Slogan itu yang muncul dalam berbagai poster dan spanduk yang akhir-akhir ini marak – walaupun kampanye pilkada jakarta baru mulai tanggal 22 juli – di berbagai belahan ibu kota. Entah siapa yang memulai duluan memasang slogan “provokatif” di berbagai tempat itu, yang jelas kedua kubu bersikeras untuk tidak menurunkannya, jika hanya sepihak.
“Ayo benahi jakarta” adalah sebuah slogan strategis dari kubu adang-dani dalam memanfaatkan problematika jakarta yang tidak kunjung terselesaikan. Kemacetan, banjir, kesempatan kerja, adalah problem-problem utama yang memang menjadi menjadi keluhan dan hambatan warga ibu kota. Betapa tidak, banjir jakarta awal ferbuari 2007 lalu sungguh-sungguh menjadi bencana yang menimbulkan kerugian milyaran rupiah, lumpuhnya perekonomian ibu kota, terhentinya aktivitas dan sendi-sendi kehidupan warga (termasuk pendidikan), serta perasaan tramumatik akibat tidak memadainya penanganan banjir oleh pemerintah ibu kota. Belum lagi kemacetan yang membuang begitu banyak energi minyak bumi, mengurangi produktivitas warga, dan belum lagi penyakit stres yang harus dihadapi warga. Sungguh jeli! Adang-dani mengambil mementum “kebosanan” masyarakat jakarta akan problem kesehariannya yang tak kunjung terselesaikan. Dengan warna oranye, kebanggaan kesebelasan persija, Adang-dani meneriakan slogan atas ketidakbecusan pemerintah daerah sekarang dalam mengelola dan mengurus kota jakarta.
Tentu slogan itu masih sebatas janji. Tidak terungkap sama sekali bagaimana janji itu akan direalisasikan. Warga yang cerdas, pasti akan bertanya bagaimana Adang-dani mengatasi keruwetan lalu lintas ibu kota dan banjir. Jika memang sudah memiliki konsep dan rencana, Adang-dani harus memaparkannya. Tentu warga akan melihat dan menganalisa apakah konsep dan rencana itu realistis atau tidak. Kalau realistis, bagaimana menghimpun potensi dan partisipasi warga untuk bekerja mensukseskan rencana itu. Salah satu bentuk partisipasi warga yang paling berat dan sulit untuk dikerjakan adalah membangun sikap disiplin warga. Inilah problematika utama banjir dan kemacetan. Tetapi bagian inilah yang paling sulit yang harus dilalui Adang-dani, jika ingin dipilih menjadi gubernur dan wakil gubernur dki jakarta. Sebuah “mission impossible” yang sedang dibuat “possible”.
Lain adang-dani, lain lagi fauzi-prijanto. Slogan “Jakarta untuk semua” terasa menjadi slogan yang hambar. Tanpa ada “stressing” yang ingin disampaikan. Memang ide yang akan diusung adalah bahwa kota jakarta terbuka untuk semua komunitas, golongan, suku, dan kepentingan. Dan konsekuensi dari itu adalah kemungkinan perbenturan sosial dan budaya. Tentu ini adalah sebuah fakta. Tetapi fauzi-prijanto ingin menyampaikan pesan bahwa karena keterbukaannya itu, jakarta harus dimaknai sebagai sebuah model kota yang pluralis dimana ada penghargaan dan kesempatan untuk semua golongan dan kepentingan. Slogan ini ingin meng-“counter” ketakutan dari sekelompok golongan tentang kemungkinan adang-dani melakukan “penghijauan” jakarta, yang membuat kota jakarta tidak lagi plural.
Sayang sungguh sayang, slogan “mulia” itu ternoda oleh sikap primordial dari kubu fauzi-prijanto. Bagaimana tidak ternoda, jika isu yang ditonjolkan untuk mengangkat sosok fauzi adalah isu “anak betawi”? Berbagai iklan di televisipun tak urung menegaskan sikap primordial tersebut. Jika ingin menekankan wajah plural jakarta, maka janganlah mengusung isu-isu primordial tersebut. Warga akan melihat sebuah standar ganda dari sang calon pemimpin jakarta.
Siapa pilihan anda? Wallaualam. Keduanya tidak menjanjikan sesuatu.