
Oleh: Sigit Darmawan
Revolusi robotika industri tidak lagi menjadi sekadar simbol kemajuan teknologi, melainkan indikator strategis atas daya saing ekonomi dan kesiapan manufaktur suatu negara di tengah lanskap industri global yang terus berubah.
Laporan Visual Capitalist berdasarkan Artificial Intelligence Index Report 2025 dan data dari International Federation of Robotics (IFR) memperlihatkan dinamika pertumbuhan instalasi robot industri di berbagai negara pada tahun 2023. Hasilnya menggambarkan perubahan orientasi global dalam transformasi manufaktur berbasis automasi dan teknologi pintar.
Peta Pertumbuhan Robot Industri Global
India memimpin laju pertumbuhan tertinggi dalam instalasi robot industri pada 2023, dengan peningkatan 59%. Ini menunjukkan komitmen kuat India dalam melakukan transformasi industri seiring dengan kebijakan Make in India dan percepatan digitalisasi manufaktur nasional.
Di posisi berikutnya, Inggris (+51%), Kanada (+37%), dan Spanyol (+31%) juga mencatat pertumbuhan signifikan, menandakan gelombang kedua industrialisasi berbasis teknologi tinggi di negara-negara maju.
Sebaliknya, negara-negara yang sebelumnya dikenal sebagai raksasa industri robot seperti Jepang (-9%), Italia (-9%), dan China (-5%) justru mengalami kontraksi. Taiwan bahkan mengalami penurunan paling tajam sebesar -43%.
Ini menandakan adanya penyesuaian ulang, baik karena faktor siklus ekonomi, penurunan investasi, maupun transisi strategi.
Namun jika dilihat dari volume absolut, China tetap menjadi pemimpin global yang tak tertandingi dengan 276.000 unit robot industri terpasang pada 2023—lebih banyak dari seluruh negara lainnya digabungkan. Jepang menyusul dengan 46.000 unit, disusul AS (38.000), Korea Selatan (31.000), dan Jerman (28.000).
Mengapa Instalasi Robot Menjadi Kunci Daya Saing Industri
Instalasi robot industri bukan sekadar statistik belaka. Ia merepresentasikan kesiapan industri sebuah negara untuk:
Pertama, Meningkatkan efisiensi dan produktivitas manufaktur,
Kedua, Mengurangi ketergantungan terhadap tenaga kerja murah,
Ketiga, Meningkatkan akurasi dan kualitas produk,
Keempat, Menjawab tantangan pasar yang semakin volatile dan kompetitif.
Menurut McKinsey (2023), penggunaan automasi dan AI dalam manufaktur dapat meningkatkan produktivitas hingga 30% dan menurunkan biaya operasional hingga 20% di beberapa sektor strategis seperti otomotif, elektronik, dan logistik.
Dalam konteks ini, negara-negara seperti India dan Inggris yang mencatat lonjakan pertumbuhan robotik kemungkinan besar tengah memperkuat basis industrinya dengan mengurangi kesenjangan teknologi sekaligus membangun keunggulan baru di era industri 4.0 dan 5.0.
Dampak terhadap Struktur Industri Global
Meningkatnya ketergantungan terhadap sistem robotik juga membawa dampak jangka panjang.
Pertama, terjadi pergeseran dari keunggulan komparatif berbasis tenaga kerja murah ke keunggulan berbasis teknologi dan kecepatan produksi. Ini menjelaskan mengapa negara seperti Jerman, meski hanya tumbuh +7%, tetap konsisten menjadi pemain kunci dalam manufaktur presisi tinggi.
Kedua, akan muncul pemisahan antara negara yang mampu berinvestasi dalam teknologi industri canggih dan negara yang masih stagnan dalam automasi. Hal ini dapat memperlebar kesenjangan produktivitas global.
Ketiga, perubahan ini juga mendorong restrukturisasi tenaga kerja. World Economic Forum (2023) memperkirakan bahwa pada 2025, sekitar 85 juta pekerjaan mungkin tergantikan oleh automasi, tetapi juga akan tercipta 97 juta pekerjaan baru di bidang teknologi, analitik data, dan sistem AI.
