
Oleh: Sigit Darmawan
Saya menonton Mens Rea bukan dengan niat mencari hiburan semata. Awalnya justru karena rasa ingin tahu. Mengapa begitu banyak orang ribut? Mengapa satu panggung komedi bisa memicu reaksi dan kontroversi yang sedemikian keras di beragam media sosial—dari tawa lepas sampai kemarahan terbuka?
Dalam beberapa bagian, saya tertawa. Refleks. Lalu, di beberapa bagian lain tanpa sadar, saya mulai diam. Tawa terasa tertahan. Bukan karena tidak lucu, tetapi karena terasa dekat. Terlalu dekat.
Continue reading