Daily Archives: April 20, 2007

KEPAHITAN

Oleh: Sigit. B. Darmawan 

Rabu, 10 Januari 2007

Mendadak pagi ini aku teringat tetanggaku. Seorang bapak, yang berusia kurang lebih 50 tahun. Dia sudah beristri dan beranak dua. Aku tahu ada masalah keluarga yang sangat berat, yang dihadapinya. Sudah satu bulan ini aku tidak bertemu dengannya. Ah, apa khabarnya sekarang!

Aku teringat pertemuan dengannya saat bulan puasa tahun lalu. Di pagi hari saat aku bersiap untuk ke kantor, dia berjalan gontai kearahku. Wajahnya kelihatan murung. Tapi masih dia paksakan untuk tersenyum kepadaku. Aku menyapanya sejenak. Saat aku mulai akan masuk ke mobilku, tanpa terduga dia berbalik. Dengan wajah sedih, dia berkeluh kesah tentang dirinya, dan keluarganya. Betapa terlantarnya dia saat ini di tengah keluarganya sendiri. Istri dan anaknya sudah “mengusir” nya untuk tinggal di dalam rumah, sehingga dengan terpaksa dia harus tidur di depan rumahnya atau emperan rumah tetangga yang kosong.

Aku sudah menduga-duga sebelumnya. Karena dia sering bertengkar dengan istrinya, dengan suara yang sangat keras. Istrinyapun, dengan dibantu anaknya laki-laki, berteriak tidak kalah kerasnya. Tidak siang, tidak malam. Sebenarnya aku dan keluargaku sudah sangat terganggu dengan hal pertengkaran mereka. Demikian juga anak-anakku. Tapi apa mau dikata, suami istri itu kelihatannya sulit berdamai.

Pagi itu lelaki itu bercerita tentang tersingkirnya dia dari keluarganya, sejak dia terkena stroke sampai dia harus keluar dari pekerjaannya. Air matanya mulai berkaca-kaca. Dengan gemetar, dia membuka dompetnya. Dompet yang sudah sangat lusuh. Tidak banyak isinya. Tapi ada gambar lelaki muda yang sangat gagah dan tampan. “Ini adalah photo saya 5 tahun lalu”, katanya dengan menyisakan sedikit kebanggaan. Aku melihat sejenak foto itu, dan mencoba membandingkannya dengan yang sekarang. Betapa berbedanya! Raut wajah yang kelihatan tua, dengan kulit yang kecoklatan dan berkeriput. Betapa waktu 5 tahun sudah mengubah penampilannya secara drastis.

Lelaki itu bercerita betapa hidupnya sudah penuh dengan kepahitan terhadap istrinya. Konflik dalam keluarga yang sudah sedemikian parah telah menggerogoti tubuhnya, merusak penampilannya, dan akhirnya menjadi lelaki yang tanpa daya. Dicaci maki oleh istrinya, bahkan oleh anaknya sendiri. Mungkin saja lelaki itu juga sudah membuat kesalahan kepada keluarganya. Dan tidak segera memperbaikinya. Benih kepahitanpun tertanam.

Kepahitan itu sungguh merusak. Sumbernya bisa bermacam-macam. Bisa karena dikecewakan, disakiti, dihina, tidak dihargai. Dan ini bisa sengaja atau tidak disengaja. Sadar atau tidak sadar. Yang perlu kita lakukan adalah introspeksi, peka dengan reaksi orang, hati-hati dalam berkata dan bertindak, pupuk rasa menghargai, rendah hati untuk meminta maaf dan memaafkan.

Maaf. Itulah kunci untuk memulihkan kepahitan. Bersedia untuk memaafkan orang yang sudah menanam kepahitan dalam hidup kita. Dan bersedia untuk meminta maaf kepada orang lain, supaya tidak tumbuh kepahitan dalam diri orang lain karena tindakan kita.
Namun “empat huruf” itu ternyata tidak mudah dilakukan. Perlu kebesaran jiwa, kedalaman berpikir dan kerelaan hati untuk mengucapkan kata “maaf”. Berdamai dengan diri sendiri akan menjadi langkah awal untuk pengampunan kepada orang lain.

