
(Refleksi Penulisan Buku Trade War 2.0)
Ada satu kalimat yang sering terlintas ketika perjalanan ini dimulai: “Menulis bukan soal menemukan waktu, tetapi keberanian.” Keberanian untuk melihat dunia apa adanya, dan keberanian untuk menuturkannya dengan jujur.
Buku Trade War 2.0 lahir bukan dari meja kerja yang tenang, melainkan dari kegelisahan. Kegelisahan melihat bagaimana peta ekonomi dunia berubah begitu cepat. Satu kebijakan tarif di Washington dapat mengguncang lini produksi di Asia. Pergeseran geopolitik, perang chip, hingga fragmentasi rantai pasok global membuat banyak perusahaan berada dalam keadaan waspada.
Di berbagai forum dan ruang diskusi, saya mendengar pertanyaan serupa muncul berulang kali: “Apa arti perubahan ini bagi Indonesia?”
Continue reading