Category Archives: Refleksi

Merawat yang Terluka, Menjaga yang Merawat

(Seri 5 — Caregiver Juga Perlu Dirawat)

Oleh: Sigit Darmawan

Salah satu pesan penutup yang kuat dari Seminar “Family Dynamics and Mental Health” , 12 Juli 2026 lalu, adalah bahwa caregiver juga perlu dirawat.

Sebuah ilustrasi yang sangat sederhana untuk menjelaskan hal ini. Ketika berada di pesawat dan terjadi keadaan darurat, kita diminta memasang masker oksigen untuk diri sendiri terlebih dahulu sebelum membantu orang lain.

Bukan karena kita egois.
Bukan karena kita tidak peduli. tetapi karena kalau kita sendiri tidak bisa bernapas, kita tidak akan sanggup menolong orang lain.

Begitu juga dalam perjalanan menjadi caregiver.

Continue reading

Merawat yang Terluka, Menjaga yang Merawat

(Seri 4 — Dengarkan Dulu, Jangan Ceramahi Dulu)

Oleh: Sigit Darmawan

Salah satu pelajaran paling praktis lagi yang saya peroleh dari Seminar Family Dynamics & Mental Health adalah pentingnya mendengar.

Pelajaran ini terasa sangat dekat bagi saya, baik dalam pengalaman saya dan ketika berinteraksi dengan keluarga-keluarga dalam family connecting support group. Di sana saya semakin menyadari bahwa banyak keluarga sebenarnya sangat mengasihi anggota keluarganya yang sedang bergumul.

Tetapi dalam situasi yang penuh tekanan, kasih itu sering bercampur dengan panik, takut, lelah, bingung, bahkan rasa tidak berdaya. Akibatnya, respons pertama kita tidak selalu menjadi respons yang menolong.

Continue reading

Merawat yang Terluka, Menjaga yang Merawat

(Seri 3 — Jangan Memikul Koper Hari Esok Hari Ini)

Oleh: Sigit B. Darmawan

Salah satu pergumulan terbesar keluarga yang terdampak gangguan kesehatan mental adalah mengatasi kekhawatiran. Ini pergumulan yang sangat nyata.

Saya bisa merasakannya. Juga dalam pengalaman memfasilitasi keluarga yang terdampak, termasuk dalam family connecting support group. Di ruang-ruang seperti itu, saya sering mendengar kegelisahan yang sangat manusiawi: bagaimana nanti kalau gejala itu muncul lagi? Bagaimana kalau pengobatan tidak berjalan baik? Bagaimana kalau keluarga tidak sanggup lagi? Bagaimana dengan masa depannya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak muncul karena kurang iman. Sering kali justru muncul karena kasih. Kita khawatir karena kita mengasihi. Kita takut karena kita tidak ingin orang yang kita kasihi semakin menderita.

Continue reading

Merawat yang Terluka, Menjaga yang Merawat

(Seri 1 — Diagnosis Bukan Identitas)

(Seri 1 — Diagnosis Bukan Identitas)

Oleh: Sigit Darmawan

Salah satu pesan paling penting yang saya tangkap dari Seminar “Family Dynamics & Mental Health”, 12 Juli 2026 lalu, adalah ini: pisahkan pribadi dari penyakitnya.

Seminar ini dikelola oleh Sahabat Bagi Jiwa (SBJ), salah satu komunitas Family Supporting Group bagi para caregiver, bersama Seeing with New Eyes (SWNE), komunitas yang peduli pada kesehatan mental keluarga.

Tema besarnya sangat relevan dengan banyak keluarga hari ini: bagaimana keluarga dapat lebih memahami, mendampingi, dan menguatkan anggota keluarga yang sedang bergumul dengan kesehatan mental.

Dan saya ingin berbagi beberapa catatan penting yang mungkin berguna bagi keluarga-keluarha Kristen dalam serial tulisan.

Continue reading

Ketika Tumbler Jadi Cermin Bangsa: Mengapa Hal Sepele Bisa Menjadi Huru-hara?

Oleh: Sigit B. Darmawan

Ada kalanya sebuah bangsa bercermin bukan melalui peristiwa besar, melainkan lewat hal-hal kecil yang tidak kita sangka. Beberapa hari ini kita disuguhi kisah sebuah tumbler Tuku yang tertinggal di kereta dan tiba-tiba menjelma menjadi drama nasional. Linimasa penuh sesak, komentar tak henti bermunculan, media ikut mengulas, seolah negeri sedang diguncang isu strategis—padahal yang menjadi pusat perhatian hanyalah botol minum.

Sebuah tumbler, dengan harga yang bahkan tidak setara upah harian sebagian pekerja, berubah menjadi panggung tempat emosi publik, cara berpikir, dan watak digital kita tampil tanpa tapisan. Di situlah letak menariknya: bukan peristiwanya yang penting, tetapi reaksi kita.

Continue reading

Api dari Nepal: Avishkar Raut dan Kebangkitan Generasi Z



Oleh: Sigit Darmawan

“Suara anak muda bisa menjadi bara kecil yang menyalakan api perubahan besar.”

Kalimat ini bukan sekadar ungkapan; ia menemukan buktinya di Nepal, Maret 2025. Seorang pelajar SMA bernama Avishkar Raut berdiri di mimbar sekolahnya, menyampaikan pidato yang awalnya sederhana. Namun, rangkaian ucapannya yang menyala-nyala berubah menjadi suluh nasionalisme baru.

Video pidato itu meluas, memicu gelombang demonstrasi generasi muda, hingga akhirnya berperan dalam jatuhnya Perdana Menteri Nepal.

Continue reading

Keadilan atau Formalitas: Belajar dari Hakim Caprio



Oleh: Sigit Darmawan

I.
20 Agustus 2025 dunia hukum berduka. Frank Caprio, hakim kota kecil Providence, Rhode Island, meninggal pada usia 88 tahun setelah melawan kanker pankreas. Sosok sederhana ini dikenal lewat acara televisi Caught in Providence. Dari ruang sidang kecil, namanya mendunia.

Caught in Providence pertama kali tayang tahun 2000. Popularitasnya melonjak ketika klip-klip persidangannya di unggah ke youtube di 2015. Cuplikan-cuplikan video persidangannya yang viral telah dilihat jutaan orang di seluruh dunia. Caught in Providence resmi diangkat dalam jaringan sindikasi TV Nasional Amerika dan menjangkau jutaan orang setiap minggunya.

Continue reading

[Paradox AI] Generasi yang Berbicara dengan Mesin: Risiko Kesehatan Mental di Era AI

Oleh: Sigit Darmawan

I.
Dua pekan ini, linimasa Tiktok dipenuhi satu nama: Kendra Hilty.

Ia bukan selebritas, bukan tokoh publik. Namun di Tiktok jutaan orang sedang membicarakannya. Kisahnya membuat banyak orang memikirkan kembali batas antara manusia dan teknologi.

Kendra adalah seorang life coach sekaligus advokat bagi mereka yang hidup dengan ADHD (Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder)—gangguan perkembangan otak yang membuat seseorang sulit fokus, hiperaktif, dan impulsif.

Continue reading