
Sumber Gambar: TheBreakdownBW
Oleh: Sigit Darmawan
Dalam Trade War 2.0 – Navigasi Korporasi dan Transformasi Rantai Pasok Global, salah satu gagasan yang sangat menonjol adalah bahwa perubahan besar dalam rantai pasok dunia tidak hanya digerakkan oleh teknologi, geopolitik, atau relokasi pabrik. Segala perubahan itu, pada akhirnya, bermuara pada manusia—pada kemampuan organisasi membaca perubahan, bersiap, merespons, dan bergerak bersama ke arah yang baru. Transformasi global selalu dimulai dari transformasi manusia. Karena itu, Human Capital berada di jantung seluruh pergeseran strategis yang dijelaskan dalam buku ini.
Ketidakpastian Global dan Pentingnya Peran Manusia
Ketika dunia memasuki era ketidakpastian baru, dengan rivalitas Amerika–Tiongkok yang membelah arsitektur ekonomi global, rantai pasok menjadi arena persaingan sekaligus kolaborasi. Perusahaan tidak lagi dapat mengandalkan model lama yang sepenuhnya mengutamakan efisiensi.
Logika baru yang muncul menuntut ketahanan, kecepatan, dan kemampuan membaca risiko lintas negara. Semua itu mustahil dicapai tanpa kesiapan sumber daya manusia yang mampu bergerak mengikuti tuntutan zaman.
Perubahan geopolitik yang memengaruhi keputusan investasi, sumber bahan baku, biaya logistik, dan ketersediaan produk memerlukan manusia yang mampu merespons dengan pemikiran yang jernih dan terarah. Sumber daya manusia menjadi fondasi yang menentukan apakah perusahaan akan tetap relevan atau tergerus oleh dinamika global.
Transformasi Kompetensi: Dari Operasional ke Strategis
Salah satu pesan penting dalam buku Trade War 2.0 ini adalah bahwa kapabilitas manusia di dalam organisasi harus bergeser dari tugas-tugas operasional menuju kapabilitas yang lebih strategis. Pada masa lalu, banyak fungsi dalam perusahaan bekerja dengan fokus pada peran yang terpisah. Kini, perusahaan membutuhkan individu yang tidak hanya ahli dalam bidangnya, tetapi juga mampu melihat hubungan antarfungsi, memahami dinamika pasar global, serta memiliki kesadaran risiko yang lebih tinggi.
Kemampuan melihat keterkaitan antara teknologi, operasi, risiko, keuangan, dan strategi menjadi kompetensi kunci yang menentukan kelangsungan perusahaan. Dalam banyak perusahaan global, perubahan mendadak pada rantai pasok memaksa organisasi menyesuaikan model operasi dengan cepat. Mereka yang mampu membaca perubahan dengan tepat dapat mempertahankan layanan dan produktivitas, sedangkan mereka yang tidak siap sering kali terjebak dalam kekacauan operasional.
Dalam konteks rantai pasok global, data, teknologi digital, dan kecerdasan buatan semakin menentukan kualitas keputusan. Perusahaan membutuhkan talenta yang mampu mengolah data menjadi wawasan, menerapkan teknologi otomatisasi, dan menilai risiko lintas negara dengan perspektif yang lebih luas. Tantangan ini mengubah peta kompetensi, memaksa organisasi membangun budaya belajar yang terus berkembang dan membuka ruang bagi kolaborasi lintas fungsi.
Ketahanan organisasi tidak hanya ditentukan oleh sistem dan proses, tetapi juga oleh ketahanan manusia yang bekerja di dalamnya. Daya lenting menjadi kompetensi penting yang memungkinkan individu cepat beradaptasi, bangkit dari tekanan, dan kembali bergerak ketika menghadapi perubahan yang tidak terduga. Kemampuan ini lahir dari lingkungan kerja yang mendorong keberanian mencoba hal baru, mendukung pembelajaran, dan memberi ruang bagi kreativitas.
