
Oleh: Sigit Darmawan
Seorang pengembara sedang menuju Yerusalem. Di dekat api unggun, ia menceritakan kisah tentang Daniel—pemuda Yehuda yang hidup sebagai orang buangan di pusat kekuasaan Babilonia.
Baru di akhir cerita saya memahami bahwa sang pengembara itu adalah salah seorang dari orang-orang Majus yang sedang menuju Betlehem. Sebuah pilihan kreatif yang menarik: kisah iman di Babilonia dibawa melintasi ratusan tahun menuju kelahiran Kristus.
Begitulah film Daniel and the Fiery Furnace, yang kini sedang tayang di berbagai sinema, membuka ceritanya. Saya berkesempatan menontonnya Sabtu kemarin.
Film drama epik Alkitab tahun 2026 ini ditulis dan disutradarai kakak-beradik Daniel dan Matthew Kooman. Mena Massoud, aktor kelahiran Mesir yang besar di Kanada dan dikenal lewat Aladdin (2019), memerankan Daniel sekaligus terlibat sebagai produser. Raja Nebukadnezar dimainkan Elijah Alexander, aktor yang sudah cukup akrab bagi penonton drama Alkitab melalui perannya sebagai Atticus Aemilius dalam serial The Chosen.
Tiga sahabat Daniel—Hananya, Misael, dan Azarya, kemudian dikenal sebagai Sadrakh, Mesakh, dan Abednego—diperankan Sunjay Midda, Adam Lahraoui, dan Zaki Ali. Ketiganya adalah aktor Inggris yang membawa dinamika persahabatan dan keberanian kolektif yang menjadi pusat adegan perapian yang menyala-nyala dalam cerita ini.
Film berdurasi 108 menit ini terutama mengambil kisah dari tiga pasal pertama Kitab Daniel.
Tetapi bagi saya, bagian paling menarik justru bukan dapur apinya.
Melainkan pertanyaan yang harus dijawab Daniel: bagaimana hidup di Babilonia tanpa membiarkan Babilonia hidup di dalam dirinya?
Daniel tidak memilih menjadi pemberontak. Ia belajar, bekerja, menggunakan kemampuannya, bahkan mendapat kepercayaan Nebukadnezar. Film mengambil kebebasan dramatik dengan memperlihatkan bagaimana Daneil ikut membantu merancang sebuah patung yang kemudian menjadi pusat penyembahan kerajaan. Ia bersedia melayani raja, tetapi menolak ketika pelayanan berubah menjadi penyembahan.
Di situlah konflik psikologisnya menjadi menarik.
Sampai di mana adaptasi masih sehat? Kapan loyalitas kepada organisasi, negara, pemimpin, pekerjaan, atau komunitas mulai menuntut kita mengorbankan sesuatu yang lebih mendasar?
Christianity Today, media Kristen Evangelikal yang banyak mengulas teologi, gereja, dan budaya, melihat pergulatan ini sebagai salah satu pengembangan karakter yang menarik. Kooman bersaudara menjelaskan bahwa orang beriman tidak mungkin sepenuhnya menghindari “Babilonia” zamannya. Mereka tetap harus bekerja, berinteraksi, dan berpartisipasi dalam masyarakat. Tantangannya adalah bagaimana berada di dalam sistem tanpa kemudian menjadi takluk kepadanya.
Lalu muncullah patung emas.
Sadrakh, Mesakh, dan Abednego diperintahkan bersujud. Secara pragmatis, bukankah lebih mudah membungkukkan badan beberapa detik lalu kembali bisa menjalani kehidupan?
Tetapi persoalannya bukan sekadar gerakan tubuh.
Persoalannya adalah kepada siapa kesetiaan terakhir diberikan.
Bahkan ketika menghadapi dapur api yang menyala, mereka tidak berkata Tuhan pasti menyelamatkan mereka. Tuhan sanggup melakukannya. Tetapi jika tidak sekalipun, mereka tetap tidak akan menyembah patung itu.
Bagi saya, inilah salah satu adegan yang menyentuh di film ini dan menggambarkan pernyataan iman paling radikal dalam Alkitab: Iman bukan transaksi.
o00o
Yang juga menarik adalah sosok Nebukadnezar justru menjadi karakter yang secara psikologis lebih kompleks. Ia brutal dan narsistis, tetapi juga sekaligus ingin tahu tentang Allah Daniel. Ia dapat mengakui kuasa Tuhan pada satu saat, lalu kemudian membangun patung untuk kemuliaannya sendiri pada saat berikutnya.
Christianity Today bahkan menyebut Nebukadnezar sebagai salah satu karakter yang paling menarik dalam film ini. Elijah Alexander dinilai berhasil memperlihatkan kontradiksi seorang penguasa yang mulai menyadari adanya kuasa yang lebih besar daripada dirinya, tetapi pada saat yang sama tetap tidak mampu melepaskan kebutuhan untuk menjadi pusat dunia.
