Oleh: Sigit Darmawan
(Telaah Kritis Buku Haidt)

I.
Buku The Anxious Generation karya Profesor Jonathan Haidt, adalah satu buku terlaris di New York Times sejak diterbitkan pada maret 2024. Haidt sendiri adalah seorang psikolog sosial dan pembicara TED.
Dalam bukunya, ia mengupas fenomena meningkatnya gangguan kecemasan dan depresi di kalangan remaja di Amerika. Banyak fakta yang tersaji tentang bagaimana generasi muda–khususnya Gen Z–terperangkap dalam siklus kecemasan yang semakin meningkat.
Buku ini mengeksplorasi dengan tajam tentang bagaimana teknologi, media sosial, dan budaya zaman modern telah menciptakan generasi cemas atau gelisah (anxious generation) —terutama bagi Gen Z.
Buku ini ditulis berdasarkan data, riset psikologis, dan analisis sosial di Amerika tentang peningkatan kasus kecemasan, depresi, dan bunuh diri secara drastis di kalangan anak muda dalam dua dekade terakhir.
Sejak awal 2010-an, kesehatan mental remaja mengalami penurunan signifikan. Data menunjukkan lonjakan tajam dalam diagnosis gangguan kecemasan depresi, melukai diri sendiri, dan bunuh diri di kalangan remaja.
Fenomena ini terjadi bersamaan dengan meluasnya penggunaan smartphone dan media sosial.
Tidak perlu waktu lama, buku ini segera menjadi buku yang paling populer selama 23 minggu berturut-turut di New York Times. Dan menjadikan buku ini seperti sebuah cermin besar untuk menatap wajah dunia yang telah kita ciptakan.
Influencer Oprah Winfrey dan Jessica Seinfeld, penulis dan filantropis, turut mendorong kepopuleran buku ini. Bahkan Gubernur Arkansas, Sarah Huckabee Sanders mengirimkan salinan buku kepada gubernur di seluruh negara bagian AS untuk menjadikannya rujukan dalam berbagai kebijakan dalam mengatasi krisis kesehatan mental di Amerika.
Buku Haidt ini telah berhasil mempengaruhi pemerintah Amerika, Kanada, Australia, Inggris dan beberapa negara lain di Eropa untuk membuat kebijakan dan regulasi baru terkait dengan eksploitasi platform digital bagi generasi Z.
II.
Menakar Diagnosa Haidt: Apakah Semua Salah Teknologi?
Haidt memulai dengan sebuah premis: peningkatan kecemasan pada generasi muda berbanding lurus dengan pertumbuhan media sosial. Secara data, korelasinya tampak jelas. (Lihat data-data dibagian akhir dari tulisan ini).
Semakin lama waktu yang dihabiskan di depan layar, semakin besar risiko depresi yang dialami oleh para remaja ini. Haidt menjelaskan bagaimana teknologi media sosial, yang awalnya dirancang untuk mempererat hubungan, telah menjadi ajang “kompetisi kesempurnaan”.
Generasi muda tak lagi merasa cukup dengan dirinya, selalu membandingkan, dan takut penolakan dari orang lain. “Like” dan komentar seolah menjadi barometer nilai mereka.
Namun, di sinilah letak pertanyaan mendasarnya: apakah teknologi benar-benar aktor utama, ataukah ia hanya katalis dari masalah yang lebih kompleks?
Haidt seolah mengesampingkan pengaruh perubahan struktural lain—ekonomi yang semakin sulit, polarisasi sosial, dan sebagainya.
Meskipun dalam argumennya, teknologi menjadi salah satu penyebab utama yang dominan dari peningkatan kecemasan para remaja. Namun bisa jadi kecemasan generasi muda adalah akumulasi dari ketidakpastian dunia yang diwariskan oleh generasi sebelumnya.
Tetapi Haidt membawa kita menelusuri perubahan pola asuh, lingkungan pendidikan, hingga transisi budaya yang mempersempit ruang anak muda untuk berbuat salah dan belajar dari kegagalan.
“Budaya Kepompong”: Apakah Ini Realitas Global?
Salah satu poin menarik dan mengugah dari Haidt adalah tentang safetyism, atau apa yang ia sebut sebagai “budaya kepompong.” Ia berpendapat bahwa generasi ini terlalu dilindungi, terlalu dimanja, sehingga tidak siap menghadapi kesulitan hidup.
Generasi yang rapuh menghadapi dunia nyata. “Generasi ini diajarkan untuk takut, bukan untuk berani”, tulis Haidt.
Di satu sisi, argumen ini terasa relevan untuk masyarakat Barat yang kian mengutamakan “zona aman” secara emosional dan fisik. Namun, apakah ini berlaku di negara-negara berkembang seperti Indonesia?
Meskipun sangat mungkin fenomena di Amerika juga terjadi disini. Lihat saja bagaimana para remaja kita lebih banyak menunduk ke layar daripada menatap dunia.
Namun di negeri ini, anak-anak muda masih harus menghadapi kenyataan hidup yang keras—ketidakpastian pekerjaan, pendidikan yang mahal, hingga infrastruktur sosial yang tak selalu mendukung.
Apakah kita bisa benar-benar menyebut mereka terlalu dilindungi? Ataukah kita justru melihat sisi lain: generasi muda yang berjuang di tengah tekanan tanpa cukup dukungan emosional?
III.
Solusi Haidt: Relevan atau Utopis?
Dalam bagian akhir, Haidt menawarkan serangkaian solusi, mulai dari pengurangan penggunaan media sosial hingga reformasi pola asuh.
Haidt juga berbicara tentang pentingnya keberanian dan ketangguhan. Tapi bagaimana kita membangun keberanian di tengah sistem yang sering kali tidak adil? Apakah cukup dengan reformasi budaya di tingkat keluarga, ataukah kita membutuhkan perubahan yang lebih mendasar dalam struktur sosial?
Haidt mengajak orang tua, pendidik, dan pemimpin untuk membangun budaya keberanian dan resiliensi di kalangan generasi muda. Haidt percaya, kuncinya ada pada memberikan ruang aman untuk gagal dan belajar.
Haidt juga menekankan pentingnya “detoks” dari media sosial dan mengembalikan interaksi nyata. Meskipun di Indonesia banyak anak muda yang bergantung pada internet untuk pendidikan atau mencari penghasilan.
Membaca buku ini adalah seperti menampar diri sendiri. Ada data dan narasi yang tajam, tetapi juga ada ruang kosong yang perlu kita isi dengan konteks lokal. Haidt berhasil menggambarkan generasi muda sebagai korban zaman, tetapi pertanyaannya adalah: siapa yang sebenarnya bertanggung jawab?
Mungkin, solusi Haidt yang sebenarnya adalah introspeksi kolektif. Bukan hanya teknologi, tetapi cara kita mendidik, memimpin, dan hidup di dunia ini yang perlu dipertanyakan.
Generasi muda, seperti yang digambarkan Haidt, bukanlah masalah. Mereka adalah cerminan dari dunia yang kita bangun—dan itu, sejujurnya, jauh lebih menggelisahkan.
Buku ini patut dibaca, tetapi juga perlu dikritisi. Karena di balik data dan argumen Haidt, ada ruang untuk perdebatan: apakah kita, sebagai pembaca, cukup berani menghadapi kenyataan bahwa perubahan tidak hanya membutuhkan pengakuan, tetapi juga aksi nyata?
Kita perlu bertanggung jawab membimbing mereka keluar dari jeratan kecemasan dan kegelisahan.
Referensi Data:
https://www.anxiousgeneration.com/