Oleh: Sigit Darmawan
Perubahan dunia sedang berlangsung. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah mengintegrasikan bumi dalam sebuah komunitas global yang saling terhubung satu dengan yang lainnya, tanpa batasan waktu dan jarak. Perkembangan teknologi informasi dan teknologi komunikasi telah menciptakan sebuah cara baru dalam kehidupan yang dikenal dengan e-life, yaitu sebuah kehidupan yang dipengaruhi ‘proses elektronik’ dari peralatan-peralatan media informasi dan komunikasi. Perubahan-perubahan ini telah membentuk sebuah masyarakat baru yang disebut sebagai Network Society. Masyarakat ini bercirikan multikultural dalam berbagai aktivitasnya. Proses globalisasi yang mentransformasikan kehidupan individu manusia dan komunitas masyarakat dunia ini, terus berlangsung secara cepat seiring dengan percepatan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi itu.
Melalui teori evolusinya, Darwin pernah mengemukakan tentang “survival of the fittest”, maka di era digital yang ditandai dengan perubahan yang cepat dalam teknologi informasi dan komunikasi ini, maka berlakulah “survival of the fastest”. Hilbert dan Lopez, peneliti dari University of Southern California, mengidentifikasi perubahan teknologi informasi dan komunikasi saat ini dalam sebuah kecepatan eksponensial. Hanya diperlukan kurun waktu 14-34 bulan untuk terjadinya peningkatan kapasitas informasi dan telekomunikasi global sebanyak dua kali lipatnya.
Dengan pola perubahan seperti itu, maka yang “bertahan” dalam badai digital ini adalah yang mampu secara cepat beradaptasi dengan teknologi dan memanfaatkannya untuk mendorong perubahan dan transformasi dalam organisasinya. Tidak terkecuali gereja, sebagai sebuah organisasi. Organisasi yang tidak mampu mengantisipasi perubahan teknologi dalam media informasi dan komunikasi ini akan menjadi organisasi yang tidak efisien, lambat, kaku, tidak responsif, dan tidak memuaskan pemangku kepentingan (stakeholders) dari organisasi tersebut.
Ketika revolusi Industri mampu mentransformasi masyarakat melalui perubahan-perubahan dalam kegiatan produksi dan pekerja, maka revolusi teknologi informasi juga mengakibatkan perubahan yang sangat fundamental di dalam proses dan cara berkomunikasi masyarakat sekarang ini. Kemajuan teknologi internet, misalnya, telah menciptakan sebuah communication network (jejaring komunikasi) yang menjadi sebuah sarana penyebaran informasi dan ilmu pengetahuan dengan cara-cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jejaring komunikasi yang baru ini mampu melahirkan proses atau cara belajar yang baru pula, sehingga manusia sekarang sedang hidup dalam sebuah transformasi budaya yang begitu besar dan massive.
Peluang-peluang interaksi antar manusia dan organisasi dengan cara-cara yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya itu membuka cakrawala baru tentang sebuah dunia baru yang sedang didominasi oleh begitu banyak kemungkinan yang akan dihadirkan melalui media komunikasi dan informasi yang baru tersebut. Perubahan dunia yang sedang terjadi akibat dari transformasi yang sedang berlangsung ini mengubah seluruh tatanan sosial dan budaya masyarakat dalam berinteraksi dan berkomunikasi. Sekaligus menjadi sebuah tantangan yang sangat serius tentang makna komunikasi di masyarakat yang serba digital dengan segala kecanggihan dan kerumitannya itu. Semua individu dan organisasi, tidak terkecuali gereja, terhisap dalam proses transformasi ini. Pertanyaannya adalah sejauh mana hasil kecerdasan dan kecakapan manusia ini, bisa diperuntukkan bagi kesejahteraan dan kebaikan manusia itu sendiri. Bagi gereja, bagaimana memanfaatkan media hasil kecakapan manusia ini untuk memenuhi dan melayani hasrat manusia akan kebenaran dan memberikan pelayanan yang optimal bagi jemaat dan masyarakat.
e-Office Dan Komunikasi Dalam Pelayanan Gereja
Kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi telah banyak dimanfaatkan dalam berbagai kebutuhan individu dan organisasi untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan kecepatan dalam berbagai aktivitas. Teknologi komputer yang terhubung dalam jejaring di sistim manajemen informasi telah memudahkan orang dan organisasi untuk berbagi data dan informasi secara cepat, sehingga memperkuat proses dalam pengambilan keputusan, baik yang bersifat operasional maupun strategis. Demikian juga dalam interaksi antar individu dan organisasi melalui teknologi informasi untuk berbagi data dan informasi juga berlangsung secara cepat. Sebagian besar individu dan organisasi di kota besar amat tergantung kepada konektivitas teknologi informasi ini. Hampir semua terhubung dalam sebuah sistim informasi yang sangat besar lalulintasnya, sehingga pertukaran data terjadi dengan sangatmassive dan cepat, apalagi ketika pola transfer data itu ditunjang melalui mobile internet yang bisa diakses dari sebuah telepon genggam.
Terjadi pergeseran dalam proses pengelolaan organisasi, dari fasilitas fisik menjadi jejaring (networking), dari fasilitas kertas menjadionline, dari siklus waktu berkala menjadi real time, dari ruang menjadi everywhere.