Ah! Lelaki itu sudah mengajarkan sesuatu kepadaku. Walaupun aku tidak mampu membantu persoalannya, tetapi setidak-tidaknya pemberian satu kaleng biskuit untuk berbuka puasanya mudah-mudahan meringankan kepahitan hidupnya. Dan tentu saja aku berdoa untuknya dan keluarganya. Tuhan bisa dan sanggup untuk mengubah hati manusia. 

Korupsi dan Mental Bangsa

Korupsi merupakan penyalahgunaan kekuasaan dan kewenangan untuk memperkaya diri sendiri dan atau orang lain. Korupsi telah merugikan dan menyengsarakan rakyat, merugikan negara, melanggar hak asasi manusia dan hak-hak konstitusional bangsa, dari bidang ekonomi, sipil, politik, sosial hingga budaya. Kerugian akibat korupsi tidak hanya dalam bentuk finansial, tetapi juga moral dan masa depan bangsa.

Korupsi adalah perilaku dan sistem yang saling terkait. Salah satu penyebab terjadinya perilaku korupsi adalah “kebodohan” masyarakat. Kebodohan tersebut telah menyebabkan ketidakmampuan dan ketidakmauan masyarakat untuk melakukan kontrol terhadap penyelewengan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat dan negara. Dua hal tersebut telah menyuburkan dan mengkatalisir terjadinya korupsi di berbagai bidang. Ketidakmauan masyarakat sangat erat hubungannya dengan kepentingan dan nilai-nilai yang dianut oleh individu-individu dalam masyarakat.

Ketidakmampuan masyarakat terkait dengan tindakan kolektif mereka untuk mencegah terjadinya praktek korupsi. Sesungguhnya nilai kolektif yang dimiliki dan dianut masyarakat sangat berperan dalam pencegahan tindak korupsi. Namun anehnya, tindak korupsi makin marak walaupun bangsa kita dikenal sangat “religius”. Ketidakberdayaan masyarakat secara kolektif ini diperparah dengan sistem birokrasi yang “rumit” dan berbelit-belit, yang mengunci upaya pemberantasan korupsi di semua lini. Kolektivitas nilai dan sistem inilah yang membentuk “budaya korupsi”, yang mengakar di seluruh lapisan masyarakat.

Ada tiga masalah mendasar dalam korupsi, yaitu regulasi, penegakan hukum, dan sumber daya manusia. Regulasi berkaitan dengan berbagai peraturan perundang-undangan dan sistem birokrasi. Ketidakjelasan suatu perundang-undangan dapat menjadi celah dan peluang terjadinya praktek-praktek korupsi. Upaya penegakan hukum juga tidak bisa diharapkan untuk memberantas korupsi karena masih dikendalikan oleh penguasa yang tidak tegas dan belum tentu bersih dari kasus korupsi.

Negara China sudah membuktikan kepemimpinan yang tegas dan efektif dalam pemberantasan korupsi. Dibawah kepemimpinan Zhu Rongji, China berhasil melakukan upaya pemberantasan korupsi yang dilakukan secara konsisten, tegas dan berani mengambil resiko. Hasilnya China menjadi negara yang mampu memberikan kepastian hukum, memiliki iklim investasi teraman di dunia, dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi.

Berkorban, Nilai Yang Hilang

Faktor penentu dalam pemberantasan korupsi adalah sumber daya manusia yang bukan hanya kompeten, tetapi memiliki mental yang baik. Mental yang baik sangat dibutuhkan untuk memutuskan pertalian antara pelaku korupsi dan lingkungan yang mendukungnya. Untuk mengubah mental, diperlukan pengorbanan (sacrifice). Menolak untuk menyuap berarti siap berkorban untuk mengikuti prosedur hukum dan peraturan yang ada., dengan segala kerumitan prosedur dan birokrasi, yang berbelit-belit dan tidak efisien waktu. Menolak untuk disuap, juga perlu pengorbanan. Orang bisa dikucilkan dan ditertawakan karena tidak ikut arus lingkungan yang terbiasa dengan korupsi. Orang harus siap dicap sebagai “Uztads” di kampung maling.

