Oleh: Sigit Darmawan

Kadang, kita ini terlalu fokus ke satu hal. Saat lagi mengejar efisiensi, kita lupa berinovasi. Saat sedang semangat berinovasi, kita abaikan fondasi organisasi yang sudah susah payah dibangun.
Disinilah masalahnya dalam organisasi—padahal, di zaman yang penuh disrupsi seperti sekarang, kita butuh dua-duanya. Bukan sekadar bisa multitasking, tapi lebih dari itu. Kita butuh jadi ambidextrous.
Ambidextrous? Istilah ini memang agak berat di lidah. Singkatnya, ini adalah kemampuan untuk menggunakan dua tangan sama baiknya. Dalam kepemimpinan, artinya pemimpin harus bisa menjalankan dua peran sekaligus: mendorong inovasi sembari menjaga stabilitas operasional. Jelas berat. Tapi di sinilah seni memimpinnya.
Konsep ambidextrous leadership pertama kali diperkenalkan oleh Robert Duncan tahun 1976 dalam manajemen untuk menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menjalankan dua fokus yang saling bertolak belakang: eksploitasi dan eksplorasi.
Konsep ini kemudian lebih dikenal luas dan dikembangkan lebih lanjut oleh Michael Tushman dan Charles O’Reilly pada akhir 1990-an. Dalam buku mereka “Winning Through Innovation” (1997), Tushman dan O’Reilly memperkenalkan gagasan ambidextrous organization, yaitu organisasi yang mampu mengelola dua fokus tersebut secara bersamaan.
Mereka menemukan bahwa perusahaan yang sukses sering kali adalah perusahaan yang bisa menjalankan proses eksplorasi (inovasi) dan eksploitasi (efisiensi) secara seimbang—dan inilah yang membutuhkan ambidextrous leadership.
*
Inovasi dan Efisiensi: Harus Sejalan! Seorang pemimpin ambidextrous itu bukan cuma jago membuat produk atau inovasi baru. Dia juga harus bisa menjaga agar organisasi tetap berjalan lancar. Di satu sisi, inovasi itu penting. Tapi di sisi lain, stabilitas juga nggak bisa ditawar.
Sebuah organisasi hanya berinovasi tanpa memikirkan efisiensi operasional, seperti mobil balap yang terus dipacu kencang tapi tanpa rem. Hasilnya? Ya, bisa-bisa menabrak dan hancur.
Begitu juga sebaliknya. Kalau terlalu fokus ke efisiensi tapi lupa berinovasi, ya bersiaplah digilas oleh kompetisi. Kita bisa melihat perusahaan besar yang dulunya berjaya tapi sekarang hilang entah ke mana—Kodak, Nokia, Blockbuster.
Apa yang salah? Mereka terlalu fokus mengeksploitasi apa yang sudah ada tanpa berani mengeksplorasi yang baru.
*
Menurut Tushman, menjadi pemimpin ambidextrous adalah:
Pertama, Berani Inovasi, Tapi Jangan Lupa Kontrol: Berani ambil risiko itu perlu, tetapi jangan sampai lepas kontrol. Pemimpin harus mendorong tim untuk bereksperimen, mencoba hal-hal baru, bahkan kalau harus gagal sekalipun. Tapi, dia juga harus tahu kapan harus menarik rem. Jangan sampai inovasi justru membuat kacau operasional.
Kedua, Tim yang Bisa Berlari Kencang, Tapi Juga Siap Stabil: Pemimpin ambidextrous tahu bahwa dia butuh dua jenis tim: tim yang bisa berlari kencang untuk mengejar inovasi, dan tim yang bisa menjaga agar mesin organisasi tetap berjalan mulus. Mari belajar dari Amazon. Di satu sisi, mereka terus berinovasi, mulai dari AWS, Prime, sampai layanan drone delivery. Tapi di sisi lain, operasional e-commerce mereka tetap stabil dan efisien, tanpa kehilangan fokus.
Ketiga, Ciptakan Ruang untuk Gagal: Salah satu kunci kepemimpinan ambidextrous adalah menciptakan ruang di mana inovasi boleh gagal. Sebab, inovasi tanpa risiko kegagalan itu seperti mimpi di siang bolong. Gagal itu bagian dari proses.
Keempat, Pemimpin yang Fleksibel:Di era disrupsi, pemimpin tidak bisa terpaku pada satu gaya kepemimpinan saja. Pemimpin perlu punya fleksibilitas untuk menjaga organisasi tetap adaptif di tengah perubahan yang cepat.
**
Ignatius Jonan adalah satu contoh pemimpin ambidextrous di Indonesia. Kepemimpinannya di KAI menunjukkan kemampuan untuk menjaga keseimbangan antara inovasi dan efisiensi, dua elemen utama dalam ambidextrous leadership.
Ignatius Jonan mampu mengelola risiko yang bijak, serta meningkatkan kualitas layanan tanpa mengabaikan stabilitas operasional.
Ia berhasil memodernisasi KAI, meningkatkan efisiensi, serta memberikan pengalaman pelanggan yang lebih baik, sambil tetap mempersiapkan perusahaan untuk menghadapi tantangan masa depan.
KAI di bawah Jonan adalah contoh nyata bagaimana seorang pemimpin ambidextrous dapat mengubah organisasi menjadi lebih fleksibel dan adaptif dalam menghadapi disrupsi.
*
Sekali lagi fleksibilitas itu penting dalam organisasi. Seperti permainan sepak bola, kita harus tahu kapan harus menyerang, dan kapan harus bertahan. Organisasi juga sama. Ada momen di mana kita harus fokus mendorong inovasi, mencari terobosan baru, tapi ada juga momen di mana kita harus memastikan operasional tetap berjalan sesuai jalur. Dan yang terpenting, keduanya harus dilakukan secara seimbang.
Kepemimpinan ambidextrous bukan soal memilih antara inovasi atau efisiensi. Ini adalah soal menggabungkan keduanya, menjadi pemimpin yang bisa menyeimbangkan risiko dan stabilitas. Karena, di tengah dunia yang cepat berubah ini, hanya mereka yang bisa beradaptasi yang akan bertahan.
Di dunia yang semakin kompleks ini, kepemimpinan bukan soal menjadi superman yang bisa segalanya. Tapi, soal membangun tim yang bisa saling melengkapi. Yang penting bukan seberapa cepat kita berlari, tapi seberapa kuat kita bisa bertahan sembari terus berinovasi.
Menjadi pemimpin ambidextrous itu bukan pilihan. Ini adalah kebutuhan. Di semua organisasi.