Green Theology: Respon Kekristenan Terhadap Krisis Lingkungan


Oleh: Sigit Darmawan

Ketika membahas teologi, kita kerap terjebak dalam labirin teori dan doktrin. Namun, teologi seharusnyalah nyata, membumi, dan relevan. Ia bukan hanya konsep di menara gading, tetapi pelita yang menuntun hidup kita, termasuk saat menghadapi salah satu tantangan terbesar zaman ini: krisis lingkungan.

Krisis lingkungan bukan sekadar soal cuaca ekstrem atau rusaknya ekosistem. Ini juga soal iman kita, soal tanggung jawab manusia terhadap ciptaan Tuhan.

Indonesia, misalnya, menghadapi masalah besar seperti deforestasi, polusi plastik, dan krisis air. Ini bukan hanya masalah lokal, tetapi cerminan dosa kolektif manusia terhadap alam—keserakahan, ketamakan, dan pengabaian terhadap harmoni ciptaan.

Di sinilah Green Theology atau Teologi Hijau muncul sebagai refleksi dan jawaban panggilan iman. Bagi Celia Deane-Drummond, seorang profesor dan teolog ekologi, Universitas Notre Dame Amerika, krisis lingkungan adalah tantangan spiritual.

Dalam bukunya Eco-Theology (2008), ia menegaskan bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar tanggung jawab moral, tetapi ekspresi iman Kristen yang sejati.

“Menguasai bumi” (Kejadian 1:28) bukan berarti mengeksploitasi, melainkan merawat dan melestarikan, seperti seorang gembala menjaga domba-dombanya.

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Bambang Noorsena, yang menekankan bahwa alam adalah manifestasi kasih Tuhan. Dalam buku “Ekoteologi: Membaca Alam dengan Iman” (2021), Noorsena mengajak kita belajar dari kearifan lokal Indonesia, seperti konsep Tri Hita Karana di Bali, yang menyeimbangkan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan.

***

Gereja sebagai Agen Perubahan

Gereja-gereja di berbagai belahan dunia mulai bergerak sebagai respon terhadap krisis lingkungan. Di Inggris, The Green Christian Movement memadukan teologi dengan aksi nyata, seperti kampanye “Joy in Enough” yang mendorong pengurangan jejak karbon dengan mengembangkan panduan praktik ramah lingkungan bagi gereja-gereja .

Di Filipina, Konferensi Waligereja aktif dalam reboisasi, konservasi hutan bakau, kampanye menentang proyek tambang yang merusak lingkungan. Di Amerika, Evangelical Environmental Network meluncurkan kampanye “Creation Care,” dan aktif dalam advokasi politik. Sementara Laudato Si’ Movement di Brasil melibatkan gereja dalam reboisasi, edukasi, dan advokasi masyarakat adat dari deforestasi.

Patriark Bartholomew I, dikenal sebagai “Green Patriarch,” memimpin gereja Ortodoks dalam menjaga wilayah-wilayah rentan kerusakan lingkungan seperti Laut Hitam dan Sungai Danube. Di Korea Selatan, Ecological Church Network memperkenalkan “Green Church Certification” untuk mendorong gereja lebih ramah lingkungan.

Gerakan Lausanne juga menegaskan pentingnya “creation care” dalam misi Kristen, sebagaimana dinyatakan dalam Cape Town Commitment (2010). Bahkan, World Council of Churches (WCC) memasukkan isu lingkungan dalam agenda globalnya melalui kampanye The Pilgrimage of Justice and Peace (2013), menyerukan gereja untuk beraksi nyata demi keadilan ekologis.

***

Krisis lingkungan ini mengingatkan kita akan panggilan sejati sebagai penjaga ciptaan. Gereja, dengan segala pengaruhnya, memiliki peluang besar untuk memimpin dalam perubahan ini—mengubah cara berpikir, hidup, dan bertindak.

Green Theology bukan sekadar ajakan untuk “hijau,” tetapi panggilan untuk menyelaraskan iman kita dengan tanggung jawab kepada Tuhan dan ciptaan-Nya.

Melalui teologi ini, kita diajak merenungkan kembali makna pemulihan, bukan hanya jiwa manusia tetapi juga seluruh ciptaan. Harapan eskatologis kita bukan tentang melarikan diri dari dunia yang rusak, tetapi tentang berpartisipasi dalam pemulihan bumi yang telah dijanjikan oleh Sang Pencipta.

Iman yang hidup adalah iman yang peduli, dan peduli berarti bertindak—demi dunia ini, demi generasi mendatang, dan demi kemuliaan Tuhan.

Leave a comment