Nilai “sacrifice” dalam masyarakat telah lama hilang. Budaya “instant”, serba cepat dan serba mudah lebih dominan dibandingkan nilai “sacrifice”. Untuk menyeberang jalan saja, masyarakat sering tidak mau berkorban dengan melewati jembatan penyeberangan, demi sebuah “kemudahan” dan “kecepatan”. Untuk membangun budaya tertib, perlu kesediaan berkorban dan keteladanan. Para anggota Dewan haruslah tertib dalam kehadiran dan dalam persidangan, para menteri haruslah memberi contoh tidak melanggar aturan-aturan yang ada, para orang tua haruslah memberi contoh berperilaku tertib bagi anak-anaknya.

Model Dan Peran Media

Masyarakat kita kurang mengapresiasi budaya bertanggungjawab. Transparansi dan akuntabilitas adalah kata kunci dalam budaya yang bertanggungjawab. Penyelenggaraan kehidupan bernegara dan pengelolaan keuangan negara haruslah dijalankan atas dasar aspek tersebut. Para pemimpin di bidang pemerintahan, BUMN, institusi negara, institusi swasta maupun lembaga swadaya masyarakat harus mendorong budaya bertanggung jawab. Pemimpin yang memiliki rekam jejak bermasalah akan melemahkan dan mematikan upaya pengembangan budaya tersebut. Masyarakat perlu model kepemimpinan baik dari pemimpin formal maupun informal. Seorang ayah harus bisa menjadi model pemimpin dalam lembaga terkecil yang disebut keluarga, untuk mendorong terjadinya perubahan mental masyarakat.

Media memiliki peran sentral dalam proses perubahan mental masyarakat. Akan lebih baik jika media lebih banyak mengangkat profil-profil tokoh yang memiliki integritas yang tinggi dari pada mengangkat berita tokoh-tokoh yang bermasalah. Nilai-nilai “sacrifice” harus menjadi pertimbangan utama dalam publikasi di media masa. Media juga berperan sebagai katalisator dalam proses pengembangan budaya “sacrifice”, budaya tertib dan budaya-budaya lainnya yang penting untuk merubah mental bangsa, khususnya dalam pemberantasan korupsi. Jika ini dilakukan secara konsekuen dan berkelanjutan, maka media masa akan menjadi sarana ‘ampuh’ untuk mendorong terjadinya perubahan pola pikir dan mental masyarakat. Kalangan media masa sudah saatnya lebih serius memikirkan betapa kritisnya masalah mental bangsa kita, sehingga media masa tidak hanya memikirkan segi komersial semata. Apalagi PERC sudah menempatkan Indonesia sebagai negara terkorup di Asia (Kompas, 9 Maret 2005),

Gerakan Moral

Bagaimana mengurangi korupsi yang sudah menggurita tersebut? Kita bisa memulainya dari sebuah “gerakan”. Gerakan ini dimulai dari dalam diri kita sendiri sebagai suatu panggilan (vocation). Selanjutnya bergerak ke kelompok-kelompok kecil di masyarakat, mempengaruhi lingkungan sekitar, membangun kesadaran bangsa, dan memanfaatkan komunitas media untuk menyuarakan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab dan pengorbanan. NU-Muhamadiyah sebenarnya pernah merintis gerakan nasional anti korupsi, namun masih bersifat esklusif. Namun demikian, gerakan tersebut berpotensi menjadi model dan pendorong gerakan-gerakan serupa. Gerakan tersebut akan efektif jika dilakukan secara konsisten, kontinyu, serius, dan dengan melibatkan media massa sebagai katalisator sosialisasi gerakan.

