Malaikat di Atas Jembatan


Oleh: Sigit Darmawan

“Barang siapa menyelamatkan satu nyawa, sama artinya ia menyelamatkan seluruh dunia.” — Talmud

Beberapa waktu lalu saya menonton sebuah dokumenter yang menggetarkan hati. Sebuah film sederhana yang berkisah tentang kepahlawanan dalam keseharian di kota Nanjing, China.

Kisah di film itu menyorot apa yang telah terjadi di Jembatan Nanjing yang membelah Sungai Yangtze. Kisah tentang ratusan orang yang datang ke jembatan ini setiap tahun bukan untuk menikmati pemandangan, melainkan untuk mengakhiri hidup mereka.

Di sanalah seorang pria sederhana berdiri setiap hari. Namanya Chen Si. Ia bukan polisi, bukan psikolog, bukan pula orang terkenal. Ia hanya seorang pekerja biasa yang, sejak tahun 2003, menjadikan hidupnya ladang pengabdian: berpatroli di sepanjang jembatan, mengamati dengan mata tajam, siap menolong siapa pun yang tampak putus asa.

Film dokumenter Angel of Nanjing (2015) karya Jordan Horowitz dan Frank L. Ferendo menuturkan kisah Chen dengan kejujuran yang jarang saya temui. Tak ada musik heroik, tak ada adegan berlebihan. Hanya angin, kabut pagi, dan langkah-langkah yang sabar. Saat menontonnya, saya merasa seperti diajak berdiam diri —mengingatkan bahwa kepahlawanan sejati sering tumbuh dari kesunyian.

Chen memulai misinya bukan karena diperintah siapa pun. Ia hanya mendengar berita tentang banyaknya orang yang melompat dari jembatan itu, lalu hatinya tergerak. Awalnya, ia hanya datang di akhir pekan. Namun ia segera sadar: keputusasaan tak punya jadwal. Sejak itu, setiap pagi, dengan jaket merah bertuliskan cherish life every day — cintai hidup setiap hari — ia mengayuh sepedanya menuju jembatan, berpatroli tanpa pamrih.

Lebih dari sepuluh tahun ia melakukan hal yang sama. Ratusan nyawa telah diselamatkannya. Ia tidak sekadar menarik tubuh orang dari pagar, tapi juga mendengarkan cerita mereka. Banyak di antara mereka yang sebenarnya tidak ingin mati—mereka hanya merasa tak ada lagi yang mau mendengar. Chen menjadi tempat berlabuh yang tulus. Ia menatap mata mereka tanpa menghakimi, hanya berusaha memahami.

Sebuah adegan film ini membuat saya terdiam— memperlihatkan keheningan antara dua manusia yang sama-sama rapuh. Tak ada percakapan muluk-muluk. Hanya percakapan sederhana yang memulihkan harapan.

***

Jembatan Sungai Yangtze di Nanjing dikenal sebagai salah satu tempat bunuh diri paling banyak di dunia. Sejak dibuka pada 1968, ribuan orang mengakhiri hidupnya di sana. Dalam masyarakat yang serba cepat dan menekan, kesepian dan beban hidup menjadi jerat yang tak terlihat.

Chen Si tidak punya gelar psikologi. Ia hanya memiliki hati yang peka. Dengan hati itu, ia menahan tangan-tangan yang hampir terjun ke sungai. Kadang ia berhasil, kadang tidak. Film ini tidak menutupi luka itu. Terlihat kesedihan di wajahnya ketika seseorang melompat lebih cepat dari langkahnya. Namun keesokan harinya, ia tetap datang lagi. Seolah berkata, “Jika hari ini aku tak bisa menyelamatkan semua orang, setidaknya aku akan mencoba menyelamatkan satu.”

Kita hidup di zaman ketika kepahlawanan sering diukur dari jumlah penonton atau like di media sosial. Namun Chen mengajarkan sesuatu yang berbeda: bahwa kepahlawanan sejati tidak selalu bersuara keras. Ia senyap, tekun, dan tulus. Tak ada kamera yang menyorotnya setiap kali ia menolong seseorang. Tak ada piagam atau sambutan hangat. Dalam kehidupan pribadinya pun, ia bergulat dengan tekanan ekonomi dan kelelahan batin. Namun semua itu tak membuatnya berhenti.

Film ini meraih banyak penghargaan internasional— Best Documentary di Jersey Shore Film Festival, Best Director di Phoenix Film Festival, Sidney K. Shapiro Humanitarian Award, dan Special Jury Award di Hollywood Film Festival tahun 2015. Deretan penghargaan itu bukan sekadar bukti kualitas filmnya, tapi pengakuan terhadap kekuatan kemanusiaan yang universal.

Menonton Angel of Nanjing membuat saya berpikir lama. Saya merasa film ini seperti cermin yang memantulkan wajah masyarakat kita sendiri. Di kota-kota Indonesia, kita juga melihat krisis serupa: banyak orang kehilangan arah, tenggelam dalam tekanan, merasa sendiri di tengah keramaian. Data Kementerian Kesehatan bahkan menunjukkan peningkatan kasus bunuh diri, terutama di kalangan muda. Sayangnya, banyak dari mereka yang diam—bukan karena tidak ingin hidup, tapi karena merasa tak ada yang mau mendengar.

Saya sadar, bahwa mungkin saya juga tidak akan pernah berdiri di atas jembatan seperti Chen. Tapi saya pikir kita semua masing-masing punya “jembatan” sendiri: lingkaran pertemanan, keluarga, pekerjaan—tempat di mana kita bisa hadir sebagai pendengar, penenang, atau penguat bagi mereka yang sedang goyah.

Mungkin kita sering bertanya, apa yang membuat seseorang rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan jiwanya demi orang asing yang tak dikenalnya? Mungkin jawabannya sederhana: kemanusiaan. Di tengah dunia yang kian sibuk dan individualistis, Chen Si mengingatkan bahwa keberanian sejati bukanlah menaklukkan musuh, melainkan menolak untuk menutup mata terhadap penderitaan sesama.

Ia tak pernah tahu siapa yang akan ditemuinya hari itu. Namun setiap pagi, ia datang dengan niat yang sama: menyelamatkan satu nyawa lagi.

Refleksi

Chen Si bukan pahlawan dengan jubah. Ia hanyalah manusia biasa yang memilih berhenti di atas jembatan ketika orang lain memilih lewat begitu saja. Tapi bagi ratusan jiwa, dialah jembatan itu sendiri.

Angel of Nanjing bukan hanya film tentang kematian. Ia adalah kisah tentang kehidupan, tentang keberanian untuk peduli, tentang bagaimana satu hati bisa menjadi lentera di tengah kabut keputusasaan.

Kita mungkin tak mampu menyelamatkan dunia. Tapi jika kita bisa menyelamatkan satu orang saja—mendengar, menolong, atau sekadar hadir—mungkin itu sudah cukup untuk membuat dunia sedikit lebih terang.

Leave a comment