Monthly Archives: September 2026

Ketika Semua Orang Bersujud, Adakah Kita Tetap Berdiri?

Oleh: Sigit Darmawan

Seorang pengembara sedang menuju Yerusalem. Di dekat api unggun, ia menceritakan kisah tentang Daniel—pemuda Yehuda yang hidup sebagai orang buangan di pusat kekuasaan Babilonia.

Baru di akhir cerita saya memahami bahwa sang pengembara itu adalah salah seorang dari orang-orang Majus yang sedang menuju Betlehem. Sebuah pilihan kreatif yang menarik: kisah iman di Babilonia dibawa melintasi ratusan tahun menuju kelahiran Kristus.

Continue reading →

Pendidikan Gratis sampai Perguruan Tinggi: Mimpi Besar, Ujian Besar bagi APBN

Oleh: Sigit Darmawan

Ada satu bagian dari pidato Presiden Prabowo Subianto beberapa hari lalu yang membuat saya berhenti sejenak.

Pada 18 September 2026, Presiden menyatakan bahwa biaya pendidikan negeri dari SD, SMP, SMA hingga universitas negeri harus gratis. Presiden juga mengatakan akan segera menggelar rapat terbatas untuk membahas bagaimana gagasan itu dapat diwujudkan.

Continue reading →

APBN sebagai Dokumen Kepercayaan Bangsa



Oleh: Sigit Darmawan

Saya bukan ekonom fiskal. Saya juga bukan orang yang sehari-hari bekerja di ruang penyusunan anggaran negara. Tetapi dalam banyak percakapan tentang transformasi organisasi, tata kelola, rantai pasok, risiko, dan masa depan institusi, saya semakin sering melihat satu hal: persoalan besar hampir selalu bermula dari cara kita membaca persoalan kecil.

Begitu pula APBN.

Di permukaan, ia tampak sebagai urusan angka. Berapa pendapatan negara. Berapa belanja negara. Berapa defisit. Berapa utang. Berapa subsidi. Berapa anggaran untuk program prioritas.

Continue reading →

Kalimantan dalam Kepungan Api: Hutan Sebagai Cermin Peradaban Kita


Oleh: Sigit Darmawan

Ada kegelisahan yang muncul setiap kali saya membaca berita tentang kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan.

Kegelisahan itu bukan hanya karena angka titik panas terus naik. Bukan hanya karena asap kembali menutup langit. Tetapi karena setiap peristiwa karhutla selalu membawa saya pada pertanyaan yang lebih jauh: mengapa bangsa yang begitu kaya hutan, air, tanah, dan pengetahuan masih berulang kali kalah oleh api?

Sebagai orang yang banyak bergelut dengan isu transformasi organisasi, rantai pasok, tata kelola, dan industri, saya sering melihat satu pola yang sama. Banyak persoalan besar mula-mula dianggap sebagai urusan teknis. Seolah-olah cukup diselesaikan dengan prosedur, alat, anggaran, dan rapat koordinasi.

Continue reading →