Lembaga-lembaga keagamaan adalah garda terdepan untuk menyuarakan nilai-nilai yang menjadi dasar bagi perubahan mental bangsa. Namun lembaga-lembaga tersebut akan mandul bila permisif dan membiarkan dirinya menjadi tempat para koruptor melakukan pencucian uang. Oleh sebab itu gerakan bersih diri perlu dilakukan dengan segera, baik secara individu maupun organisasi.

Mengembangkan Nilai-nilai bersama Bangsa

Tidak mudah kita mengelola kekayaan budaya yang sangat beragam dan menyatukannya ke dalam nilai-nilai yang bisa disepakati sebagai nilai (value) bersama. Meminjam istilahnya Gunawan Muhammad, kita perlu menciptakan dan men-sengaja-kan tumbuhnya nilai-nilai yang disesuaikan dengan kebutuhan globalisasi untuk menjawab masalah mentalitas bangsa ini. Nilai-nilai tersebut bisa digali dari nilai-nilai positif yang ada dalam kehidupan masyarakat. Pancasila adalah salah satu resource dari nilai-nilai. Revitalisasi nilai-nilai dalam Pancasila ini perlu dilakukan agar relevan dan kontekstual dengan masalah-masalah yang dihadapi bangsa dan tuntutan globalisasi.

Negara perlu mengangkat dan mendorong tumbuhnya nilai-nilai bersama yang telah disepakati tersebut. Tanpa konsistensi, keseriusan, ketegasan tanpa pandang bulu, teladan dan model, maka tidak akan terjadi perubahan mental masyarakat. Upaya ini tidaklah mudah dan memerlukan kerja keras serta waktu yang lama. Namun demikian usaha tersebut harus dimulai dari sekarang.

*) Penulis adalah pekerja profesional

Uang Kaget dan Mentertawakan Kemiskinan

“Uang sepuluh juta ini akan menjadi milik ibu, dengan satu syarat ibu harus membelanjakannya dalam waktu 30 menit. Sisa uang yang tidak berhasil dibelanjakan akan kami ambil kembali”, kata Helmi Yahya ,dengan pakaian khas layaknya “pesulap” dalam sebuah tayangan di RCTI, kepada ibu penambal ban “tubeless”. Saya sempat tidak “ngeh” (dari bahasa Jawa yang artinya mengerti) permainan acara tersebut sampai akhirnya mencoba untuk mengikutinya dari awal hingga akhir. Selanjutnya sang Ibu yang mendapat kesempatan tersebut, dengan bergegas segera berlari menuju ke berbagai pertokoan dan memborong barang-barang yang bisa dibeli tanpa ditawar lagi.Sementara orang-orang yang melihat sang Ibu tersebut ada yang tertawa-tawa, ada yang setengah kasihan, dan yang lainnya terbengong-bengong. Entah apa yang terpikir oleh sang Ibu tersebut ketika menerima uang dalam jumlah yang luar biasa besar tersebut dan bagaimana ia merencanakan untuk menghabiskannya dalam sekejab.

Adegan berikutnya membuat saya tertegun, karena yang diborong oleh sang Ibu adalah barang-barang yang selama ini mungkin tidak bisa mereka beli. “Mas, kulkas yang paling mahal berapa ?”, teriak sang ibu kepada penjual barang elektronik. “Cepet..ayo cepet”, teriak sang ibu lagi dengan logat jawanya yang medok ketika disodori “stopwatch” yang menujukkan sisa waktu oleh presenter TV. “Kuitansi mana?.ayo dong mas cepet”, teriaknya lebih kencang. Kulkas, VCD, TV ukuran 29? akhirnya sudah berhasil dibeli oleh ibu tersebut (saya membayangkan rumahnya yang tentu saja sangat sederhana, dipenuhi oleh barang-barang tersebut , sehingga terasa semakin sempit ).

