Oleh: Sigit Darmawan

(Tulisan ini sekaligus sebagai refleksi diri)
Seorang anak kecil duduk di trotoar, memeluk perut kosongnya sambil menatap ibunya yang berjualan di pinggir jalan. Sang ibu menjual sebungkus nasi atau segelas teh manis. Pemandangan ini mungkin terlalu biasa bagi kita. Tetapi di balik itu ada perjuangan yang tak pernah kita rasakan.
Lalu datanglah kita, yang hidup lebih nyaman, entah sebagai pejabat, tokoh, atau siapa saja yang merasa lebih tinggi derajatnya. Dengan santai kita melempar candaan.
Seperti yang terjadi beberapa hari lalu, ketika seorang utusan khusus Presiden mengolok-olok penjual es teh. “Es tehmu masih banyak gak? Masih? Ya sana jual g*bl*k !” katanya, sambil tertawa. Penjual es teh itu hanya terdiam penuh kelu.
Continue reading