Category Archives: Bisnis dan Ekonomi

Fenghuang: Kota Tua yang Tetap Hidup



(Catatan Ringan tentang Kota-kota di China—Bagian Ketiga)

Oleh: Sigit Darmawan

Setelah Chongqing dan Wulong, perjalanan saya berlanjut ke Provinsi Hunan.

Destinasi kali ini menawarkan cerita yang berbeda.

Kalau Chongqing memperlihatkan bagaimana sebuah metropolitan mengelola kompleksitas, dan Wulong menunjukkan bagaimana geografi dapat diubah menjadi aset ekonomi, Fenghuang membawa saya pada pertanyaan lain:

Bisakah sebuah kota tua tetap hidup tanpa berubah menjadi museum?

Continue reading

Wulong: Ketika Geografi Menjadi Aset Ekonomi



(Catatan Ringan tentang Kota-kota di China—Bagian Kedua)

Oleh: Sigit Darmawan

Setelah beberapa hari menjelajahi Chongqing, perjalanan saya berlanjut ke Wulong.

Perjalanan ini terasa seperti berpindah di antara dua wajah pembangunan China yang sangat berbeda.

Chongqing adalah metropolitan raksasa—padat, vertikal, penuh gedung tinggi, jalan bertingkat, jembatan, metro, pusat perdagangan, dan kehidupan digital yang bergerak cepat.

Continue reading

Chongqing: Kota yang Mengubah Kompleksitas Menjadi Sistem

(Catatan Ringan tentang Kota-kota di ChinaBagian Pertama)

Oleh: Sigit Darmawan

Perjalanan saya ke China kali ini bukan sekadar perjalanan wisata.

Ini adalah kunjungan keempat saya ke China dalam rentang hampir dua dekade, sejak 2008 hingga 2026.

Dalam perjalanan-perjalanan sebelumnya, saya pernah melihat beberapa kota besar dan pusat pertumbuhan China— Beijing, Hong Kong, Macau, Tianjin, Shanghai, dan Shenzhen.

Karena itu, perjalanan kali ini memberi perspektif yang sedikit berbeda. Saya tidak datang sepenuhnya sebagai orang yang baru pertama kali melihat China. Ada ingatan tentang China yang saya lihat hampir dua dekade lalu, ada pengalaman dari kota-kota besar yang pernah saya kunjungi, dan sekarang ada kesempatan untuk melihat kembali bagaimana negeri ini berkembang dari dekat.

Continue reading

URI: Mendidik Negarawan atau Mencetak Pejabat?

Five students working on a model of a sustainable city with wind turbines and solar panels in front of a research and innovation building

Oleh: Sigit Darmawan

Saya selalu ingin percaya bahwa lahirnya sebuah universitas adalah kabar baik.

Sebagai orang yang terjun di bidang edukasi dan pelatihan, saya meyakini bahwa setiap kampus baru seharusnya membuka cakrawala. Memperluas pengetahuan. Melahirkan ilmuwan, profesional, pemikir, dan pemimpin yang lebih baik.

Karena itu, gagasan mendirikan Universitas Republik Indonesia atau URI patut disambut dengan pikiran terbuka. Pemerintah menyebut URI akan berfokus pada sains, teknologi, teknik, matematika, kesehatan, dan kedokteran. URI juga diarahkan untuk mempersiapkan calon pemimpin pemerintahan dan badan usaha negara.

Niatnya besar. Namun justru karena niatnya besar, pertanyaan saya juga tidak boleh kecil.

Continue reading

QRIS: Warisan Perry Warjiyo dan Kompas Kedaulatan Digital Indonesia

Customer scanning QRIS code with smartphone for payment at fruit market stall
QRIS untuk Transaksi Perdagangan sehari-hari

Oleh: Sigit Darmawan

Saya pernah beberapa kali berjumpa dengan Bapak Perry Warjiyo dalam agenda Kafegama maupun Kagama MBA. Baik forum seminar maupun meeting-meeting kepengurusan organisasi. Dalam forum-forum itu, saya mendengar langsung gagasannya mengenai ekonomi Indonesia, stabilitas, dan perubahan sistem keuangan.