Berikutnya ibu itu lari ke toko emas, dan memborong perhiasan emas dalam jumlah besar. Terakhir barulah sang ibu teringat bahwa dirumah belum ada sembako (beras dan kebutuhan pokok lainnya). Dengan penuh wajah kelelahan, Ibu tersebut akhirnya berhasil membelanjakan hampir uang sepuluh juta tersebut, dan hanya tersisa empat ratus ribu rupiah.

Menyaksikan tayangan tersebut, ada kegundahan yang saya alami. Saya tidak mempermasalahkan kalau ada orang yang mau memberikan uang gratis kepada orang yang berkurangan dalam jumlah besar, tetapi meng-ekspose kemiskinan orang untuk suatu tontonan tentulah sangat tidak mendidik masyarakat. Sama saja dengan kita mentertawakan kemiskinan itu sendiri, bahkan menghina kemiskinan. Seolah-olah kemiskinan adalah identik dengan kasihan, ketidakmampuan orang untuk mencukupi diri sendiri termasuk kebutuhan pokok yang paling mendasar. Disisi lain, ada juga usaha untuk meng-expose kemiskinan untuk meningkatkan citra diri sang pemberi bantuan. Masih segar dalam ingatan saya, tentang tingkah laku pejabat atau calon pejabat selama kampanye pemilihan legislative berlangsung. Berdalih sumbangan kemanusiaan, mereka meng-ekspose diri mereka sebagai dermawan yang bagaikan sinterklas datang memberikan pertolongan, tetapi sesungguhnya sedang menginjak-injak kemiskinan untuk keuntungan diri sendiri.

Secara fakta, bisa jadi orang-prang yang diberi bantuan tidak mempermasalahkan apakah mau di-expose atau tidak. Yang penting toch saya dapat makan dari bantuan tersebut dan “kebutuhan sesaat” saya terpenuhi. Tetapi secara esensi, sesungguhnya sedang terjadi pen-tertawaan terhadap kemiskinan. Seolah-olah kemiskinan bisa menjadi “barang dagangan” yang laku dijual untuk berbagai kepentingan komersial.

Tayangan TV tersebut secara sadar telah menjadikan kemiskinan mejadi suatu tontonan komersial, yang berujung kepada kepentingan komersial. Dan secara sadar telah memberikan pembodohan bagi masyarakat dalam memandang persoalan kemiskinan. Bahwa orang-orang miskin adalah orang-orang yang harus dikasihani, orang-orang yang tidak mampu memberdayakan dirinya. Padahal bisa jadi sikap masyarakatlah yang menjadi bagian dalam proses yang menjadikan ketidakberdayaan orang-orang tersebut.

Prof. Mubyarto, guru besar Fakultas Ekonomi UGM, mengatakan salah satu akar kemiskinan structural adalah sikap masyarakat yang mengungkung orang-orang miskin tersebut untuk semakin tidak berdaya. “Percayailah orang miskin dan berilah peluang. Itulah sikap yang harus dimiliki oleh masyarakat”, lanjut Prof Mubyarto dalam suatu wawancara dengan Harian Republika tanggal 22 Januari 1996.

Mempertontonkan kemiskinan bisa jadi adalah sikap tidak mempercayai orang miskin dan semakin tidak memberikan peluang bagi mereka untuk memberdayakan dirinya. Seharusnya acara-acara televisi memberikan tontonan yang memperlihatkan nilai-nilai kerja keras, kemauan berusaha, peluang-peluang yang ada dan sebagainya. Saya teringat salah satu acara di TVRI yang dulu saya anggap membosankan, tentang kisah-kisah kesuksesan para transmigran, tentang budidaya tanaman dan hewan bagi masyarakat terbelakang, dan acara-acara sejenis lainnya. Belakangan saya menyadari bahwa ada nilai-nilai yang mau disampaikan dalam tayangan yang sangat “membosankan ” tersebut. Setidaknya tayangan tersebut telah mempertontonkan bagaimana masyarakat miskin memberdayakan dirinya melalui kerja keras dan pemanfaatan peluang-peluang yang ada.

