China: Domestic First, World Class


(Catatan Ringan tentang Kota-kota di China — Bagian Kelima)

Oleh: SigitDarmawan

Perjalanan dari Zhangjiajie menuju Changsha membawa saya melewati Changde dan Yiyang.

Kali ini tidak ada destinasi wisata khusus yang kami kunjungi. Sebagian besar waktu dihabiskan di jalan—melewati jalan raya, jalan tol, jembatan, terowongan, kawasan permukiman, kota-kota kecil, hingga pusat kota.

Justru perjalanan seperti ini memberi perspektif yang berbeda.



Setelah sebelumnya melihat Chongqing, Wulong, Fenghuang, Tianmen Mountain, dan Zhangjiajie Grand Canyon, saya semakin menyadari bahwa kualitas pariwisata yang kami temui bukan sesuatu yang berdiri sendiri.

Ada sistem besar di belakangnya.

Dan satu hal yang paling menarik bagi saya adalah ini:

China tampaknya tidak membangun pariwisata kelas dunia terutama untuk wisatawan asing. Mereka membangunnya terlebih dahulu untuk masyarakatnya sendiri.

○00○

Di banyak negara, istilah world-class tourism destination sering diasosiasikan dengan kemampuan menarik wisatawan internasional: bandara diperbaiki, hotel dibangun, kawasan dipercantik, dan promosi diperbesar untuk mendatangkan devisa.

China memberi kesan yang sedikit berbeda.

Di hampir semua destinasi yang kami kunjungi, wisatawan domestik sangat dominan. Keluarga dengan anak-anak, kelompok lansia, anak muda, komunitas, maupun rombongan dari provinsi lain memenuhi berbagai destinasi.

Mereka bukan sekadar pengunjung tambahan. Mereka adalah pasar utamanya.

Dengan jumlah penduduk yang sangat besar dan kelas menengah yang terus berkembang, pasar domestik China sendiri sudah menciptakan skala ekonomi bagi industri pariwisata.

Investasi destinasi tidak harus menunggu jutaan wisatawan asing datang. Ketika masyarakat sendiri bepergian, membawa keluarga berlibur, mengunjungi kota lain, dan membelanjakan uangnya di berbagai daerah, pariwisata domestik telah menjadi mesin ekonomi yang besar.

Menariknya, orientasi domestik ini tidak menghasilkan standar yang rendah.

Justru sebaliknya.

Di Wulong, alam karst tidak sekadar dibiarkan menjadi pemandangan. Infrastruktur membuatnya relatif mudah dan aman dijangkau.

Di Fenghuang, kota tua tidak hanya dipertahankan sebagai peninggalan sejarah, tetapi tetap hidup sebagai ruang sosial sekaligus ekonomi.

Di Zhangjiajie, terutama Tianmen Mountain dan Grand Canyon, pengalaman wisata bahkan direkayasa sangat jauh: cable car, bus, lift, eskalator di dalam gunung, walkway di tebing, glass bridge, signage, toilet, tempat istirahat, hingga pengaturan arus pengunjung.

Alam tetap menjadi atraksi utama. Tetapi engineering membuat alam tersebut lebih accessible dan dapat dinikmati jutaan orang.

Dan sebagian besar penggunanya adalah masyarakat China sendiri.

○00○

Perjalanan Zhangjiajie–Changde–Yiyang–Changsha kemudian memperlihatkan lapisan yang lebih besar.

Pariwisata berkualitas ternyata tidak dimulai dari gerbang objek wisata.

Ia dimulai jauh sebelumnya.

Dari jalan dengan kualitas yang baik, tol yang tersambung, jembatan yang memotong hambatan geografis, terowongan yang menembus pegunungan, rest area, hingga transportasi antarkota.

Dari koneksi antara kota besar, kota menengah, kota kecil, dan kawasan wisata.

Selama perjalanan dari Chongqing hingga Hunan, kualitas infrastrukturnya tentu tidak selalu sama. Tetapi yang terasa adalah konsistensi sistemnya: perjalanan relatif lancar, waktu tempuh lebih dapat diprediksi, dan hambatan geografis tidak begitu saja dibiarkan menjadi hambatan akses.

Ini penting.

Destinasi yang luar biasa tetapi sulit dijangkau akan tetap menjadi pengalaman bagi kelompok terbatas. Ketika akses menjadi lebih mudah, perjalanan berubah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Di titik inilah pariwisata bertemu dengan pembangunan infrastruktur.