Respons positif juga datang dari Movieguide, sebuah organisasi dan media review film yang secara terbuka menggunakan perspektif Kristen dan prinsip-prinsip Alkitab dalam menilai film serta program televisi . Mereka memuji sinematografi, desain Babilonia, penampilan pemain, serta kemampuannya menghidupkan kembali kisah Alkitab yang sudah sangat dikenal menjadi sebuah pengalaman sinematik yang emosional. Namun mereka juga mengingatkan tentang intensitas beberapa adegan kekerasan dalam film tersebut.
Sementara Sr. Hosea Rupprecht dari Pauline Media Studies, lembaga kajian media Katolik, menyoroti salah satu pesan penting film: ketika seseorang tetap memberikan kesaksian tentang imannya, terutama di tengah tekanan atau penganiayaan, keteguhan itu dapat memengaruhi orang-orang yang menyaksikannya.
Saya kira pengamatan itu menarik.
Sebab keberanian Sadrakh, Mesakh, dan Abednego ternyata bukan hanya mengenai keselamatan mereka sendiri. Sikap mereka juga memaksa Nebukadnezar—dan orang-orang di sekelilingnya—untuk mempertanyakan kembali apa yang mereka percayai tentang kekuasaan.
Namun film ini bukan tanpa kelemahan.
Saya justru berharap ada ruang lebih besar bagi ketakutan, keraguan, dan pergumulan batin Daniel serta ketiga sahabatnya. Sebab dalam kehidupan nyata, saya harus akui pilihan moral jarang hadir sejelas patung emas di hadapan kita.
Dan justru di situlah kisah Daniel menjadi sangat modern.
Kita hidup dalam dunia yang jauh lebih kompleks daripada sekadar pilihan antara tunduk atau melawan. Dan itu menuntut adaptasi.
Kita bekerja dalam organisasi yang mungkin tidak seluruh nilainya sama dengan nilai kita. Kita hidup bersama orang-orang yang berbeda keyakinan, kepentingan, dan pandangan. Kita harus berkompromi agar kerja sama dapat terjadi. Kita harus beradaptasi dengan teknologi, tekanan ekonomi, perubahan sosial, tuntutan karier, dan berbagai sistem yang tidak sepenuhnya dapat kita kendalikan.
Karena itu, integritas tidak berarti harus menolak semua kompromi.
Ada kompromi yang diperlukan agar manusia dapat hidup bersama. Namun kisah Daniel mengingatkan bahwa ada perbedaan antara kompromi dalam cara dan kompromi terhadap nilai yang paling mendasar.
Kebijaksanaan mungkin terletak pada kemampuan membedakan keduanya.
Kita mungkin juga perlu belajar bahwa keberanian tidak selalu berarti berteriak paling keras atau melawan semua orang. Daniel tetap bekerja untuk Babilonia. Ia tidak kehilangan profesionalismenya hanya karena berbeda keyakinan dengan penguasanya.
Maka mempertahankan prinsip tidak seharusnya menjadikan kita manusia yang keras, merasa paling benar, atau menolak dialog.
Kita bisa berbeda tanpa membenci. Kita bisa kritis tanpa kehilangan rasa hormat. Kita bisa berada di dalam sebuah sistem, bekerja secara profesional di dalamnya, sekaligus tetap memiliki keberanian untuk mengatakan: sampai di sini, saya tidak bisa ikut.
“Patung emas” modern pun tidak selalu berbentuk patung. Ia bisa bernama jabatan, uang, popularitas, algoritma, penerimaan sosial, atau ketakutan kehilangan posisi, jaringan, jabatan, atau keamanan.
Kita dapat bersujud tanpa pernah membungkukkan badan.
Kita bersujud ketika tidak lagi berani mengatakan yang benar karena takut tidak disukai.
Ketika angka lebih penting daripada kejujuran. Ketika jabatan lebih penting daripada prinsip. Ketika penerimaan kelompok menjadi lebih penting daripada keyakinan.
Di titik itulah Nebukadnezar menjadi cermin yang tidak nyaman bagi kita, dan bagi saya pribadi.
Lalu film kembali kepada orang Majus.
Dalam imajinasi kratif film, emas menghubungkan Babilonia dengan Betlehem. Di Babilonia, emas dibuat menjadi patung agar manusia dipaksa menyembah. Berabad-abad kemudian, emas justru dibawa sebagai persembahan kepada seorang bayi.
Dari emas yang menuntut penyembahan menjadi emas yang dipersembahkan dalam penyembahan.
Itulah pertanyaan terbesar yang ditinggalkan film ini kepada kita, yang harus kembali saya akui mungkin jauh lebih sulit:
Di tengah kehidupan yang penuh kompromi, bisakah kita tetap lentur tanpa kehilangan prinsip, terbuka tanpa kehilangan identitas, berhasil tanpa menjadikan keberhasilan sebagai berhala, dan hidup di dalam “Babilonia” tanpa membiarkan Babilonia menguasai hati kita?
Persoalannya bukan apakah kita hidup di Babilonia.
Kita semua, dengan caranya masing-masing, hidup di dalamnya.
Persoalannya adalah: ketika semua orang memilih bersujud, apakah kita masih tahu mengapa kita harus tetap berdiri?