Monthly Archives: August 2026

China: Ketika Pembangunan Menjadi Sebuah Sistem

(Catatan Penutup tentang Kota-kota di China — Bagian Terakhir)

Oleh: Sigit Darmawan

Perjalanan ini berakhir di Changsha.

Tentu perjalanan yang singkat seperti ini tidak cukup untuk menjelaskan negara sebesar China. Sejak awal, catatan-catatan ini juga bukan dimaksudkan sebagai kesimpulan tentang China.

Saya hanya mencoba membacanya dari dekat–melalui kota, perjalanan darat, ruang publik, destinasi wisata, teknologi sehari-hari, dan bagaimana masyarakat menggunakan semuanya.

Namun setelah berpindah dari satu tempat ke tempat lain, saya tidak lagi bertanya: Apa yang mereka bangun?

Continue reading →

China: Domestic First, World Class

(Catatan Ringan tentang Kota-kota di China — Bagian Kelima)

Oleh: SigitDarmawan

Perjalanan dari Zhangjiajie menuju Changsha membawa saya melewati Changde dan Yiyang.

Kali ini tidak ada destinasi wisata khusus yang kami kunjungi. Sebagian besar waktu dihabiskan di jalan—melewati jalan raya, jalan tol, jembatan, terowongan, kawasan permukiman, kota-kota kecil, hingga pusat kota.

Justru perjalanan seperti ini memberi perspektif yang berbeda.

Continue reading →

Zhangjiajie: Pariwisata Kota yang Direkayasa Menjadi Pengalaman


(Catatan Ringan tentang Kota-kota di China — Bagian Keempat)

Oleh: SigitDarmawan

Setelah Chongqing, Wulong, dan Fenghuang, perjalanan saya berlanjut ke Zhangjiajie, sebuah kota di barat laut Provinsi Hunan yang namanya hampir identik dengan wisata alam China.

Secara administratif, Zhangjiajie terdiri atas dua distrik dan dua county. Kota ini sebelumnya bernama Dayong, sebelum pada 1994 berganti nama menjadi Zhangjiajie seiring semakin kuatnya reputasi kawasan wisatanya. Nama itu sendiri dikaitkan dengan sejarah lokal kota.

Continue reading →

Fenghuang: Kota Tua yang Tetap Hidup



(Catatan Ringan tentang Kota-kota di China—Bagian Ketiga)

Oleh: Sigit Darmawan

Setelah Chongqing dan Wulong, perjalanan saya berlanjut ke Provinsi Hunan.

Destinasi kali ini menawarkan cerita yang berbeda.

Kalau Chongqing memperlihatkan bagaimana sebuah metropolitan mengelola kompleksitas, dan Wulong menunjukkan bagaimana geografi dapat diubah menjadi aset ekonomi, Fenghuang membawa saya pada pertanyaan lain:

Bisakah sebuah kota tua tetap hidup tanpa berubah menjadi museum?

Continue reading →

Wulong: Ketika Geografi Menjadi Aset Ekonomi



(Catatan Ringan tentang Kota-kota di China—Bagian Kedua)

Oleh: Sigit Darmawan

Setelah beberapa hari menjelajahi Chongqing, perjalanan saya berlanjut ke Wulong.

Perjalanan ini terasa seperti berpindah di antara dua wajah pembangunan China yang sangat berbeda.

Chongqing adalah metropolitan raksasa—padat, vertikal, penuh gedung tinggi, jalan bertingkat, jembatan, metro, pusat perdagangan, dan kehidupan digital yang bergerak cepat.

Continue reading →

Chongqing: Kota yang Mengubah Kompleksitas Menjadi Sistem

(Catatan Ringan tentang Kota-kota di China – Bagian Pertama)

Oleh: Sigit Darmawan

Perjalanan saya ke China kali ini bukan sekadar perjalanan wisata.

Ini adalah kunjungan keempat saya ke China dalam rentang hampir dua dekade, sejak 2008 hingga 2026.

Dalam perjalanan-perjalanan sebelumnya, saya pernah melihat beberapa kota besar dan pusat pertumbuhan China— Beijing, Hong Kong, Macau, Tianjin, Shanghai, dan Shenzhen.

Karena itu, perjalanan kali ini memberi perspektif yang sedikit berbeda. Saya tidak datang sepenuhnya sebagai orang yang baru pertama kali melihat China. Ada ingatan tentang China yang saya lihat hampir dua dekade lalu, ada pengalaman dari kota-kota besar yang pernah saya kunjungi, dan sekarang ada kesempatan untuk melihat kembali bagaimana negeri ini berkembang dari dekat.

Continue reading →

URI: Mendidik Negarawan atau Mencetak Pejabat?

Five students working on a model of a sustainable city with wind turbines and solar panels in front of a research and innovation building

Oleh: Sigit Darmawan

Saya selalu ingin percaya bahwa lahirnya sebuah universitas adalah kabar baik.

Sebagai orang yang terjun di bidang edukasi dan pelatihan, saya meyakini bahwa setiap kampus baru seharusnya membuka cakrawala. Memperluas pengetahuan. Melahirkan ilmuwan, profesional, pemikir, dan pemimpin yang lebih baik.

Karena itu, gagasan mendirikan Universitas Republik Indonesia atau URI patut disambut dengan pikiran terbuka. Pemerintah menyebut URI akan berfokus pada sains, teknologi, teknik, matematika, kesehatan, dan kedokteran. URI juga diarahkan untuk mempersiapkan calon pemimpin pemerintahan dan badan usaha negara.

Niatnya besar. Namun justru karena niatnya besar, pertanyaan saya juga tidak boleh kecil.

Continue reading →