Perjalanan yang Tidak Pernah Saya Rencanakan, tetapi Saya Syukuri


(Refleksi Penulisan Buku Trade War 2.0)

Ada satu kalimat yang sering terlintas ketika perjalanan ini dimulai: “Menulis bukan soal menemukan waktu, tetapi keberanian.” Keberanian untuk melihat dunia apa adanya, dan keberanian untuk menuturkannya dengan jujur.

Buku Trade War 2.0 lahir bukan dari meja kerja yang tenang, melainkan dari kegelisahan. Kegelisahan melihat bagaimana peta ekonomi dunia berubah begitu cepat. Satu kebijakan tarif di Washington dapat mengguncang lini produksi di Asia. Pergeseran geopolitik, perang chip, hingga fragmentasi rantai pasok global membuat banyak perusahaan berada dalam keadaan waspada.

Di berbagai forum dan ruang diskusi, saya mendengar pertanyaan serupa muncul berulang kali: “Apa arti perubahan ini bagi Indonesia?”

Pertanyaan itu yang mendorong saya menelusuri data dan melakukan riset lebih dalam. Selama beberapa bulan saya membaca laporan lembaga internasional, mengikuti perkembangan kebijakan perdagangan, menelaah analisis dari para ekonom, serta memetakan perubahan rantai pasok dari Amerika hingga Asia Tenggara. Saya memerhatikan sejak Trade War 1.0, bagaimana perusahaan global mulai mengalihkan operasi produksinya ke kawasan ASEAN—dan bagaimana hal itu membuka peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia.

Dari ruang rapat perusahaan, komunitas rantai pasok, sesi pelatihan eksekutif, hingga konferensi manajemen risiko, saya menyadari satu hal:
perusahaan-perusahaan Indonesia membutuhkan pegangan baru untuk membaca arah angin global.
Di situlah saya merasa buku ini memang seharusnya ditulis.

Namun, menulisnya bukan perkara mudah. Dunia geopolitik dan rantai pasok bergerak cepat. Ketika satu data selesai dibahas, muncul perkembangan baru yang harus dikaji ulang. Ada hari-hari ketika saya menulis dari pagi hingga malam, tetapi merasa tidak satu pun kalimat yang layak dipertahankan. Ada pula waktu ketika saya bertanya kepada diri sendiri apakah saya mampu merangkum perubahan global sebesar ini ke dalam sebuah buku. Saya harus jeda beberapa kali.

Tetapi setiap kali keraguan muncul, saya kembali pada hal yang sama: tugas seorang pemimpin adalah memberi arah ketika keadaan tampak samar. Dan saya berharap buku ini dapat menjadi bagian kecil dari upaya itu.

Pelan-pelan, bab demi bab mulai menemukan bentuknya. Saya mengkaji ulang data, merapikan argumen, menambahkan contoh kasus, dan memastikan setiap bagian tidak hanya informatif, tetapi juga bermanfaat bagi para pembaca—khususnya para pengambil keputusan yang membutuhkan panduan praktis menghadapi perubahan global.

Tetapi ditengah-tengah perjalanan, keraguan tetap menyergap saya. Seorang kawan baik saya menyemangati: “Jangan tunggu sempurna. Selesaikan saja. Hari pertama ketika bukumu diluncurkan, koreksi dan perubahan sudah menunggu”.

Momen yang paling mengena bagi saya adalah ketika naskah akhir akhirnya diserahkan untuk diterbitkan. Rasanya seperti melepaskan sesuatu yang sudah lama dipelihara. Ada lega, ada syukur, ada juga rasa harap. Harap bahwa tulisan ini dapat membantu orang lain memahami dunia yang kian terpecah, tetapi juga penuh peluang.

Perjalanan buku ini cukup panjang—dimulai dari riset, penulisan, pre-order, hingga pre-launch di dua acara besar (Talk Show Asosiasi Pengusaha Pemasok Pasar Modern Indonesia/ AP3MI dan Konferensi Nasional XI Profesional Manajemen Risiko). Saya juga bertemu dengan beragam pemimpin industri, akademisi, birokrasi, pemimpin asosiasi bisnis & profesi, sebagainya untuk menyerahkan buku dan mendiskusikannya.

Dan pada 10 Desember 2025, ketika saya melihat buku Trade War 2.0 berdiri di rak GRAMEDIA, saya tahu perjalanan panjang ini telah menemukan rumahnya. Bukan hanya sebagai karya tulis, tetapi sebagai ruang perjumpaan antara gagasan, pengalaman, dan harapan bagi masa depan Indonesia.

Saya berharap siapa pun yang membacanya tidak hanya menemukan analisis, tetapi juga ketenangan: bahwa di tengah perubahan besar, kita tetap dapat melangkah dengan bijak. Kita tidak dapat mengendalikan arah angin, tetapi kita dapat menyesuaikan layar.

Terima kasih kepada setiap orang yang mendukung proses ini—melalui percakapan, dorongan, atau sekadar mendengar ketika saya bercerita tentang perjalanan menulis buku ini.

Perjalanan ini belum selesai. Saya terus bersiap menjelaskan buku ini kepada kalayak di berbagai kesempatan. Tetapi saya bersyukur dapat berbagi langkah penting ini bersama Anda.

— Sigit Budi Darmawan
Penulis Trade War 2.0 – Navigasi Korporasi & Transformasi Rantai Pasok Global

Leave a comment