Kecanggihan sistim informasi dan komunikasi yang banyak diterapkan di berbagai organisasi ini telah menciptakan penyederhanaan (simplifikasi) pola manajemen kantor menjadi jauh lebih efisien dalam waktu dan biaya. Sistim database organisasi rapi, akurat, mudah diakses, dan aktual menjadi sebuah kekuatan organisasi untuk mengoptimalkan semua sumberdaya (resources) yang dimilikinya untuk meningkatkan layanan dan kinerja organisasi. Kecepatan akses, keakuratan, dan keaktualan informasi akan memudahkan setiap pelaku organisasi untuk merencanakan dan mengelola kegiatan layanannya, juga termasuk bagaimana bisa melayani stakeholders-nya dengan lebih baik dan lebih optimal.
Gereja memiliki banyak pemangku kepentingan (stakeholders), yang sangat berkepentingan terhadap “pelayanan yang seperti apa dan bagaimana” yang akan dilakukan oleh gereja. Di antara pemangku kepentingan itu adalah jemaat, pelayan jemaat, pendeta, karyawan gereja, masyarakat sekitar, gereja klasis/sinode, lembaga Kristen atau mitra GKI, lembaga masyarakat lainnya, maupun pemerintah. Untuk memenuhi harapan stakeholders, maka gereja sebagai organsisasi perlu mengoptimalkan semua sumberdaya yang dimilikinya agar bisa terlibat dan berpartisipasi dalam menggerakkan pelayanan yang dirancangnya. Sumberdaya yang terorganisir dalam sebuah sistim informasi gereja akan memudahkan para pelayan jemaat (pendeta, majelis jemaat, pelayan jemaat) dalam merencanakan, mengkoordinir, dan mengelola pelayanan dengan memanfaatkan sumberdaya-sumberdaya yang mudah diakses tersebut. Misalnya, jika sistim informasi gereja mampu memetakan karakteristik jemaat secara baik tentang: profesi, kompetensi, ketrampilan, talenta yang dimiliki oleh jemaat, maka jika gereja ingin merencanakan sebuah pelayanan yang membutuhkan keterlibatan jemaat, sistim informasi tersebut akan membantu pelayan jemaat di dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan jemaat-jemaat yang memiliki kompetensi atau profesi yang relevan dengan pelayanan yang akan dikerjakan. Melibatkan jemaat untuk melayani sesuai kompetensi dan ketrampilan yang dimiliki menjadi lebih mudah, dibandingkan ‘memaksa’ jemaat untuk ikut melayani di gereja, tetapi tidak sesuai dengan “apa” yang dimilikinya.
Membangun sistim informasi gereja bisa akan costly (membutuhkan biaya besar), bisa juga tidak, tergantung kepada tingkat kebutuhan gereja yang bersangkutan. Tetapi bahwa gereja perlu memanfaatkan semua kemajuan teknologi untuk membangun jejaring dengan jemaatnya adalah hal yang penting, terutama gereja di perkotaan. Secara sederhananya asalkan terhubung dengan internet saja, gereja sudah bisa berkomunikasi dan berinteraksi dengan jemaatnya dalam berbagai cara dan media di dalamnya, sehingga rencana-rencana pelayanan bisa dibagikan dan jemaat bisa digalang untuk terlibat dalam pelayanan yang direncanakannya tersebut. Dan dengan demikian gereja bisa melayani jemaat tanpa dibatasi ruang dan waktu. Kapan pun itu anggota jemaat dan jemaat bisa berkomunikasi dengan gerejanya.
Perkembangan teknologi komunikasi lainnya, seperti blackberry,smart phone android, tablet dan sebagainya, telah memungkinan proses komunikasi berlangsung secara cepat dan real time. Ada banyak cara atau teknologi untuk mengkomunikasikan pesan dengan cara yang cepat, dan bersifat massal itu. Teknologi ini bisa digunakan oleh gereja untuk menginformasikan berbagai berita tentang pelayanan dan kegiatan gereja, sehingga jemaat selalu terupdatedengan informasi pelayanan tersebut. Di jaman digital ini, agak aneh rasanya jika gereja kesulitan dalam membangun komunikasi virtualdengan jemaatnya, kecuali bahwa gereja tidak memiliki atau kurang peduli dengan sistim database jemaat.
Penggunaan teknologi multimedia (teks, audio, video, grafik, animasi) memungkinkan proses komunikasi menjadi jauh lebih menyentuh, menarik, interaktif, dan integratif, sehingga presentasi untuk mentransfer pengetahuan, pemahaman, maupun pergumulan pelayanan gereja akan mudah untuk ditangkap, dipahami, dan akhirnya dimiliki oleh seluruh jemaat gereja melalui keterlibatan mereka dalam aktivitas-aktivitas gereja. Baik dalam aktivitas peribadatan maupun pertemuan-pertemuan jemaat lainnya. Dengan penggunaan teknologi multimedia, kemampuan gereja dalam mentransfer visi pelayanan menjadi jauh lebih meningkat dan menguat, sehingga dukungan terhadap pelayanan gereja seharusnya juga semakin solid.`