“Uang kaget” hanyalah salah satu tayangan yang seolah-olah ingin memberikan pertolongan instant kepada masyarakat, tetapi sebenarnya melakukan pembodohan dan pemasungan kepada masyarakat, khususnya masyarakat miskin. Acara-acara yang bermutu yang memberikan informasi peluang bisnis dan kerja dan lain sebagainya lebih diperuntukkan bagi kalangan masyarakat yang justru sudah bisa memberdayakan dan memampukan dirinya. Sedangkan bagi masyarakat miskin semakin dijejali dengan berbagai tontonan yang tidak rasional, mistis dan menyeramkan seperti: “Penampakan”, “Alam Gaib”, “Jin dan Jun”, dan lain sebagainya.

Barangkali inilah tantangan sekaligus peluang bagi kita, untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan pelayanan yang bukan hanya bersifat karitatif, tetapi sekaligus pelayanan yang bersifat edukatif kepada masyarakat. Terlibat dalam usaha-usaha dan pemikiran untuk mengembangkan usaha kecil dan menengah adalah salah satu bidang pelayanan yang bisa kita lakukan. Mahasiswa bisa memikirkan program-program kategorial yang bersifat mendidik dan memberdayakan masyarakat melalui keilmuan yang dipelajarinya, dan terlibat dalam berbagai program pengabdian masyarakat yang dibuat oleh kampus dan sebagainya.

Dengan cara demikian kita mengasah diri untuk tidak semakin diperbodoh oleh tayangan-tayangan di media, yang akhirnya membuat kita “secara atau tidak sadar” ikut mentertawakan kemiskinan.

November 2004,

Tsunami, Air Mata, dan Ketegaran (Sebuah Refleksi Akhir Tahun)

“Kalau ibu mengeluarkan air mata, karena itulah salah satu kekuatan yang bisa membuat ibu menjadi tegar dan kuat menghadapi berbagai pergumulan hidup”, kata ibu saya beberapa hari yang lalu ketika saya berbincang-bincang santai dengan ibu saya. Kesempatan Natal tahun ini memang saya pergunakan untuk mengantar ibu saya kembali kerumah, setelah sekian lama menemani adik saya yang sedang dalam perawatan karena sakit di Jakarta.
“Itulah cara ibu mengatasi berbagai himpitan dan pergumulan hidup yang tidak habis-habisnya”, lanjut ibu saya sambil tersenyum. Saya terharu untuk beberapa saat mendengar penjelasan ibu saya. Selama ini saya sering melihat ibu menangis, apalagi kalau berbincang-bincang dengan saya. Tetapi baru kali ini saya mendapatkan penjelasan tentang arti tangisannya selama ini.

“Indonesia Menangis” itulah headline berita di sebuah stasiun Televisi swasta Indonesia ketika dalam “Breaking News”nya melaporkan bencana maha dashyat gempa bumi dan gelombang pasang (Tsunami) tanggal 26 Desember 2004 yang berpusat di Aceh, dan melanda 11 negara di kawasan Asia Selatan. Gempa dengan kekuatan 9.0 skala Richter dan gelombang pasang setinggi 5 m, diperkirakan menewaskan lebih dari 80.000 orang (BBC News 30 Desember 2004), dengan 45.000 korban berada di negara Indonesia. Tangisan merebak di penghujung akhir tahun ini akibat bencana yang tidak terduga, dan yang memang tidak mampu diduga oleh manusia tersebut. Dalam sekejab bencana itu
telah mengakibatkan kerugian yang luar biasa, penderitaan dan trauma bagi masyarakat yang menjadi korban, melumpuhkan aktivitas masyarakat dan pemerintahan, serta menimbulkan potensi penderitaan lainnya pasca gempa.
Jeritan masyarakat korban bencana tersebut terekam dalam berbagai media nasional dan internasional, mengugah perasaan hati dan rasa kemanusiaan kita yang paling dalam, membangkitkan rasa solidaritas dan kebersamaan antar sesama anak bangsa. Jeritan penuh kepiluan dan kegusaran “Kenapa ini mesti terjadi?”.

