by: sbdarmawan

I.
Batavia, kota yang pernah menjadi pusat peradaban kolonial di Hindia Belanda, menyimpan lebih dari sekadar kisah perdagangan dan kekuasaan.
Di antara jalan-jalan tua dan bangunan megah yang masih berdiri, tersembunyi cerita tentang sebuah kelompok yang hidup di bawah bayang-bayang misteri: Freemason
Sabtu, 18 Januari lalu, kami menjalani waktu akhir pekan dengan aktivitas yang berbeda dari biasanya. Kami bergabung dengan 13 orang dari komunitas Walk Indies (IG: walkindies_jakarta) dari beragam profesi, melakukan perjalanan eksplorasi “The Secret Society of Batavia“.
(Ini perjalanan kedua kami menyusuri sejarah batavia. Perjalanan pertama bersama teman-teman alumni ITB, menyusuri jejak sejarah China Benteng di Tangerang).
Kami berjalan kaki selama lima jam, lebih dari 10.000 langkah, menelusuri jejak mereka yang tersembunyi di sudut-sudut kota.
II.
Freemason adalah sebuah organisasi persaudaraan yang berakar pada abad ke-14 di Eropa. Ketika bangunan megah seperti katedral dan istana membutuhkan arsitektur tingkat tinggi, para tukang batu profesional (stonemason) mulai membentuk kelompok kerja (guild) untuk saling melindungi, berbagi keterampilan, dan menetapkan standar kerja.
Namun, pada abad ke-17, organisasi ini berkembang menjadi sebuah komunitas filosofis yang terbuka untuk berbagai profesi dan lebih fokus pada pengembangan moral, etika, dan spiritual anggotanya.
Pada tahun 1717, Grand Lodge of England didirikan, dan menjadikan Freemason sebagai organisasi resmi. Dari sini, Freemason berkembang menjadi gerakan global.
Freemason percaya pada nilai-nilai universal seperti kebebasan berpikir, persaudaraan, dan pencarian kebenaran. Mereka menggunakan banyak simbol seperti kompas, penggaris, mata dalam segitiga dan sebagainya untuk menyampaikan filosofi mereka.
Meski sering dikaitkan dengan kerahasiaan dan teori konspirasi, gerakan ini meninggalkan jejak yang signifikan di berbagai bidang.
Revolusi Amerika diinspirasi oleh nilai-nilai Masonik tentang kebebasan dan hak individu di Deklarasi Kemerdekaan Amerika. Tokoh George Washington dan Benyamin Franklin adalah seorang Freemason.
Jejak Masonik juga muncul dalam revolusi Perancis melalui slogan Liberte, Egalite, dan Fraternite (Kebebasan, Kesetaraan, Persaudaraan).
Freemason berkontribusi dalam pendidikan dan ilmu pengetahuan. Tokoh Masonik seperti Isaac Newton dan Jean Theophile Desaguliers mendorong kemajuan ilmu pengetahuan.
Freemason pertama kali masuk ke Indonesia melalui kolonial Belanda pada abad ke-18. Pada tahun 1762, loge (baca: loji) — tempat berkumpul para freemason– pertama didirikan di Batavia dengan nama “La Choisie” (Yang Terpilih).
Para pendirinya adalah pejabat VOC, pedagang, dan tokoh intelektual kolonial yang sudah menjadi anggota Freemason di Belanda.
Gerakan ini berkembang pesat di Hindia Belanda, dengan loge-loge yang tersebar di kota-kota besar seperti Batavia, Semarang, dan Surabaya.
Salah satu loge terbesar adalah Loji De Ster in het Oosten (Bintang di Timur) di Batavia, yang menjadi pusat aktivitas Freemason.
Meskipun sebagian besar anggotanya adalah orang Eropa, beberapa tokoh pribumi terdidik seperti Raden Saleh juga bergabung dengan gerakan ini.
Freemason memainkan peran penting dalam pendidikan, seni, dan reformasi sosial. Mereka mendirikan sekolah, rumah sakit, dan institusi budaya yang bertujuan untuk memajukan masyarakat.
Namun, pada tahun 1962, Presiden Soekarno melarang aktivitas Freemason di Indonesia karena dianggap bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.
Sejak itu, organisasi ini tidak lagi aktif secara resmi di Indonesia, meskipun jejak mereka tetap bertahan dalam simbol dan bangunan bersejarah.
III.
Langkah pertama membawa kami ke Museum Prasasti, sebuah kompleks pemakaman modern tertua di dunia yang didirikan pada tahun 1795. Museum ini terletak di Jalan Tanah Abang, Petojo.
Tempat ini tidak hanya menjadi saksi bisu bagi kaum elit bangsawan dan para kolonial yang pernah hidup di Batavia, tetapi juga menyimpan simbol-simbol rahasia yang erat kaitannya dengan Freemason.
