
Oleh: Sigit Darmawan *)
Dunia usaha kini berada dalam lanskap yang jauh berbeda dibanding satu dekade lalu. Perubahan iklim, pencemaran, krisis air, dan kerusakan lahan tidak lagi sekadar berita, melainkan ancaman nyata yang memengaruhi kegiatan produksi, pasokan bahan baku, hingga reputasi merek. Perusahaan tidak lagi berdiri di atas pijakan yang mapan, tetapi di atas ekosistem yang rentan dan terus berubah.
Konsumen bertanya dari mana barang diproduksi dan bagaimana limbah dikelola. Investor menimbang risiko iklim di samping laporan keuangan. Karyawan mempertanyakan nilai keberlanjutan tempat mereka bekerja. Tekanan dari segala arah ini menuntut perusahaan menata ulang cara berpikir dan cara bertindak. Pernyataan “kami peduli lingkungan” tidak lagi cukup tanpa bukti dan arah yang jelas.
Di tengah tuntutan itulah, saya menyusun sebuah kerangka baru yang saya sebut sebagai Sustainability Maturity Index (SMI). Ini adalah alat yang membantu perusahaan membaca dirinya sendiri secara lebih jernih.
SMI : Cermin Kematangan Keberlanjutan Perusahaan
Kerangka ini pertama kali saya perkenalkan dalam Konferensi Nasional Manajemen Risiko ke-X pada 2024 di Bali, di hadapan para pengambil keputusan dari berbagai perusahaan. Di forum itu, muncul kesadaran bahwa keberlanjutan bukan lagi urusan citra, tetapi menyangkut ketahanan perusahaan menghadapi risiko-risiko masa depan.
Dalam kesempatan itu saya memaparkan konsep SMI sebagai perpaduan dunia keberlanjutan dengan manajemen risiko, sehingga keberlanjutan dipandang bukan sebagai beban, tetapi sebagai dasar pengambilan keputusan yang lebih bijak.
Saya mendorong SMI bisa menjadi kerangka yang menuntun perusahaan memahami sejauh mana kesiapan mereka mengelola isu lingkungan. Banyak perusahaan merasa telah menjalankan sejumlah inisiatif hijau, namun ketika ditanya posisi maturitasnya, arah strateginya, atau kesesuaian antarunit, mereka sering bingung menentukan jawabannya.
SMI membantu melihat hal itu secara sistematis. Tujuh dimensinya—mulai dari strategi, kompetensi, motivasi, teknologi, komunikasi, kemitraan, hingga operasi—menunjukkan apakah upaya keberlanjutan perusahaan masih bersifat sporadis atau sudah terjalin dalam denyut organisasi..
Dalam berbagai kesempatan, baik seminar dan pelatihan, saya mendorong SMI bisa digunakan sebagai perangkat yang membantu perusahaan menilai apakah keberlanjutan telah menjadi budaya, atau masih terperangkap sebagai kegiatan seremonial. Ia menyingkap apakah pengurangan emisi, pengelolaan air, penanganan limbah, dan pemeliharaan lingkungan berjalan atas dasar sistem atau sekadar tanggapan terhadap masalah yang muncul.
Ketika Alam Menjadi Pemain Utama dalam Bisnis
Tanda-tanda krisis lingkungan kini tampak di mana-mana. Cuaca ekstrem memicu banjir dan kekeringan yang mengganggu produksi. Kebakaran hutan membuat logistik terganggu. Sebuah rekaman pembuangan limbah yang viral dapat memangkas kepercayaan publik dalam hitungan jam. Regulasi baru turut mendorong perusahaan untuk membuka data dan memperlihatkan dampak ekologisnya secara lebih terang.
Perusahaan yang tidak siap menghadapi tuntutan ini akan kesulitan bertahan. Tanpa kerangka yang mengukur kemajuan, agenda keberlanjutan hanya berjalan di permukaan. Sebaliknya, perusahaan yang berdaya dalam aspek lingkungan biasanya memiliki biaya produksi yang lebih terkendali, pasokan yang lebih stabil, dan kepercayaan publik yang lebih kuat.
Lingkungan tidak lagi sekadar isu moral; ia telah menjadi variabel ekonomi, reputasi, dan bahkan eksistensi perusahaan.
Menuntun Perjalanan Transformasi Lingkungan
SMI bukan alat ukur yang berdiri sendiri. Ia adalah penuntun perjalanan perubahan. Penilaian awal membantu perusahaan memahami titik mula. Keselarasan pandangan manajemen memastikan bahwa arah transformasi dipahami bersama. Analisis celah menunjukkan apa yang perlu diperbaiki. Peta jalan memberi urutan langkah yang lebih teratur, sehingga keberlanjutan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi menjadi gerakan yang terus berlangsung.
Melalui pendekatan ini, keberlanjutan tidak lagi terjebak dalam bentuk laporan tahunan. Ia menjadi bagian dari tata kelola, budaya kerja, dan cara perusahaan mengambil keputusan sehari-hari. SMI memungkinkan perusahaan meniti perubahan dengan lebih terarah dan lebih terukur.
Jika alam menjadi penguji ketahanan bisnis, maka SMI adalah alat untuk memahaminya. Dunia usaha tidak bisa lagi bekerja seolah alam adalah sumber daya yang tak terbatas. Hanya perusahaan yang belajar membaca gejala—melalui data, melalui sistem, melalui kematangan pengelolaan lingkungan—yang akan tetap menjadi bagian dari masa depan.
Pada akhirnya, perusahaan yang sungguh-sungguh menata langkah keberlanjutannya hari ini akan dikenang bukan karena keuntungannya semata, tetapi karena tanggung jawab yang dijalankannya terhadap bumi dan generasi mendatang. Saya berharap SMI hadir untuk memastikan langkah itu tidak berhenti sebagai slogan, tetapi berubah menjadi perilaku, kebijakan, dan keputusan yang nyata.
*) Penulis adalah Penyusun Kerangka SMI untuk Transformasi Keberlanjutan