Tantangan Indonesia dalam Era Robotik
Indonesia menghadapi tantangan struktural dalam mempercepat adopsi robot industri. Beberapa kendala utama antara lain:
Pertama, rendahnya penetrasi automasi di sektor manufaktur: Berdasarkan data Kemenperin dan Boston Consulting Group (2023), adopsi teknologi otomasi di pabrik-pabrik Indonesia baru mencapai 10–15%, jauh di bawah rata-rata Asia Tenggara.
Kedua, minimnya investasi pada riset dan inovasi: R&D Indonesia hanya sekitar 0,2% dari PDB (World Bank, 2024), dibandingkan Korea Selatan yang menyentuh 4,5%.
Ketiga, kesenjangan skill tenaga kerja: Laporan ILO Indonesia 2023 menyebutkan bahwa mayoritas lulusan vokasi belum siap menghadapi kebutuhan industri berbasis digital dan robotik.
Keempat, ketergantungan pada teknologi impor: Industri robotik dalam negeri masih lemah, sehingga Indonesia sangat tergantung pada Jepang, China, dan Jerman untuk suplai teknologi automasi.
Roadmap Robotik Indonesia: Menuju Manufaktur Berbasis AI
Untuk menjawab tantangan ini, Indonesia telah mulai menyusun peta jalan (roadmap) transformasi teknologi manufaktur. Dalam Peta Jalan Making Indonesia 4.0 (Kemenperin, revisi 2023), penguatan robotik dan automasi masuk dalam tiga prioritas nasional, khususnya di sektor otomotif, elektronik, dan makanan-minuman.
Adapun strategi kunci yang diusulkan:
Pertama, Penguatan industri robotik nasional melalui kolaborasi antara BUMN teknologi dan startup AI,
Kedua, Pusat inkubasi robotika di kawasan industri prioritas seperti Batang, Karawang, dan Subang,
Ketiga, Pendidikan vokasi berbasis automasi dan integrasi sistem industri 4.0,
Keempat, Insentif fiskal dan pembiayaan untuk perusahaan manufaktur yang mengadopsi teknologi robotik.
Langkah konkret juga telah diambil melalui kerja sama Kemenperin dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) dan ABB Robotics untuk transfer teknologi dan pelatihan SDM sejak 2022.
Implikasi bagi Indonesia dan Negara Berkembang
Bagi Indonesia, tren ini menjadi panggilan strategis. Tanpa adopsi teknologi robotik yang cepat dan inklusif, industri nasional bisa tertinggal dari arus persaingan.
Strategi seperti pemanfaatan insentif investasi teknologi, kemitraan dengan perusahaan penyedia robotik, serta penguatan pendidikan vokasi dan AI menjadi kunci.
Belajar dari India, Indonesia bisa mengambil pelajaran penting: bahwa percepatan adopsi robot industri tidak hanya membutuhkan modal, tetapi juga visi kebijakan yang sinkron antara pemerintah, industri, dan akademisi.
Pendekatan triple helix ini akan menentukan apakah Indonesia hanya menjadi pasar atau ikut menjadi pemain dalam ekonomi robotika global.
Referensi Kutipan & Sumber Data
- International Federation of Robotics (2024). World Robotics Report.
- Visual Capitalist. (2025). Industrial Robot Installation Growth.
- World Economic Forum. (2023). Future of Jobs Report.
- McKinsey Global Institute. (2023). The Case for Smart Automation in Manufacturing.
- Brookings Institution. (2022). The Global Automation Index.
- Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. (2023). Revisi Peta Jalan Making Indonesia 4.0.
- Boston Consulting Group & Kemenperin. (2023). Digital Maturity of Indonesian Manufacturing.
- World Bank Indonesia (2024). Research and Innovation Landscape Review.
- ILO Indonesia (2023). Skills for the Future of Work