Oleh: Sigit Darmawan

(Catatan kecil yang tertinggal dari webinar tentang “Bethlehem atau Migdal Eder”)
70 Wajah Torah adalah salah satu konsep yang paling mendalam dalam tradisi Yahudi. Sebuah prinsip yang mengingatkan kita bahwa Firman Tuhan adalah sebuah permata dengan banyak sisi.
Setiap sudutnya memantulkan cahaya yang berbeda tergantung bagaimana kita melihatnya. Tetapi meskipun berbeda, setiap pantulan tetap berasal dari sumber yang sama.
Dalam masyarakat modern yang penuh keberagaman—di tempat kerja, gereja, atau bahkan di ruang makan keluarga—kebenaran sering kali terlihat berbeda tergantung dari sudut pandang siapa kita mendengarkannya. Dan 70 Wajah Torah akan menjadi lebih relevan dari sebelumnya.
Dalam tradisi Yahudi, 70 Wajah Torah (Shiv’im Panim la’Torah) berarti bahwa setiap bagian dari Taurat memiliki 70 cara untuk dipahami. Angka 70, simbol kesempurnaan.
Angka ini bukan hanya menunjukkan keragaman tafsir, tetapi juga fleksibilitas Firman Tuhan. yang dapat berbicara kepada setiap generasi, budaya, dan situasi.
Jadi, meskipun membaca ayat yang sama dari Firman Tuhan, kita akan menemukan sesuatu yang baru dan berbeda—karena pengalaman hidup kita berbeda.
***
Bagaimana prinsip ini diterapkan dalam masyarakat kita yang kompleks? Kita berada di dunia di mana keberagaman adalah realitas yang tak terhindarkan.
70 Wajah Torah menjadi panduan yang indah untuk berinteraksi dengan cara yang harmonis.
Dunia kerja, misalnya, menjadi melting pot dari berbagai budaya, agama, dan pandangan hidup. Prinsip 70 Wajah Torah mengajarkan bahwa tidak ada satu cara yang mutlak benar untuk memandang sesuatu.
Dalam kolaborasi tim, semua ide dihargai, bahkan yang tampaknya tidak konvensional. Dan inovasi-inovasi baru sering muncul dalam pola pikir seperti ini.
Di dalam gereja, perbedaan teologis sering menjadi tantangan. Tetapi, jika kita melihat melalui lensa 70 Wajah Torah, perbedaan ini bukanlah ancaman, melainkan kekayaan.
Dalam praktiknya, maka dialog antar denominasi diperlukan untuk memahami bagaimana setiap tradisi melihat aspek berbeda dari Tuhan yang sama.
Di Keluarga, prinsip 70 Wajah Torah membangun empati dan pemahaman satu sama lain. Setiap anggota keluarga memiliki cara pandang dan prioritas yang berbeda.
Prinsip ini membantu kita mendengarkan dan memahami orang lain tanpa terburu-buru menghakimi.
Saat terjadi konflik antar generasi, prinsip ini mendorong dialog dengan memahami konteks setiap pihak.
Demikian juga dalam masyarakat yang semakin terfragmentasi oleh perbedaan politik, agama, dan ideologi, 70 Wajah Torah mengajarkan bahwa kebenaran dapat ditemukan dari berbagai sudut.
Karena itu penting adanya praktik menciptakan ruang untuk dialog yang sehat dan saling belajar. Misalnya dalam komunitas lintas agama, prinsip ini membantu kita menemukan kesamaan nilai seperti kasih, keadilan, dan perdamaian, tanpa mengorbankan keyakinan masing-masing.
***
Dalam dunia yang semakin terhubung tetapi juga semakin terpolarisasi, 70 Wajah Torah mengajarkan tiga hal penting:
Pertama, Kerendahan Hati. Mengakui bahwa kita tidak memiliki semua jawaban dan selalu ada sesuatu yang bisa kita pelajari dari orang lain.
Kedua, Keterbukaan. Bersedia mendengar dan memahami perspektif yang berbeda, bahkan yang bertentangan dengan pandangan kita.
Ketiga, Kesatuan dalam Keberagaman. Melihat keberagaman bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai cerminan kekayaan hikmat Tuhan.
Dalam masyarakat modern yang penuh tantangan—dari konflik politik hingga krisis lingkungan—prinsip 70 Wajah Torah menawarkan pendekatan yang bijaksana. Ia mengingatkan kita bahwa perbedaan tidak harus memisahkan, tetapi bisa menjadi cara kita bersama-sama mencari hikmat yang lebih besar.
Di dunia kerja, gereja, keluarga, atau masyarakat, kita diajak untuk menatap wajah-wajah lain dari kebenaran, mencari pemahaman baru, dan menghidupkan kasih Tuhan dalam segala interaksi kita.
Karena pada akhirnya, seperti berlian yang memantulkan banyak cahaya, setiap wajah yang kita lihat membawa kita lebih dekat kepada Sumber yang sama.
Mungkin, di zaman ini, dunia sedang mencari lebih banyak orang yang mau melihat hikmat Tuhan dengan cara ini—bukan dengan rasa takut terhadap perbedaan, tetapi dengan rasa hormat terhadap keberagaman.