Oleh: Sigit Darmawan

Dunia terus berubah, dan gereja tidak terkecuali. Carey Nieuwhof, seorang penulis dan pemikir, telah mengidentifikasi beberapa tren yang akan mendisrupsi gereja di tahun 2024 dan tahun-tahun selanjutnya.
Carey Nieuwhof banyak berbicara tentang kepemimpinan, pertumbuhan, dan inovasi gereja. Baik melalui podcast-nya yang sangat populer, “The Carey Nieuwhof Leadership Podcast,” maupun sebagai konsultan dan pelatih kepemimpinan gereja.
Gereja perlu memahami tren ini, dan sadar bahwa gereja yang berani beradaptasi adalah yang akan bertahan.
Tren 1: Digitalisasi Ibadah
Salah satu tren terbesar yang diidentifikasi Nieuwhof adalah pergeseran ke arah digital. Pandemi COVID-19 memaksa banyak gereja untuk beralih ke ibadah online, dan tren ini tampaknya akan terus berlanjut. Ibadah digital tidak hanya memungkinkan akses yang lebih luas tetapi juga memberikan fleksibilitas bagi jemaat. Mereka yang sebelumnya tidak dapat hadir secara fisik kini dapat ikut serta dari mana saja.
Namun, ini juga berarti bahwa gereja harus berinvestasi dalam teknologi dan pelatihan untuk memastikan bahwa pengalaman ibadah online sama bermaknanya dengan yang dilakukan secara langsung.
Tren 2: Penekanan pada Komunitas Lokal
Meskipun digitalisasi penting, Nieuwhof juga menekankan pentingnya komunitas lokal. Gereja yang berhasil di masa depan adalah yang mampu membangun hubungan yang kuat di tingkat lokal, meskipun secara global terhubung. Pendekatan hibrid, yang menggabungkan pertemuan fisik dan virtual, akan menjadi kunci.
Gereja perlu mengadakan acara-acara komunitas, proyek pelayanan, dan kelompok kecil yang memungkinkan jemaat untuk terlibat secara langsung. Kehangatan dan kedekatan yang tercipta dari interaksi tatap muka tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi.
Tren 3: Kepemimpinan yang Fleksibel
Carey Nieuwhof juga mengamati bahwa kepemimpinan gereja perlu menjadi lebih fleksibel dan adaptif. Pemimpin gereja harus siap menghadapi perubahan yang cepat dan mampu mengarahkan komunitas mereka melalui ketidakpastian. Ini berarti memiliki visi yang jelas tetapi juga cukup fleksibel untuk menyesuaikan strategi sesuai kebutuhan.
Seperti dalam bisnis, gereja perlu mengadopsi pendekatan “agile”, di mana rencana jangka panjang dapat disesuaikan dengan cepat berdasarkan kondisi yang berubah. Pemimpin gereja harus bisa menyeimbangkan visi dengan realitas
Tren 4: Fokus pada Generasi Muda
Generasi muda, khususnya Gen Z dan milenial, memiliki pandangan yang berbeda tentang kehidupan dan spiritualitas. Gereja harus menemukan cara untuk tetap relevan bagi mereka. Ini bisa berarti mengubah cara pengajaran, menyertakan lebih banyak konten multimedia, dan memberikan ruang bagi generasi muda untuk berpartisipasi dalam kepemimpinan dan pelayanan.
Gereja yang dapat mendengarkan dan memahami kebutuhan generasi muda akan lebih mungkin bertahan dan berkembang. Mereka adalah masa depan gereja, dan tanpa keterlibatan mereka, gereja bisa kehilangan relevansinya.
Tren 5: Kesehatan Mental dan Emosional
Terakhir, Nieuwhof mencatat peningkatan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental dan emosional. Gereja harus menjadi tempat yang aman bagi jemaat untuk membicarakan dan menangani isu-isu ini. Program dukungan, konseling, dan kelompok pendukung dapat memainkan peran penting dalam hal ini.
Mengakui dan menangani kesehatan mental bukan hanya tentang menambah program baru, tetapi juga tentang mengubah budaya gereja untuk menjadi lebih empatik dan mendukung. Gereja harus menjadi tempat di mana setiap orang merasa didengar, diterima, dan dihargai.
Ksempatan untuk Bertumbuh
Mengikuti jejak pemikiran Carey Nieuwhof, kita melihat bahwa gereja secara global pada tahun-tahun mendatang akan dihadapkan pada berbagai tantangan dan peluang. Digitalisasi, fokus pada komunitas lokal, kepemimpinan fleksibel, perhatian pada generasi muda, dan kesehatan mental akan menjadi faktor kunci.
Bagaimana Gereja-gereja di Indonesia? Riset Bilangan Research Center (BRC) tahun 2020 menunjukkan percepatan adopsi teknologi dalam aktivitas gereja akibat pembatasan fisik selama pandemi. Dan digitalisasi ibadah ini masih dipertahankan setelah pandemi berakhir, terutama di gereja-gereja perkotaan.
Riset BRC lainnya tentang Generasi Z dan Milenial tahun 2021 menunjukkan bahwa 61.8% remaja dan kaum muda merasa gereja kurang relevan dengan kebutuhan mereka. Ini berarti gereja yang mampu menyentuh kebutuhan mereka, akan bertahan dan berkembang. Termasuk pergumulan kesehatan mental mereka.
Mampukah gereja-gereja di Indonesia mengadopsi tren agar bisa melayani secara efektif dan berdampak signifikan kepada jemaat?
Dalam situasi seperti itu, maka “Perubahan adalah kesempatan untuk tumbuh.” Dengan beradaptasi dan mengadopsi tren ini, gereja dapat terus menjadi tempat yang relevan dan berpengaruh dalam masyarakat.