Category Archives: Bisnis dan Ekonomi

Pelajaran Cape Verde: Mengapa Organisasi Kecil Kini Semakin Sulit Dikalahkan

Oleh: Sigit B. Darmawan

Cape Verde kalah. Tetapi tidak tunduk.

Saya selalu tertarik pada cerita seperti ini. Bukan semata karena sepak bolanya, tetapi karena ada pelajaran di dalamnya. Dalam pengalaman mendampingi tim kecil yang ingin berkembang, saya sering melihat pola yang sama: yang kecil kerap lebih lapar, lebih dekat dengan masalah, dan lebih cepat bergerak. Mereka mungkin tidak selalu menang. Tetapi mereka sering membuat yang besar kehilangan kenyamanan.

Argentina menang 3-2 lewat perpanjangan waktu. Tetapi pertandingan itu meninggalkan catatan yang lebih panjang daripada sekadar skor. Cape Verde, negara kecil dan debutan Piala Dunia, membuat Argentina bekerja sampai batas saraf terakhirnya. Mereka dua kali bangkit setelah tertinggal dan baru menyerah setelah gol bunuh diri pada menit ke-111.

Continue reading

Siapa yang Menang dari Damai AS-Iran? Jawabannya: China

Oleh: Sigit Darmawan

Setiap perang selalu menyisakan pertanyaan klasik: siapa yang kalah, siapa yang menang?

Tetapi dalam perang modern, jawabannya jarang sederhana.

Kemenangan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang menembakkan rudal terakhir. Tidak selalu oleh siapa yang menandatangani kesepakatan damai. Tidak juga semata-mata oleh siapa yang paling keras berbicara tentang kedaulatan, keamanan, atau stabilitas kawasan.

Dalam konflik AS–Iran yang mengguncang Selat Hormuz sejak akhir Februari 2026, kemenangan justru dibaca dari arah yang lebih tersembunyi: aliran kapal tanker, cadangan minyak, sistem pembayaran, dan kemampuan sebuah negara menjaga rantai pasok energinya saat dunia sedang panik.

Continue reading

MBG dan Luka Kepercayaan Publik



Oleh: Sigit Darmawan

Saya ingin memulai tulisan ini dengan pengakuan yang sederhana.

Saya mendukung gagasan dasar Makan Bergizi Gratis.

Sulit bagi saya untuk menolak sebuah kebijakan yang ingin memastikan anak-anak Indonesia tidak belajar dalam keadaan lapar. Sulit bagi saya untuk tidak tersentuh oleh cita-cita bahwa ibu hamil, balita, dan anak sekolah dari keluarga rentan mendapat perhatian lebih serius dari negara.

Sebagai orang yang belakangan sering berdiri di ruang kelas, memfasilitasi berbagai pelatihan, dan melihat betapa besar pengaruh kesiapan fisik terhadap kesiapan berpikir, saya percaya satu hal: tidak ada pembelajaran yang kokoh di atas tubuh yang lapar.

Continue reading

Piala Dunia 2026: Ketika Algoritma Sudah Memilih Juaranya

Two analysts discussing FIFA World Cup 2026 predictions using digital data and stadium model


(Piala Dunia 2026 dan Batas Kemampuan Data Analitik)

Oleh: Sigit Darmawan

Menjelang perhelatan Piala Dunia 2026 yang akan dimulai 12 Juni besok, muncul pertanyaan menarik: “Siapa yang dipilih algoritma untuk menjadi juara?”

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Piala Dunia bukan hanya panggung adu teknik, taktik, dan bakat individu. Ia juga menjadi arena pertarungan data, kecerdasan buatan, dan superkomputer.

Platform seperti Opta, StatsBomb, dan FBRef berlomba membaca peluang juara dunia masa depan. Ribuan pertandingan dianalisis. Jutaan data diproses. Puluhan ribu simulasi dijalankan.