China tidak hanya membangun tempat untuk dikunjungi.

Mereka membangun kemampuan masyarakat untuk bergerak.

○00○

Pengalaman ini tentu membuat saya membandingkannya dengan Indonesia.

Kita memiliki Raja Ampat, Labuan Bajo, dan begitu banyak destinasi dengan keindahan alam yang tidak kalah spektakuler.

Persoalan kita sering kali muncul setelah kata “indah”.

Bagaimana mencapainya? Berapa biayanya? Seberapa mudah keluarga biasa dapat datang? Bagaimana transportasi antartitik, keselamatan, toilet, signage, tempat istirahat, sistem tiket, dan pengelolaan pengunjungnya?

Indonesia memang berbeda. Sebagai negara kepulauan, tantangan konektivitas kita jauh lebih kompleks. Tidak semua destinasi juga harus menjadi destinasi massal. Raja Ampat, misalnya, tetap membutuhkan pembatasan sesuai daya dukung lingkungan.

Tetapi antara mass tourism dan wisata yang terlalu eksklusif terdapat ruang yang sangat luas untuk inovasi.

Pertanyaannya bukan sekadar bagaimana mendatangkan lebih banyak wisatawan.

Pertanyaannya adalah bagaimana membuat destinasi lebih accessible, mengelola pengunjung dengan lebih cerdas, dan membangun kualitas pengalaman yang lebih konsisten.

Dan di atas semuanya, muncul satu pertanyaan yang lebih mendasar:

Untuk siapa sebenarnya kita membangun pariwisata?

Apakah terutama untuk wisatawan asing dan wisatawan premium? Atau pertama-tama agar masyarakat kita sendiri semakin mampu mengenal dan menikmati negaranya?

○00○

Ketika masyarakat domestik menjadi pasar utama, kualitas pariwisata tidak lagi sekadar instrumen promosi negara.

Ia menjadi bagian dari kualitas hidup.

Jalan, kereta, pedestrian, taman kota, ruang publik, kawasan heritage, pegunungan, maupun taman nasional pada akhirnya bukan hanya digunakan wisatawan. Masyarakat sendiri menikmatinya.

Ekonomi kemudian bergerak mengikuti mobilitas itu.

Hotel tumbuh. Restoran hidup. UMKM mendapatkan pasar. Transportasi berkembang. Daerah memperoleh aktivitas ekonomi baru. Uang yang dibelanjakan masyarakat bergerak dari satu wilayah ke wilayah lain.

Pariwisata, dalam pengertian ini, bukan sekadar mendatangkan orang ke sebuah destinasi.

Ia juga menjadi mekanisme redistribusi aktivitas ekonomi melalui mobilitas masyarakat.

Inilah yang membuat saya melihat istilah world class dari perspektif yang sedikit berbeda.

World class tidak selalu berarti sesuatu yang dibangun agar orang asing kagum.

Mungkin pertanyaan yang lebih mendasar justru:

Apakah warga negaranya sendiri dapat menikmati standar yang tinggi?

Ketika transportasi, kebersihan, keselamatan, fasilitas publik, dan pengalaman pengunjung telah dibangun dengan baik untuk jutaan warga domestik, wisatawan internasional pada akhirnya tinggal ikut menikmati sistem yang sama.

Dalam pengertian itu, logika China terasa sederhana:

Domestic First. World Class.

Bukan karena wisatawan internasional tidak penting. Tetapi karena pasar domestik menjadi fondasinya.

Dan ketika standar tinggi dibangun terlebih dahulu untuk masyarakat sendiri, kualitas internasional menjadi konsekuensi—bukan sekadar etalase.

○00○

Perjalanan kami hampir berakhir di Changsha.

Setelah melihat metropolitan Chongqing, bentang alam Wulong, kehidupan kota tua Fenghuang, tourism engineering Zhangjiajie, hingga perjalanan darat ratusan kilometer melintasi Hunan, pertanyaan saya pun berubah.

Bukan lagi tentang destinasi mana yang paling indah.

Melainkan:

Apa yang sebenarnya dapat dipelajari dari cara China menghubungkan kota, infrastruktur, teknologi, pariwisata, dan masyarakatnya menjadi sebuah sistem?

Mungkin justru itulah catatan terakhir yang perlu saya tuliskan sebelum perjalanan ini benar-benar selesai.

Changsha di malam hari, 17 Agustus 2026_

Leave a comment