Peran Strategis Human Capital di Tengah Transformasi Rantai Pasok
Trade War 2.0 menegaskan bahwa transformasi rantai pasok tidak dapat berjalan tanpa transformasi kompetensi. Ketika perusahaan memasuki era digital supply chain, mereka membutuhkan talenta yang mampu membaca data, memahami sistem otomasi, dan menafsirkan implikasi teknologi baru bagi proses bisnis. Ketika relokasi produksi menjadi strategi yang banyak dipilih perusahaan global, talenta internal harus mampu menilai risiko negara, memahami kualitas mitra, dan menimbang dampak jangka panjang terhadap biaya dan keberlanjutan.
Dalam perubahan semacam ini, Human Capital tidak lagi menjadi fungsi pendukung, tetapi arsitek organisasi masa depan. Pemimpin Human Capital bertanggung jawab memastikan bahwa perusahaan memiliki talenta yang tangguh, pemimpin yang visioner, dan budaya kerja yang siap berubah. Dalam konteks inilah peran seorang pemimpin seperti Bapak Jimmy Peranginangin, Group Chief Human Capital, GA–Litigation, CSR Erajaya Group, menjadi sangat strategis.
Erajaya Group berada di tengah arus perubahan rantai pasok global, terutama sebagai pemain besar dalam distribusi, ritel, dan ekosistem digital. Dinamika geopolitik dan perubahan lanskap produksi dunia sangat memengaruhi ketersediaan produk, harga, dan kecepatan layanan. Human Capital menjadi penentu apakah organisasi mampu mempertahankan keunggulan dalam situasi yang semakin tidak pasti.
Dalam pertemuan penyerahan buku Trade War 2.0 di Erajaya Plaza, beliau menggarisbawahi bahwa kebutuhan organisasi kini bergeser menuju kolaborasi lintas fungsi. Pengelolaan SDM, tata kelola, keberlanjutan, dan operasional harus berjalan secara terpadu. Digitalisasi tidak cukup hanya menghadirkan teknologi baru, tetapi juga harus menyentuh aspek manusia dan budaya organisasi. Beliau juga sepakat bahwa transformasi sejati terjadi ketika proses, teknologi, dan manusia bergerak dalam satu keselarasan.
Human Capital memastikan bahwa seluruh bagian organisasi memiliki pemahaman yang sama mengenai arah perubahan dan mampu menerjemahkan strategi besar ke dalam tindakan nyata.
Penutup: Arah Baru Human Capital di Era Fragmentasi Global
Buku Trade War 2.0 menunjukkan bahwa di tengah ketegangan geopolitik dan fragmentasi rantai pasok dunia, masa depan organisasi akan sangat ditentukan oleh cara mereka memperlakukan, mengembangkan, dan memberdayakan manusia. Ketika teknologi menjadi alat, manusia tetap menjadi penggerak utama transformasi.
Beberapa hal penting dapat disimpulkan sebagai arah baru bagi Human Capital di era ini:
- Human Capital sebagai fungsi strategis.
Fungsi SDM tidak lagi bersifat administratif, tetapi menjadi mitra strategis dalam perumusan kebijakan bisnis dan mitigasi risiko global. - Kompetensi lintas disiplin sebagai standar baru.
Dunia usaha menuntut talenta yang mampu berpikir sistemik, menguasai analisis data, memahami dinamika geopolitik, serta menjembatani operasi dengan strategi. - Kepemimpinan yang berorientasi pada ketahanan.
Pemimpin masa depan bukan hanya yang mampu mencapai target, tetapi yang mampu menjaga keberlanjutan dan menumbuhkan kepercayaan di tengah perubahan. - Budaya organisasi yang adaptif dan kolaboratif.
Ketangguhan rantai pasok bergantung pada budaya kerja yang menghargai pembelajaran, keterbukaan, dan kolaborasi lintas fungsi maupun lintas budaya. - Investasi pada manusia sebagai prioritas jangka panjang.
Perusahaan yang berinvestasi pada pengembangan SDM—baik dalam kemampuan teknis maupun daya pikir strategis—akan memiliki daya saing yang lebih kuat dibanding mereka yang hanya berinvestasi pada aset fisik.
Pada akhirnya, setiap strategi bisnis akan kembali pada manusia yang menjalankannya. Trade War 2.0 mengingatkan bahwa di tengah perubahan global yang kian cepat, transformasi organisasi selalu dimulai dari transformasi manusia