SORE: Waktu Tak Bisa Diulang, Tapi Bisa Ditebus


(Refleksi tentang sinema, hidup, dan harapan yang belum terlambat)

Oleh: Sigit Darmawan

I.
Saya tidak punya ekspektasi tinggi saat memutuskan bersama keluarga untuk menonton film “Sore: Istri dari Masa Depan” akhir pekan lalu. Tetapi saya tidak menyangka, film ini memang menarik, mengesankan, dan menggugah banyak pertanyaan bagi saya.

Disutradarai oleh Yandy Laurems, film ini mengangkat cerita fiksi lintas waktu. Namun film ini tidak terperangkap dalam lubang romansa yang klise atau efek visual digital yang memikat. Justru, ia hadir dengan kesederhanaan namun realitas hidup.

Jonathan (diperankan Dion Wiyoko), seorang fotografer Indonesia yang tinggal di Kroasia, menjalani hidup yang tampak bebas namun rapuh. Sampai suatu hari, ia didatangi Sore (diperankan oleh Sheila Dara Aisha), seorang perempuan yang mengaku sebagai istrinya dari masa depan.

Ini bukan cerita tentang mesin waktu yang rumit. Tetapi tentang seseorang yang datamg untuk mengingatkan Jonathan bahwa hidupnya sedang mengarah pada kehancuran.

Latar Kroasia dan Finlandia yang dingin dan hening, musik dari Adhitia Sofyan dan Barasuara, semua menguatkan suasana kontemplatif yang dibangun. Tetapi lebih dari itu, film ini menyentuh karena satu hal: bahwa kita tidak bisa kembali ke masa lalu, tapi kita bisa memilih untuk berubah hari ini.

Film ini sukses merebut perhatian masyarakat, dengan lebih dari 1,3 juta penonton dalam dua pekan penayangan. Tapi pencapaian terbesarnya bukan angka, atau banyaknya komentar positif dari kalangan pengamat film, melainkan bagaimana film ini mampu menggugah kesadaran kita untuk merenung — tentang cinta, luka, dan waktu.

II.
Setiap dari kita pernah menjadi Jonathan. Pernah menunda perubahan. Pernah mengabaikan seseorang. Pernah mengambil keputusan yang kemudian disesali.

Kita hidup dalam dunia yang mendorong kita untuk bergerak cepat, tapi tidak memberi cukup ruang untuk berhenti dan bertanya:
“Apakah aku sedang berjalan ke arah yang benar?”

Penyesalan sudah menjadi bagian dari hidup manusia. Namun yang lebih menyakitkan dari penyesalan, adalah ketika kita menyadari bahwa waktu tak lagi memberi kesempatan untuk memperbaiki. Dan ironisnya, kita tahu ini — tapi tetap menunda.

Film Sore hadir seperti tamparan kecil atas kebiasaan “nanti aja” yang kadang juga akrab dengan diri saya.

  • Nanti aja minta maaf.
  • Nanti aja perbaiki hubungan
  • Nanti aja menelpon orang tua.
  • Nanti saja pulang.

Padahal, hidup tidak menawarkan banyak “sore”. Tak semua orang yang kita abaikan akan terus menunggu. Dan tak semua kesempatan bisa diulang.

Kita menghadapi realitas hidup yang dipenuhi dengan luka-luka kecil yang menumpuk. Tidak selalu karena kejahatan besar, tapi karena pengabaian. Karena sibuk. Karena tidak sadar. Dan seperti Jonathan, kita kadang butuh seseorang dari “masa depan” — atau setidaknya dari luar zona nyaman kita — untuk menyadarkan: “Kalau kamu terus seperti ini, kamu akan kehilangan segalanya.”

III.
Dalam iman dan keyakinan yang saya hidupi, saya percaya waktu adalah anugerah. Ia tidak bisa kita ulang, tapi bisa kita tebus. Tuhan tidak menuntut kita jadi sempurna di awal. Tuhan tahu kita bisa jatuh, bisa gagal, bisa menyesal. Tetapi Ia juga menawarkan sesuatu yang lebih besar: penebusan.

Penebusan bukan tentang kembali ke titik nol: mengulang dari awal. Bukan juga tentang menghapus sejarah. Tapi soal keberanian menebus hari ini—saat masih ada waktu. Dan justru disitulah kasih karunia Tuhan bekerja.

Sebuah nesehat Rasul Paulus mengingatkan saya:

“Perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup… pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” (Efesus 5:15-16)

Film Sore menggemakan seruan ini. Ia tidak menawarkan mesin waktu atau memberi jalan untuk kembali ke masa lalu. Tapi ia memberi kita cermin: agar jujur dan berani menghadapi hari ini — untuk berubah, memaafkan, dan mencintai ulang.

Sore datang bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai pengingat yang lembut dan penuh kasih. Dan bukankah sering begitu juga cara Tuhan bekerja? Seperti kasih Kristus datang ke dunia bukan untuk menghukum, tetapi untuk memulihkan. Bukan untuk mengulang sejarah, tetapi untuk menciptakan masa depan yang baru.

Seperti Jonathan, kita pun diundang — bukan untuk hidup dalam bayang-bayang penyesalan, tetapi untuk berjalan bersama Sang Penebus yang menjadikan segala sesuatu baru. (2 Korintus 5:17)

Sore Sebagai Metafora Hidup

Sore adalah waktu yang singkat. Ia adalah transisi antara terang dan gelap. Ia tidak berlangsung lama — tapi cukup untuk menyadarkan. Film Sore itu hadir sebentar di layar, tapi membawa pulang pertanyaan yang mendasar:

“Apa yang masih bisa kita tebus sebelum semuanya terlambat?”

Mungkin kita tidak akan pernah didatangi seseorang dari masa depan yang menyadarkan. Tapi kita masih bisa mendengarkan suara hati. Kita punya kasih dari Tuhan. Dan kita punya hari ini.

Karena selama kita masih diberi waktu, penebusan selalu mungkin.

Leave a comment