
Oleh: Sigit Darmawan
“Masyarakat tidak langsung marah. Mereka memberi tanda. Hanya saja, sering kali tak terbaca.” Bagaimana membaca sinyal krisis di era digital? Di zaman digital, kemarahan publik tidak lagi meledak tiba-tiba. Ia muncul perlahan dari balik layar—lewat unggahan video, meme satir, hingga komentar yang menyebar dalam hitungan menit. Semuanya isyarat bahwa ada yang tidak beres. Namun, banyak pemangku kuasa masih terpaku pada pola lama: menunggu laporan resmi, bertumpu pada jalur birokrasi, dan baru bergerak setelah konflik meledak.
Contohnya nyata. Dalam lima hari demonstrasi bulan Agustus 2025 yang lalu, gelombang protes meluas di sejumlah kota di Indonesia. Isunya telah ramai dibahas tiga minggu sebelumnya di media sosial. Tagar penolakan muncul saban hari, video kritik dibagikan ribuan kali, dan keresahan publik begitu gamblang di ruang digital.
Continue reading