“Kadangkala memang kita tidak tahu harus melakukan apa”, ujar Mgr.Soegijapranata. Ia hanya memandang pasrah dan hanya bisa terpaku menyaksikan serdadu-serdadu Jepang membawa para pekerja gereja dan orang-orang yang berlindung didalamnya. Cuplikan film ‘Soegija’ itu sangat membekas di kepala saya. Ya, kadangkala dan ada saatnya memang manusia tidak tahu harus melakukan apapun ketika berada dalam situasi yang kritis.
Soegija hanya berusaha menjalani apa yang menjadi tanggung jawabnya. Menjaga iman jemaatnya sembari mengupayakan pertolongan kemanusiaan dalam perjuangan kemerdekaan itu. Namun jangan dikira sikap pasrah itu menunjukkan kelemahannya, karena di lain kesempatan ia berani menantang kepala serdadu Jepang yang meminta gedung gereja untuk dijadikan markas tentara Jepang. ‘Penggal kepala sayaterlebih dahulu’, katanya dengan suara yang sangat tegas dan sorot mata tajam.