Oleh: Sigit Darmawan

Ketika membahas teologi, kita kerap terjebak dalam labirin teori dan doktrin. Namun, teologi seharusnyalah nyata, membumi, dan relevan. Ia bukan hanya konsep di menara gading, tetapi pelita yang menuntun hidup kita, termasuk saat menghadapi salah satu tantangan terbesar zaman ini: krisis lingkungan.
Krisis lingkungan bukan sekadar soal cuaca ekstrem atau rusaknya ekosistem. Ini juga soal iman kita, soal tanggung jawab manusia terhadap ciptaan Tuhan.
Indonesia, misalnya, menghadapi masalah besar seperti deforestasi, polusi plastik, dan krisis air. Ini bukan hanya masalah lokal, tetapi cerminan dosa kolektif manusia terhadap alam—keserakahan, ketamakan, dan pengabaian terhadap harmoni ciptaan.
Continue reading