jejaring-jejaring sosial untuk mendekatkan diri dengan jemaatnya yang sedang menjelajahi hubungan-hubungan baru di dunia itu, sekaligus merawat jemaatnya yang ada dalam dunia digital tersebut.