Continue reading

PMI, Rantai Pasok dan Pertaruhan Daya Saing

Container ships loaded with colorful cargo containers docked at an industrial shipping port at sunset
Container ships docked at a bustling port during a vibrant sunset

Oleh: Sigit Darmawan

Angka 50.

Bagi sebagian orang, angka itu mungkin tidak berarti apa-apa.

Namun bagi dunia manufaktur, angka 50 adalah garis batas yang menentukan apakah sebuah industri sedang bertumbuh atau mulai kehilangan tenaga. Di atas 50 berarti ekspansi. Di bawah 50 berarti kontraksi.

Karena itu ketika PMI (Purchasing Managers Index) manufaktur Indonesia berada tepat di angka 50,0 pada Mei 2026 setelah sempat jatuh ke 49,1 pada April 2026, perhatian kita seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah industri sedang tumbuh atau menyusut.

Continue reading

Ketika Robot Mulai Menari di Panggung Manusia

Flying Bug Unitree Robotics


Oleh: Sigit Darmawan

Ada yang menarik dari panggung America’s Got Talent 2026. Bukan hanya penyanyi bersuara emas. Bukan hanya aksi akrobatik yang membuat penonton menahan napas.

Tetapi robot.

Sekelompok robot Unitree tampil bersama seorang performer bernama Flying Bug di panggung AGT Season 21. Simon Cowell menyebut penampilan tersebut sebagai sesuatu yang “insane” sekaligus “brilliant”. Empat juri memberikan empat “Yes” dan meloloskan mereka ke babak berikutnya.

Event AGT & BGT memang selalu menjadi favorit tontonan saya di beberapa tahun terakhir ini. Melihat keunikan dan keberagaman talenta dari berbagai negara dalam satu panggung.

Continue reading

Ketika Algoritma Salah Membaca Juara

(Mengapa Data Gagal Menangkap Kebangkitan Arsenal?)

Oleh: Sigit Darmawan

Di awal Liga Primer 2025/2026, saya pernah menulis artikel berjudul “Data vs Intuisi: Pelajaran dari Premier League untuk Bisnis dan Organisasi“. Tulisan itu mencoba membaca persaingan liga melalui data analitik: xG (expected Goals), xGA (expected Goals Against), intensitas pressing, tingkat cedera, hingga efektivitas penyelesaian akhir. Rujukannya cukup kuat: FBRef, StatsBomb, Understat, dan Transfermarkt (2022–2025)—platforn data sepakbola digital analitik untuk statistik pemain dan klub.

Hasilnya terlihat meyakinkan.

Liverpool diproyeksikan tetap dominan. Manchester City dianggap pesaing utama. Arsenal dinilai kuat, tetapi belum cukup kuat untuk menjadi kandidata juara. Chelsea masih dipandang sebagai proyek yang belum stabil.

Namun sepak bola selalu punya cara mempermalukan kesombongan manusia.

Continue reading

Ketika Trump Terbang ke Beijing: Trade War Sudah Usai, Kini Mulai Supply Chain War

Oleh: Sigit Darmawan

Dulu, kunjungan Presiden sebuah negara ke negara lain selalu dibaca dengan kacamata diplomasi klasik: negosiasi dagang, isu keamanan, atau persaingan ideologi.

Hari ini, konteksnya sudah berubah drastis.

Ketika Donald Trump mendarat di Beijing pada 13–15 Mei 2026, dunia sebenarnya sedang menyaksikan format diplomasi yang berbeda. Menurut laporan resmi The White House serta liputan BBC News dan Reuters (2026), Trump tidak hanya datang membawa pejabat diplomatik atau negosiator perdagangan. Ia membawa delegasi elite teknologi Amerika.

Elon Musk hadir dengan misi yang sangat spesifik: mengamankan persetujuan regulator China agar sistem Full Self Driving milik Tesla dapat beroperasi lebih luas di pasar domestik China. Ini sangat penting karena Gigafactory Shanghai masih menjadi salah satu basis produksi global terbesar Tesla, sementara produsen kendaraan listrik lokal China bergerak sangat agresif.

Continue reading