Tangisan bangsa ini sesungguhnya belumlah kering. Masyarakat belum pulih dari trauma gempa sebelumnya di Alor, NTT dan Nabire yang juga telah memporakporandakan kehidupan di daerah gempa. Bangsa ini tidak pernah berhenti didera berbagai penderitaan dan bencana. Tercatat sejak tahun 1998 telah terjadi 593 bencana alam dan banjir, yang mengakibatkan kerugian hampir 500 milyar dan korban jiwa hampir 2000 orang (Bali Post, 10 Ferbruari 2004). Dilihat dari jumlah korban dan kerugian, maka bencana Tsunami (Tsunami Disaster) tanggal 26 Desember 2004 kemarin merupakan bencana alam terbesar yang pernah dihadapi bangsa dengan tingkat kerugian, kerusakan, dan korban yang sedemikian besar.

Belum lagi bencana dan penderitaan lainnya yang diakibatkan oleh kesombongan dan keserakahan manusia akan kekuasaan, kedudukan, kehormatan dan ekonomi. Peristiwa Kudatuli 1997, kerusuhan mei 1998, konflik Poso 1998, Ambon berdarah 1999, konflik Sambas 1999, kerusuhan NTT 2000, adalah bencana dengan aktor manusia sebagai pengendalinya. Bencana jenis ini jauh lebih mengerikan karena mengakibatkan terkoyak-koyaknya hubungan antar masyarakat, karena dipenuhi perasaan saling curiga, dendam, dan keinginan untuk menghancurkan orang lain.

Kita memang perlu menangis, dan harus menangis. Supaya bangsa ini mendapatkan kekuatan dari tangisannya, supaya bangsa ini belajar dari tangisannya. Dengan menangis, pikiran dan hati kita diasah kembali untuk menyadari berbagai kesalahan dan ketidakmampuan kita dalam merespon tanda-tanda jaman. Melalui tangisan, bangsa ini bisa disadarkan dari keterpurukan dan kehinaannya sebagai bangsa, yang senantiasa mengabaikan keadilan dan hak-hak manusia. Hanya dengan tangisanlah, kita baru menyadari bahwa kita tidak memiliki kekuatan apapun, apabila diperhadapkan
dengan kekuatan dari Tuhan.

“Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari…(Nehemia 1:1)” merefleksikan situasi yang sama ketika Nehemia menyadari bencana yang sedang dihadapi bangsanya. Bencana yang sungguh dahsyat dihadapi oleh bangsa Israel yang berada dalam pembuangan tentang kondisi negeri Yerusalem. Kerusakan total di negeri Yerusalem akibat bencana peperangan oleh kerajaan Babelonia tahun 586 S.M. Negeri Yerusalem tinggal puing-puing reruntuhan. Dibutuhkan dana dan usaha yang sangat besar untuk membangun kembali tembok Yerusalem. Nehemiapun menangis. Untuk sesaat Nehemia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, kecuali menangis dan bekabung. Terlalu berat beban dan penderitaan bangsanya, sehingga perlu kekuatan dan ketetapan hati untuk menghadapi situasi tersebut. Tangisan Nehemia memberikan pembaharuan, kesadaran, dan ketegaran bagi Nehemia dalam situasi tersebut. Tangisan Nehemia juga memberikan tempat kepada Tuhan untuk menyatakan otoritas dan kehendakNya. Setelah masa berkabung lewat, dengan penuh keteguhan dan ketegaran Nehemia mulai bekerja membangun puing-puing reruntuhan tembok Yerusalem.

Menangislah bangsaku. Tangisilah reruntuhan bangunan, dan bergelimpangannya mayat-mayat di berbagai tempat. Tangisilah orang-orang yang kehilangan anggota keluarganya, yang tersapu gelombang maha dasyat itu. Koyakanlah baju kesombongan, kebanggaan, dan kekerdilan kita. Menangislah kepada DIA, Sang Pemilik Otoritas Kehidupan, agar kita menyadari bahwa kita sebenarnya tidak memiliki kuasa apapun. Biarlah tumbuh kesadaran akan berbagai kesalahan bangsa ini yang tidak menghargai berbagai kemajemukan masyarakat dan tidak memperhatikan keadilan diantara sesama anak bangsa.

