
Oleh: Sigit Darmawan
Saya menonton Mens Rea bukan dengan niat mencari hiburan semata. Awalnya justru karena rasa ingin tahu. Mengapa begitu banyak orang ribut? Mengapa satu panggung komedi bisa memicu reaksi dan kontroversi yang sedemikian keras di beragam media sosial—dari tawa lepas sampai kemarahan terbuka?
Dalam beberapa bagian, saya tertawa. Refleks. Lalu, di beberapa bagian lain tanpa sadar, saya mulai diam. Tawa terasa tertahan. Bukan karena tidak lucu, tetapi karena terasa dekat. Terlalu dekat.
Di situlah saya mulai memahami bahwa Mens Rea milik Panji yang tayang di Netflix tidak bisa dibaca hanya sebagai hiburan. Ia lebih tepat dipahami sebagai satire—dan satire, sejak dulu, tidak pernah ramah pada kenyamanan.
Saya teringat satu hal sederhana: setiap kali masyarakat mulai terlalu cepat menilai, seni sering muncul untuk memperlambat. Kadang lewat sastra. Kadang lewat musik. Kali ini, lewat komedi.
Judul Mens Rea sendiri membuat saya berpikir. Dalam hukum, istilah ini bicara tentang niat batin. Tentang apa yang ada di kepala seseorang sebelum ia bertindak. Panji membawa istilah itu ke panggung. Saya menangkapnya sebagai pertanyaan terbuka: di ruang publik hari ini, apakah niat masih penting? Ataukah kita sudah puas menilai orang hanya dari potongan kalimat? Atau dari sekelebat tindakan?
Sebagai penonton, saya merasa diajak bercermin. Saya melihat kebiasaan kita sendiri—termasuk kebiasaan saya—yang sering bereaksi lebih cepat daripada berpikir. Menyimpulkan lebih dulu, baru mencari alasan setelahnya.
Satire bekerja seperti itu. Ia tidak menuding. Ia membiarkan kita menertawakan sesuatu, lalu perlahan sadar bahwa yang kita tertawakan adalah pola hidup kita sendiri.
Dalam Mens Rea, kegelisahan itu muncul lewat humor. Panji mengatur ritme dengan cermat. Ia membuat penonton tertawa, lalu berhenti. Ada jeda. Sunyi singkat. Di jeda itulah, saya merasa dipaksa berpikir. Mengapa bagian ini lucu? Apa yang sedang disindir? Dan mengapa saya merasa sedikit tidak enak setelah tertawa?
Rasa tidak enak itu penting. Dalam tradisi kritik seni, ketidaknyamanan sering menjadi tanda bahwa sesuatu yang mendasar sedang disentuh. Saya teringat lagu-lagu Iwan Fals yang dulu sering saya dengar. Banyak orang menyanyikannya sambil tersenyum, tetapi isinya penuh sindiran tentang kuasa, ketidakadilan, dan ironi hidup. Musiknya akrab. Pesannya menggigit.
Satire memang jarang datang dengan wajah galak. Ia sering menyamar sebagai hiburan. Tetapi begitu pesan masuk, kita sulit mengabaikannya. Tentu, saya paham bahwa tidak semua orang akan sepakat dengan Mens Rea.
Beberapa kritik yang muncul juga masuk akal. Ada bagian yang terasa terlalu tajam bagi sebagian orang. Ada konteks sosial yang sensitif. Reaksi penolakan adalah bagian dari proses itu sendiri. Kritik sosial tidak pernah steril. Ia selalu bersentuhan dengan pengalaman nyata, dengan luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Ada kritik yang menurut saya layak dicatat secara jujur. Dalam Mens Rea, Panji memang sengaja memakai diksi yang keras, kadang terasa kasar, bahkan sengaja “tidak sopan”. Terlalu banyak “umpatan” yang muncul selama pertunjukan.
Bagi sebagian penonton—termasuk saya—bahasa semacam itu terasa seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, ia efektif sebagai alat kejut; ia membongkar kepura-puraan dan memaksa kita keluar dari zona aman. Namun di sisi lain, ada risiko pesan tenggelam oleh bunyi makian dan umpatan yang tidak perlu.
Kata-kata yang terlalu tajam bisa membuat sebagian orang berhenti mendengar sebelum sempat memahami arah kritiknya. Alih-alih membuka dialog, diksi kasar berpotensi menutup telinga mereka yang sudah lebih dulu defensif. Ini bukan soal benar atau salah. Ini soal pilihan artistik: apakah kejutan bahasa diperlukan untuk menembus kebekuan sosial, atau justru mempersempit ruang tafsir?
Dan ada satu titik yang paling rawan membakar kontroversi publik: kritik Panji terhadap pejabat—seperti Gibran atau Bahlil—lebih banyak bertumpu pada aspek fisik, gaya bicara, atau gestur personal. Alih-alih langsung menyoal keputusan kebijakan dan dampaknya bagi publik. Kritik jenis ini memang cepat memancing tawa dan viral, tetapi risikonya besar. Fokus pada tubuh atau tampilan mudah bergeser menjadi ejekan, bukan pembongkaran substansi.
Di ruang publik yang sudah tegang, satire semacam ini bisa dibaca sebagai serangan personal, bukan kritik kekuasaan. Akibatnya, perdebatan bergeser dari soal kebijakan—yang seharusnya bisa diuji dan diperdebatkan secara rasional—menjadi soal harga diri dan identitas. Di titik itu, api emosi dan kontroversi mudah menyala, sementara pesan kritis justru tercecer di pinggir panggung.
Namun dengan segala pro dan kontra, saya tetap melihat perdebatan seputar Mens Rea sebagai tanda bahwa masyarakat kita masih mau berbicara. Masih mau beradu argumen. Masih mau berbeda pendapat. Itu lebih baik daripada diam dan tidak peduli.
Yang saya hargai dari Mens Rea adalah sikapnya yang tidak menutup percakapan. Tidak ada kesimpulan moral yang dipaksakan. Tidak ada ajakan eksplisit. Pertunjukan ini berhenti, seolah berkata, “Saya sudah menunjukkan cerminnya. Urusan selanjutnya milik kalian.”
Bagi saya pribadi, di situlah kekuatan satire. Ia tidak memberi jawaban. Ia memberi gangguan. Gangguan yang memaksa kita berpikir ulang tentang cara kita bersikap, berbicara, dan menilai orang lain.
Viralnya Mens Rea terasa seperti gejala zaman. Ada kelelahan kolektif terhadap situasi saat ini. Ada keinginan agar terjadi perubahan. Satire hadir sebagai jalan memutar. Tidak frontal, tetapi menusuk.
Saya selesai melihat pertunjukan itu dengan pikiran yang masih berjalan. Dan satu pertanyaan yang terus berputar: di tengah kebisingan opini hari ini, beranikah kita menunda reaksi dan mencoba memahami niat?
Jika sebuah panggung komedi mampu menanamkan pertanyaan itu, bahkan hanya pada satu penonton, maka kritik sosialnya telah bekerja. Tanpa teriak. Tanpa slogan. Cukup lewat tawa yang berhenti setelah panggung selesai.
SBD-06/1/2026