Kami berdiri di depan makam J.H.R. Kohler, seorang jenderal Belanda yang tewas dalam Perang Aceh. Pada nisannya, terukir obor terbalik dan Ouroboros, simbol ular yang menggigit ekornya sendiri.
“Obor terbalik melambangkan kematian fisik, tetapi jiwa yang abadi,” tutur pemandu kami. Ouroboros, tambahnya, melambangkan siklus kehidupan tanpa akhir—sebuah konsep yang sering muncul dalam filosofi Masonik.
Museum Prasasti adalah salah satu pemakaman modern tertua di dunia, dan menjadi inspirasi bagi banyak pemakaman modern di Eropa.
Tapi bagi kami, ini adalah awal dari perjalanan menelusuri rahasia yang terukir dalam batu. Banyak simbol -simbol Freemason yang terukir dengan sangat jelas di pemakaman tersebut.
Langkah kami berikutnya menuju Museum Nasional, atau yang dikenal sebagai Gedung Gajah. Di sini, koleksi yang terlihat biasa ternyata menyimpan cerita tersembunyi.
Salah satu artefak yang menarik perhatian kami adalah ukiran-ukiran yang menunjukkan simbol-simbol geometris, seperti segitiga dan matahari—simbol yang sering diasosiasikan dengan Freemason. Simbol yang juga ada di pemakaman Museum Prasasti.
Museum Nasional juga berdiri di kawasan yang dahulu menjadi pusat administrasi kolonial, di mana banyak anggota Freemason berkumpul.
Meski tidak secara eksplisit disebutkan, museum ini menjadi pengingat akan pengaruh mereka dalam membentuk wajah kota.
Dari Musium Nasional kami ke Willemskerk, yang kini dikenal sebagai Gereja Immanuel. Gereja ini adalah hasil karya para arsitek Freemason yang menggunakan gaya Neoklasik sebagai simbol pencerahan dan keteraturan.
Pilar-pilar Dorik yang megah dan kubah besar di tengah gereja mencerminkan harmoni dan keseimbangan, dua prinsip utama dalam filosofi Masonik.
Yang menarik perhatian kami adalah tangga melingkar di sudut gereja. “Dalam tradisi Freemason, tangga melambangkan perjalanan spiritual,” kata pemandu kami.
“Setiap langkah adalah simbol pencarian menuju pencerahan.” Gereja ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol bagaimana filosofi Freemason memengaruhi arsitektur Batavia.
Langkah terakhir kami sampai di Jalan Budi Utomo (dulu: Jalan Freemason), Pasar Baroe. Kami menemukan sebuah gedung tua yang kini menjadi kantor PT Kimia Farma. Gedung ini dulunya adalah Loji De Ster in het Oosten (Bintang di Timur), tempat para Freemason Batavia berkumpul.
Pada dindingnya, masih tertulis nama loji ini dalam prasasti yang usang tetapi kokoh, seolah menolak dilupakan oleh waktu.
“Bintang di Timur melambangkan pencerahan,” ujar pemandu kami. Loji ini adalah tempat di mana para Mason bertemu, berdiskusi tentang filsafat, sains, dan kemanusiaan.
Mereka percaya bahwa Nusantara adalah tanah yang kaya akan kebijaksanaan dan cahaya baru.
IV.
Perjalanan lima jam ini tidak hanya tentang melihat simbol atau bangunan. Ini adalah sebagian perjalanan menyelami sebuah gerakan yang pernah hidup di Batavia—Freemason, sebuah persaudaraan yang berbicara dalam bahasa simbol dan filosofi.
Persaudaraan Freemason ini telah berkontribusi dalam kemajuan pendidikan, dan ilmu pengetahuan di Nusantara. Hal ini tidak lepas dari prinsip hidup yang dimiliki anggotanya: integritas, keadilan, dan kebajikan yang menjadi dasar kehidupan bermasyarakat.
Kontribusi Freemason ini terlihat dalam pengembangan fasilitas kesehatan, rumah sakit dan sekolah di Indonesia.
Namun kontroversi juga melekat dalam persaudaraan Freemason ini. Kerahasiaan yang ketat membuat banyak orang curiga dengan agenda tersembunyi yang dibawa.
Persaudaraan ini juga bersifat elitis dan eksklusif. Tidak semua orang bisa menjadi anggota Freemason.
Jejak mereka mungkin telah lama hilang dari Batavia, tetapi warisan mereka masih bertahan dalam batu nisan, gedung tua, dan bangunan megah yang menjadi saksi bisu sejarah.
Dan hari ini, kami berjalan menelusuri sebagian dari jejak itu. Masih banyak jejak di sudut-sudut yang lain dari kota Batavia. Namun kami menyadari bahwa rahasia terbesar Batavia bukan hanya tentang apa yang terlihat, tetapi juga tentang apa yang tersembunyi di antara garis-garis sejarah.
Dan rahasia itu, selamanya, tetap menjadi bagian dari Batavia.