Kedepan bangsa ini akan menghadapi masa-masa yang berat. Bukan saja karena 12 Trilliun biaya rehabilitasi infrastruktur pasca bencana Tsunami (Kompas 30 Desember 2004), tetapi juga bagaimana bangsa ini menata kembali puing-puing bencana yang mengakibatkan penderitaan rakyat di segala aspek kehidupan. Membangun kembali harmonisasi kehidupan bermasyarakat dan bernegara, yang mulai menemukan “rasa solidaritas” nya dimasa bencana ini.
Membangun rasa saling menghargai dalam pluralitas sosial, budaya, politik, dan ekonomi. Dengan tetap mengedepankan rasa kebersamaan, persatuan, dan kesatuan bangsa. Memang tidaklah mudah menatanya. Tetapi tangisan bencana Tsunami ini semoga mengajarkan kepada bangsa kita bagaimana menjalaninya.

Selamat datang tahun 2005

Kecian Deh Yu dan Empati Sosial (Sebuah Refleksi menjelang Natal)

“Kecian deh yu”, teriak anak saya yang baru berumur dua tahun lima bulan dalam suatu kesempatan. Untuk sesaat saya dibuat kaget dan terbengong dengan teriakan anak saya itu. Setiap minggu saya pasti dibuat terbengong dengan penguasaan kosa kata baru anak saya itu. Karena penasaran ingin tahu darimana anak saya mendapatkan kosa kata itu, saya menanyakan ke perawat anak saya. “Oh, itu dari anak-anak tetangga. Kemarin mereka saling mengolok-olok”, ujar perawat anak saya. Anak saya masih kesulitan untuk mengucapkan huruf “L”, sehingga berbunyi “Y”. Maka dalam suatu kesempatan ketika anak saya bilang ingin makan pecel “yeye”, tentu saja maksudnya pecel lele.

Continue reading

Extreme Measure – Tentang Etika Riset

“Kalau kamu bisa menyembuhkan penyakit kanker dengan membunuh satu orang, tidaklah kamu akan melakukannya?”, kata Dr. Lawrence Myrick , seorang dokter ahli saraf dan bedah RS Gramercy yang melakukan riset regenerasi syaraf lengkap, kepada Dr. Guy Luthan. Dialog tersebut dapat kita temukan dalam film “Extreme Measure”, sebuah thriller tahun 90-an yang bukunya dibuat oleh Michael Palmer.

Riset Dr Myrick tersebut diilhami oleh tayangan TV yang memperlihatkan tikus-tikus yang mengalami kerusakan saraf tulang punggung belakang dan berhasil di-regenerasi. Dr Myrick berguman,” Lima milyar tikus-tikus pasti akan bersukaria karena berita ini”. Dengan dibantu oleh Dr. Mingus, Dr. Myrick memulai riset dan experimennya dengan menggunakan tubuh manusia yang masih hidup (dalam istilah kedokteran dikenal dengan nama “vivisection”).

Dr. Guy Luthan (diperankan oleh Hugh Grant) adalah dokter Inggris yang bekerja di sebuah RS New York dan American Health Care System. Dia sedang bertugas ketika seorang gelandangan dibawa ke rumah sakit dengan denyut jantung yang naik turun dengan sangat tajam, memiliki gelang (sebagai tanda pengenal) medis yang tidak teridenttikasi dan akhirnya meninggal di meja dokter. Dr . Luthan tidak dapat sepenuhnya memahami kematian tersebut, dan memutuskan untuk mencari tahu lebih lanjut tentang penyebab kematian tersebut. Tetapi dia hanya menemukan para staff yang menghalang-halangi observasi yang dilakukannya dan banyaknya catatan-catatan yang hilang.

Continue reading