
Oleh: Sigit Darmawan
Pusat Data Nasional (PDN) yang dikelola oleh Kemenkominfo mengalami serangan siber Ransomware sejak 20 Juni 2024 lalu. PDN adalah sekumpulan pusat data yang digunakan dengan sistem bagi pakai oleh instansi pusat dan pemda serta saling terhubung. Dari 282 layanan kementerian atau lembaga yang terdampak peretasan, hanya 44 yang punya back up data (Kompas 27 Juni 2024).
Di dunia yang semakin terhubung dan digital ini, keamanan data menjadi isu yang sangat krusial. Tidak jarang terjadi kebocoran data, peretasan, dan pencurian identitas yang merugikan banyak pihak. Di tengah ancaman keamanan data, sudah muncul sebuah inovasi yang menjanjikan: blockchain. Teknologi ini tidak hanya mengubah cara kita bertransaksi, tetapi juga menawarkan solusi revolusioner untuk mengamankan data.
Blockchain, awalnya dikenal sebagai teknologi di balik Bitcoin, kini menjelma menjadi inovasi kunci di dunia keamanan data.
Bayangkan sebuah buku besar yang mencatat setiap transaksi, tapi tidak ada satu pun pihak yang bisa mengubahnya tanpa persetujuan semua pihak yang terlibat. Inilah kekuatan blockchain. Setiap data yang masuk ke dalam blockchain dienkripsi dan disimpan dalam blok-blok yang terhubung satu sama lain. Begitu satu blok terisi, ia akan terkunci dan terhubung dengan blok berikutnya, membentuk rantai yang hampir mustahil untuk diubah atau dihapus.
Mengapa Blockchain dianggap sangat aman? Kuncinya ada pada desentralisasi dan transparansi.
Data tidak disimpan di satu tempat, melainkan di berbagai node yang tersebar di berbagai tempat. Setiap node memegang salinan lengkap dari blockchain, sehingga untuk meretas sistem ini, seorang peretas harus menguasai lebih dari setengah node yang ada—sebuah tugas yang nyaris mustahil.
Transparansi juga menjadi keunggulan utama. Setiap transaksi dapat dilihat oleh semua pihak yang terlibat, namun data pribadi tetap aman berkat enkripsi yang kuat.
Namun, tantangan adopsi teknologi blockchain adalah skalabilitas. Dengan semakin banyaknya transaksi, blockchain bisa menjadi sangat besar. Karenanya membutuhkan kapasitas penyimpanan yang tidak sedikit. Juga proses verifikasi akan semakin lambat karena memerlukan konsensus dari banyak pihak yang terhubung dalam jaringan.
Menurut laporan Statiska tahun 2022, adopsi teknologi Blockchain secara global baru 10% di industri. Tetapi lima tahun kedepan adopsi Blockchain ini akan mencapai 50%. Di Indonesia, teknologi blockchain sudah mulai digunakan di beberapa industri, termasuk otomotif. Sudah pula terbentuk Asosiasi Blockchain Indonesia.
Sekali lagi potensi blockchain dalam mengamankan data sangat besar. Bayangkan di sektor kesehatan, di mana data pasien bisa disimpan dengan aman dan hanya diakses oleh pihak yang berwenang. Di sektor keuangan, transaksi bisa dilakukan dengan lebih cepat dan aman, tanpa perlu perantara.
Di sektor pemerintahan, Blockchain bisa digunakan untuk memastikan integritas data pemilu atau sistim digital voting, identitas digital yang tidak bisa dipalsukan. Dan transparansi penggunaan anggaran publik dan kontrak-kontrak pemerintah
Blockchain bukan hanya tentang uang digital atau cryptocurrency. Ini tentang bagaimana kita bisa menciptakan sistem yang lebih aman, transparan, dan efisien. Ini tentang bagaimana kita bisa membangun kepercayaan di dunia digital yang sering kali dipenuhi dengan ketidakpastian dan kerawanan data.
Meskipun sekarang masih dalam tahap awal, tapi Blockchain menawarkan potensi besar untuk meningkatkan transparansi dan keamanan data di berbagai sektor. Ini akan mengubah secara signfikan cara industri dan pemerintahan beroperasi. Dan membuat sistem yang dapat diandalkan.
Akhirnya, mengamankan data dengan blockchain adalah tentang masa depan. Tentang bagaimana kita bisa menciptakan dunia digital yang lebih baik, lebih aman, dan lebih transparan.
Sudah saatnya pemerintah meninggalkan cara-cara lama yang rentan terhadap kebocoran dan peretasan. Dan Blockchain dengan segala potensinya adalah solusinya.