Oleh: Sigit Darmawan

Regenerative Artificial Intelligence adalah salah satu terobosan terbesar saat ini. Kecerdasan buatan yang mampu belajar, beradaptasi, dan menciptakan sesuatu yang benar-benar baru. Tapi, di balik potensi luar biasa ini, ada konflik etis yang muncul dari teknologi ini.
Pertama, masalah hak cipta. Ketika AI menciptakan karya seni atau musik, siapa yang memiliki hak atas karya tersebut? Apakah pemrogram yang merancang AI, perusahaan yang memilikinya, atau AI itu sendiri? Ini adalah wilayah abu-abu yang memerlukan regulasi yang jelas dan adil.
Di Juni 2024, BBC melaporkan bahwa perusahaan rekaman terbesar di dunia, Sony Music dan Universal Music Group, menuntut dua perusahaan start-up AI, Suno dan Udio, atas dugaan pelanggaran hak cipta.
Sony dan Universal mengklaim bahwa perangkat lunak Suno dan Udio, telah mencuri karya musik mereka. Sekitar 10 juta orang telah menggunakan perangkat lunak Suno untuk membuat musik. Keduanya dituntut kompensasi sebesar $150.000 (£118.200) untuk setiap karya yang dihasilkannya.
Kedua, masalah privasi . Regenerative AI memerlukan data dalam jumlah besar untuk belajar dan berkembang. Namun, bagaimana kita melindungi data pribadi di era di mana AI bisa mengakses dan menganalisis informasi dengan cepat? Perlindungan data harus menjadi prioritas utama, dengan regulasi yang ketat dan transparan.
Tahun 2020, IBM dituntut oleh Tim Janecyk, seorang Fotographer, atas penggunaan foto-foto dirinya dan orang lain yang terunggah di situs berbagi foto Flikr.
Menurut Janecyk, IBM telah mengkodekan sebagian dari foto-foto tersebut untuk data “DiF” (Diversity in Faces). Dan data tersebut ditawarkan kepada para peneliti sebagai alat untuk membantu mengurangi bias pada model-model pengenalan wajah (face recognition).
IBM harus menghadapi tuntutan di bawah Undang-undang Privasi Informasi Biometrik Illinois (BIPA) sebesar $1.000 hingga $5.000 per pelanggaran biometrik setiap penduduk Illinois yang dikumpulkan, diambil, diterima, atau diperoleh IBM dari foto-foto dalam DiF tersebut.
Ketiga, risiko bias dalam AI. Meskipun AI dirancang untuk netral, data yang digunakan untuk melatihnya bisa mengandung bias yang tidak disengaja. Ini bisa berdampak negatif, misalnya dalam rekrutmen tenaga kerja.
Tahun 2017, Amazon menghentikan sistim AI untuk rekrutmen tenaga kerja karena algoritmanya mendiskriminasi perempuan. Terutama untuk pekerjaan teknis yang berhubungan dengan STEM (Sains, teknologi, teknik, matematika).
Sistem AI tersebut menghukum resume pelamar perempuan dengan peringkat yang rendah. Ini karena data sebelumnya perempuan kurang terwakili dalam peran teknis. Sistem AI mengira bahwa pelamar laki-laki lebih disukai.
Dalam kasus lain, sistem AI di Rumah Sakit AS telah mendiskriminasi kebutuhan perawatan pasien kulit hitam. Algoritma yang dirancang telah menyebabkan perbedaan perlakuan antara pasien kulit hitam dan kulit putih dalam skor risiko, biaya perawatan, dan syarat untuk perawatan ekstra.
Kita perlu memastikan bahwa AI dikembangkan dan diuji dengan cermat untuk menghindari bias dan memastikan keadilan bagi semua orang.
Terakhir, kekhawatiran tentang penggantian pekerjaan. AI yang mampu melakukan tugas kreatif dan kompleks bisa menggantikan peran manusia di banyak sektor. Mesin AI ini tidak lelah, tidak butuh istirahat, dan tidak menuntu upah. Efisiensi, produktivitas, dan biaya operasional yang rendah menjadi daya tarik industri.
Kita harus memikirkan cara untuk mengatasi dampak ini, mungkin dengan menciptakan peluang pekerjaan baru yang didukung oleh teknologi, dan memastikan bahwa pekerja memiliki keterampilan yang relevan di masa depan.
Regenerative AI adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia menawarkan potensi besar untuk inovasi dan kemajuan.
Di sisi lain, ia menimbulkan tantangan etis yang harus kita hadapi dengan bijak.
Kita perlu regulasi yang kuat, transparan, dan adil untuk mengarahkan perkembangan teknologi ini ke arah yang benar.
Kita berada di ambang revolusi baru. Dan seperti setiap revolusi, ada risiko dan peluang.
Dengan pemikiran yang hati-hati dan tindakan yang tepat, kita bisa memanfaatkan potensi regenerative AI tanpa mengorbankan nilai-nilai etis yang kita pegang. Menjelajahi batas baru ini harus dengan kebijaksanaan.