Ia berbicara sebagai ekonom. Namun yang terasa bukan hanya angka.

Di balik istilah pertumbuhan, inflasi, suku bunga, dan stabilitas rupiah, selalu ada upaya menjelaskan arah: ke mana perekonomian bergerak dan fondasi apa yang perlu dibangun agar Indonesia tidak sekadar menjadi penonton dalam perubahan global.

Continue reading

Jangan Terburu-Buru Membangun Aset. Bangun Kompetensinya Terlebih Dahulu.

Oleh: Sigit Darmawan

“Kalau green hydrogen belum menghasilkan keuntungan, mengapa harus mulai berinvestasi sekarang?”

Pertanyaan itu muncul dalam salah satu sesi Leadership Development Program: Global Exposure tentangTransisi Energi yang dikelola oleh LAPI ITB. Dari 15 kelas tentang Transisi Energi yang telah saya fasilitasi dalam periode 7 bulan terakhir, dan telah diikuti hampir lebih dari 500 para manajer perusahaan energi negara dari beragam fungsi dan lokasi, baru ada pertanyaan tajam tentang arah investasi perusahaan.

Bagi saya, pertanyaan itu bukan sekadar diskusi tentang green hydrogen. Pertanyaan itu sesungguhnya menggambarkan dilema yang sedang dihadapi hampir semua organisasi di dunia.

Continue reading

Pelajaran Cape Verde: Mengapa Organisasi Kecil Kini Semakin Sulit Dikalahkan

Oleh: Sigit B. Darmawan

Cape Verde kalah. Tetapi tidak tunduk.

Saya selalu tertarik pada cerita seperti ini. Bukan semata karena sepak bolanya, tetapi karena ada pelajaran di dalamnya. Dalam pengalaman mendampingi tim kecil yang ingin berkembang, saya sering melihat pola yang sama: yang kecil kerap lebih lapar, lebih dekat dengan masalah, dan lebih cepat bergerak. Mereka mungkin tidak selalu menang. Tetapi mereka sering membuat yang besar kehilangan kenyamanan.

Argentina menang 3-2 lewat perpanjangan waktu. Tetapi pertandingan itu meninggalkan catatan yang lebih panjang daripada sekadar skor. Cape Verde, negara kecil dan debutan Piala Dunia, membuat Argentina bekerja sampai batas saraf terakhirnya. Mereka dua kali bangkit setelah tertinggal dan baru menyerah setelah gol bunuh diri pada menit ke-111.

Continue reading

Koperasi Desa Merah Putih dan Ritel Modern: Bertarung atau Berkolaborasi?

Oleh: Sigit Darmawan

Ketika Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) mulai dibicarakan bersamaan dengan nama besar Indomaret dan Alfamart, kegelisahan masyarakat bisnis segera muncul.

Apakah koperasi desa akan berhadapan dengan ritel modern?
Apakah Indomaret dan Alfamart harus dibatasi agar koperasi desa tumbuh?
Ataukah justru keduanya dapat bekerja sama untuk memperkuat ekonomi desa?

Pertanyaan ini bukan hanya sekadar teknis. Soal izin toko, zonasi usaha, distribusi barang, dan persaingan harga. Tetapi di baliknya ada pertanyaan yang jauh lebih penting: ekonomi desa hendak dibangun dengan cara apa?
Apakah desa akan terus menjadi pasar bagi kekuatan ekonomi dari luar? Ataukah desa mulai menjadi pelaku yang memiliki daya tawar dalam rantai nilai nasional?

Di sinilah KDMP perlu sekali lagi disikapi dengan pikiran yang lebih jernih.

Continue reading