
Oleh: Sigit Darmawan *)
Dunia usaha kini berada dalam lanskap yang jauh berbeda dibanding satu dekade lalu. Perubahan iklim, pencemaran, krisis air, dan kerusakan lahan tidak lagi sekadar berita, melainkan ancaman nyata yang memengaruhi kegiatan produksi, pasokan bahan baku, hingga reputasi merek. Perusahaan tidak lagi berdiri di atas pijakan yang mapan, tetapi di atas ekosistem yang rentan dan terus berubah.
Konsumen bertanya dari mana barang diproduksi dan bagaimana limbah dikelola. Investor menimbang risiko iklim di samping laporan keuangan. Karyawan mempertanyakan nilai keberlanjutan tempat mereka bekerja. Tekanan dari segala arah ini menuntut perusahaan menata ulang cara berpikir dan cara bertindak. Pernyataan “kami peduli lingkungan” tidak lagi cukup tanpa bukti dan arah yang jelas.
Continue reading