Category Archives: Kepemimpinan dan Manajemen

Empat Besar Sudah Terbaca, Tetapi Siapa Juaranya?

(Apa yang Diajarkan Semifinal Piala Dunia 2026 tentang Data, Predictive Analytics, Kepemimpinan, dan Ketidakpastian)

Oleh: Sigit Darmawan

Ketika saya menulis artikel Ketika Algoritma Memilih Juara pada awal dimulainya Piala Dunia 2026, saya mengajukan satu pertanyaan sederhana: sejauh mana data mampu membaca masa depan?

Menjelang semifinal, jawabannya mulai terlihat.

Empat tim yang tersisa adalah Spanyol, Prancis, Inggris, dan Argentina. Menariknya, keempat negara tersebut memang merupakan empat unggulan utama dalam simulasi Opta Analyst Supercomputer. Berdasarkan 25.000 simulasi, Opta menempatkan Spanyol sebagai favorit dengan peluang juara 16,1%, disusul Prancis (13%), Inggris (11,2%), dan Argentina (10,4%) (Opta Analyst, 2026).

Continue reading

Pelajaran Cape Verde: Mengapa Organisasi Kecil Kini Semakin Sulit Dikalahkan

Oleh: Sigit B. Darmawan

Cape Verde kalah. Tetapi tidak tunduk.

Saya selalu tertarik pada cerita seperti ini. Bukan semata karena sepak bolanya, tetapi karena ada pelajaran di dalamnya. Dalam pengalaman mendampingi tim kecil yang ingin berkembang, saya sering melihat pola yang sama: yang kecil kerap lebih lapar, lebih dekat dengan masalah, dan lebih cepat bergerak. Mereka mungkin tidak selalu menang. Tetapi mereka sering membuat yang besar kehilangan kenyamanan.

Argentina menang 3-2 lewat perpanjangan waktu. Tetapi pertandingan itu meninggalkan catatan yang lebih panjang daripada sekadar skor. Cape Verde, negara kecil dan debutan Piala Dunia, membuat Argentina bekerja sampai batas saraf terakhirnya. Mereka dua kali bangkit setelah tertinggal dan baru menyerah setelah gol bunuh diri pada menit ke-111.

Continue reading

Koperasi Desa Merah Putih: Gerakan Gotong Royong atau Proyek Komando?

Oleh: Sigit Darmawan

Saya pernah belajar koperasi bukan dari buku semata, melainkan dari pengalaman langsung menjadi pengurus sebuah koperasi serba usaha yang anggotanya lebih dari seribu orang beberapa tahun silam.

Pengalaman itu sederhana. Tidak besar dalam ukuran nasional. Tetapi cukup memberikan pembelajaran dalam cara saya memahami koperasi.

Dari luar, koperasi sering tampak mudah. Ada anggota. Ada iuran. Ada usaha. Ada pengurus. Ada rapat. Selesai.

Continue reading

Ketika Algoritma Salah Membaca Juara

(Mengapa Data Gagal Menangkap Kebangkitan Arsenal?)

Oleh: Sigit Darmawan

Di awal Liga Primer 2025/2026, saya pernah menulis artikel berjudul “Data vs Intuisi: Pelajaran dari Premier League untuk Bisnis dan Organisasi“. Tulisan itu mencoba membaca persaingan liga melalui data analitik: xG (expected Goals), xGA (expected Goals Against), intensitas pressing, tingkat cedera, hingga efektivitas penyelesaian akhir. Rujukannya cukup kuat: FBRef, StatsBomb, Understat, dan Transfermarkt (2022–2025)—platforn data sepakbola digital analitik untuk statistik pemain dan klub.

Hasilnya terlihat meyakinkan.

Liverpool diproyeksikan tetap dominan. Manchester City dianggap pesaing utama. Arsenal dinilai kuat, tetapi belum cukup kuat untuk menjadi kandidata juara. Chelsea masih dipandang sebagai proyek yang belum stabil.

Namun sepak bola selalu punya cara mempermalukan kesombongan manusia.

Continue reading

Leadership in Polycrisis Era: Memimpin di Dunia yang Tidak Lagi Tunggal

“Krisis hari ini tidak datang satu per satu. Ia datang bersamaan—dan saling memperkuat.”

Oleh: Sigit Darmawan

Dunia yang Tidak Lagi Sederhana

Dalam Trade War 2.0, saya menggambarkan bagaimana dunia tidak lagi bergerak dalam logika ekonomi semata. Perdagangan tidak lagi netral. Rantai pasok tidak lagi ditentukan oleh efisiensi, tetapi oleh kekuatan geopolitik, aliansi, dan kepentingan nasional.

Apa yang dahulu kita pahami sebagai globalisasi—arus barang yang bebas, biaya yang optimal, dan jaringan yang efisien—perlahan berubah menjadi sistem yang terfragmentasi. Negara memilih mitra. Perusahaan menata ulang rantai pasok. Risiko tidak lagi tersembunyi, tetapi menjadi bagian dari strategi.

Namun satu hal yang semakin jelas: Trade war bukan satu-satunya krisis.

Continue reading

Menutup Tahun, Membaca Dunia: Dua Bulan Perjalanan Trade War 2.0

(Titik Senja Dieng. Selasa pagi. 30 Desember 2025.)

Dua bulan terakhir di penghujung 2025 terasa berbeda bagi saya. Beragam percakapan telah saya jalani. Sejak November hingga Desember, buku Trade War 2.0 tidak hanya berpindah dari satu tangan ke tangan lain, tetapi juga berpindah dari satu ruang pemikiran ke ruang pemikiran yang lain.

Saya berjumpa dengan pemimpin industri, pelaku bisnis, pengurus asosiasi, akademisi, birokrat, hingga para profesional dari beragam sektor—manufaktur, oil & gas, FMCG, otomotif, transportasi, asuransi, pembiayaan, ritel, layanan, pendidikan, energi, teknologi, organisasi nir laba, dan sebagainya. Dan sudah ratusan buku sampai di tangan mereka.

Continue reading

Bertahan Tanpa Kehilangan Jiwa: Kepemimpinan Misi di Tengah Disrupsi Organisasi Nir Laba

Gambar: builtincolorado.com

Oleh: Sigit Darmawan

Salemba. Senin siang. 22 Desember 2025

Dunia hari ini bergerak cepat. Terlalu cepat, bahkan. Disrupsi datang dari berbagai arah—ekonomi yang tidak stabil, teknologi yang berubah tanpa jeda, tekanan sosial yang kian kompleks, hingga geopolitik yang sulit diprediksi. Dalam situasi seperti ini, organisasi nir laba sering berada di posisi paling rapuh.

Mereka harus tetap relevan. Harus bertahan secara finansial. Harus adaptif. Namun pada saat yang sama, mereka tidak boleh kehilangan jati diri. Tidak boleh menjauh dari panggilan awal yang melahirkan organisasi itu sendiri.

Continue reading

Ketika Generasi Z Bergerak, Dunia Ikut Berubah

Gambar: dw.com

(Catatan dari Bulgaria dan suara anak muda lintas dunia)

Oleh: Sigit Darmawan

Dalam beberapa tahun terakhir, saya makin sering menemukan pola yang sama ketika membaca berita dunia. Negara berbeda. Budaya berbeda. Sejarah politik berbeda. Namun ada satu kesamaan yang terus berulang: ketika Generasi Z bergerak, peta kekuasaan ikut bergeser.

Perubahan itu tidak selalu datang dengan letupan besar. Tidak selalu dramatis. Tetapi dampaknya nyata.

Continue reading