
Oleh: Sigit Darmawan
Di tengah hiruk-pikuk politik, kericuhan media sosial, dan sikap pasrah masyarakat, satu suara perempuan muda menembus layar kita dengan bening dan tegas:
“Kalau Anda tidak bisa mendengarkan kami, rakyat kecil, debatlah saya.”
Nama perempuan itu: Salsa Erwina Hutagalung. Ia bukan pejabat, bukan pesohor, bukan pula aktivis jalanan. Ia lulusan Universitas Gadjah Mada, penggagas siniar (podcast) Jadi Dewasa 101, dan kini berkiprah sebagai profesional di Aarhus, Denmark.
Ketika tanah air ramai oleh amarah publik terhadap wakil rakyat, dari kejauhan ia bersuara lantang. Bukan demi ketenaran—melainkan karena ia tak rela melihat rakyat direndahkan oleh kuasa.
Ketika Ahmad Sahroni, anggota DPR RI, menyebut masyarakat yang mengkritik parlemen sebagai “orang tolol sedunia”, Salsa tak tinggal diam. Ia bangkit. Ia bersuara. Dengan kepala dingin, nalar tajam, dan keberanian warga yang tulus.
Dan saat itulah publik terhenyak. Bukan karena perdebatan yang rumit, tetapi karena keberaniannya yang langka. Di saat banyak anak muda larut menggulir layar TikTok atau terjebak dalam pesimisme massal, Salsa memilih untuk menyela. Karena itulah, ia layak dijadikan panutan baru bagi generasi ini.
Kita hidup dalam zaman yang sarat paradoks. Informasi melimpah, tetapi keberanian semakin langka. Banyak anak muda cerdas, namun gamang dikatai nyinyir. Tidak terbiasa bersuara dengan nalar di media sosial, dan diam di ruang kelas atau forum resmi.
Salsa hadir sebagai penyeimbang dari semua itu. Ia tak asal bicara. Ia menyusun narasi dengan dasar nilai, keadilan, dan nalar. Ia tidak meledak-ledak, melainkan menyampaikan kritik dengan adab. Ia tidak menjatuhkan, tetapi menegur dengan kepala tegak.
Dan justru karena ia tak memiliki kuasa, suaranya lebih dapat dipercaya. Karena ia bebas dari kepentingan, keberaniannya lebih murni. Karena ia tidak berada di panggung kekuasaan, ia terdengar paling jujur.
Apa pelajaran dari sosok Salsa bagi kaum muda? Banyak. Tapi setidaknya, ada tiga hal utama:
Pertama, berani bersuara bukan sekadar bicara, tapi bertanggung jawab. Salsa mengajarkan bahwa keberanian bicara bukan berarti sembarang berkomentar. Ia tahu apa yang ia bela. Ia paham letak masalahnya. Dan ia tidak lari setelah bersuara.
Kedua, pendidikan tak lengkap tanpa keberanian moral. Banyak yang pandai, sedikit yang berani. Salsa memadukan keduanya. Ia bukan hanya berpengetahuan, tetapi juga peka kapan harus berdiri—meski sendiri.
Ketiga, kritik tak harus dengan caci maki. Di era digital yang keras, kita butuh teladan bahwa menyampaikan pendapat tidak mesti disertai kata kasar. Salsa menunjukkan bahwa kritik paling mengena justru muncul dari ketenangan dan nalar.
Mengapa sosok seperti Salsa penting bagi masa kini?
Karena kini banyak anak muda yang bimbang: apakah bersuara itu berisiko? Apakah kritik akan mengundang serangan? Apakah lebih aman diam saja?
Salsa menjawab itu semua lewat tindakannya: Berani bicara tidak membuatmu kalah. Diam justru bisa menjadikanmu turut bersalah.
Ia membuka jalan bagi generasi muda baru untuk memahami bahwa keberanian moral itu menular. Dan bahwa perubahan tidak selalu datang dari kerumunan besar—tapi dari satu suara yang berani terdengar lebih dulu.
Salsa bukan dari kalangan elit, melainkan dari masyarakat biasa. Ia tidak membawa pengeras suara di jalanan, tapi keberaniannya mengalahkan gempita mikrofon kekuasaan.
Dan ia telah membuktikan bahwa di tengah sistem yang kerap membungkam, satu suara jujur dapat menghidupkan kembali nalar publik.
Tugas kita bukan sekadar memberi tepuk tangan, tetapi mencetak lebih banyak “Salsa”—di ruang kelas, ruang pelatihan, ruang pembinaan, ruang diskusi, dan ruang keluarga.
Karena demokrasi yang sehat bukan hanya soal pemilihan umum, melainkan tentang siapa yang masih mau bersuara saat semua memilih diam.