Category Archives: Kepemimpinan dan Manajemen

Ketika Algoritma Salah Membaca Juara

(Mengapa Data Gagal Menangkap Kebangkitan Arsenal?)

Oleh: Sigit Darmawan

Di awal Liga Primer 2025/2026, saya pernah menulis artikel berjudul “Data vs Intuisi: Pelajaran dari Premier League untuk Bisnis dan Organisasi“. Tulisan itu mencoba membaca persaingan liga melalui data analitik: xG (expected Goals), xGA (expected Goals Against), intensitas pressing, tingkat cedera, hingga efektivitas penyelesaian akhir. Rujukannya cukup kuat: FBRef, StatsBomb, Understat, dan Transfermarkt (2022–2025)—platforn data sepakbola digital analitik untuk statistik pemain dan klub.

Hasilnya terlihat meyakinkan.

Liverpool diproyeksikan tetap dominan. Manchester City dianggap pesaing utama. Arsenal dinilai kuat, tetapi belum cukup kuat untuk menjadi kandidata juara. Chelsea masih dipandang sebagai proyek yang belum stabil.

Namun sepak bola selalu punya cara mempermalukan kesombongan manusia.

Continue reading

Leadership in Polycrisis Era: Memimpin di Dunia yang Tidak Lagi Tunggal

“Krisis hari ini tidak datang satu per satu. Ia datang bersamaan—dan saling memperkuat.”

Oleh: Sigit Darmawan

Dunia yang Tidak Lagi Sederhana

Dalam Trade War 2.0, saya menggambarkan bagaimana dunia tidak lagi bergerak dalam logika ekonomi semata. Perdagangan tidak lagi netral. Rantai pasok tidak lagi ditentukan oleh efisiensi, tetapi oleh kekuatan geopolitik, aliansi, dan kepentingan nasional.

Apa yang dahulu kita pahami sebagai globalisasi—arus barang yang bebas, biaya yang optimal, dan jaringan yang efisien—perlahan berubah menjadi sistem yang terfragmentasi. Negara memilih mitra. Perusahaan menata ulang rantai pasok. Risiko tidak lagi tersembunyi, tetapi menjadi bagian dari strategi.

Namun satu hal yang semakin jelas: Trade war bukan satu-satunya krisis.

Continue reading

Menutup Tahun, Membaca Dunia: Dua Bulan Perjalanan Trade War 2.0

(Titik Senja Dieng. Selasa pagi. 30 Desember 2025.)

Dua bulan terakhir di penghujung 2025 terasa berbeda bagi saya. Beragam percakapan telah saya jalani. Sejak November hingga Desember, buku Trade War 2.0 tidak hanya berpindah dari satu tangan ke tangan lain, tetapi juga berpindah dari satu ruang pemikiran ke ruang pemikiran yang lain.

Saya berjumpa dengan pemimpin industri, pelaku bisnis, pengurus asosiasi, akademisi, birokrat, hingga para profesional dari beragam sektor—manufaktur, oil & gas, FMCG, otomotif, transportasi, asuransi, pembiayaan, ritel, layanan, pendidikan, energi, teknologi, organisasi nir laba, dan sebagainya. Dan sudah ratusan buku sampai di tangan mereka.

Continue reading

Bertahan Tanpa Kehilangan Jiwa: Kepemimpinan Misi di Tengah Disrupsi Organisasi Nir Laba

Gambar: builtincolorado.com

Oleh: Sigit Darmawan

Salemba. Senin siang. 22 Desember 2025

Dunia hari ini bergerak cepat. Terlalu cepat, bahkan. Disrupsi datang dari berbagai arah—ekonomi yang tidak stabil, teknologi yang berubah tanpa jeda, tekanan sosial yang kian kompleks, hingga geopolitik yang sulit diprediksi. Dalam situasi seperti ini, organisasi nir laba sering berada di posisi paling rapuh.

Mereka harus tetap relevan. Harus bertahan secara finansial. Harus adaptif. Namun pada saat yang sama, mereka tidak boleh kehilangan jati diri. Tidak boleh menjauh dari panggilan awal yang melahirkan organisasi itu sendiri.

Continue reading

Ketika Generasi Z Bergerak, Dunia Ikut Berubah

Gambar: dw.com

(Catatan dari Bulgaria dan suara anak muda lintas dunia)

Oleh: Sigit Darmawan

Dalam beberapa tahun terakhir, saya makin sering menemukan pola yang sama ketika membaca berita dunia. Negara berbeda. Budaya berbeda. Sejarah politik berbeda. Namun ada satu kesamaan yang terus berulang: ketika Generasi Z bergerak, peta kekuasaan ikut bergeser.

Perubahan itu tidak selalu datang dengan letupan besar. Tidak selalu dramatis. Tetapi dampaknya nyata.

Continue reading

Trade War 2.0 dan Industri Otomotif: Dekade Paling Menentukan dalam 50 Tahun Terakhir

Oleh Sigit Darmawan

Perang dagang generasi baru—yang belakangan dikenal sebagai Trade War 2.0—tidak lagi berdiri semata sebagai sengketa tarif antara dua kekuatan ekonomi. Bentuknya telah meluas menjadi pertarungan geopolitik, persaingan teknologi, hingga perebutan pusat produksi global yang memengaruhi hampir seluruh sektor industri. Dampaknya nyata, bergerak cepat, dan terasa hingga ke jantung rantai pasok dunia.

Di antara banyak industri yang terdampak, sektor otomotif menjadi salah satu yang paling merasakan guncangannya. Alasannya sederhana: industri otomotif masa kini bukan hanya merakit mobil. Ia merangkai ribuan komponen elektronik, sistem perangkat lunak, ekosistem energi baru, hingga jaringan logistik lintas benua yang sangat bergantung pada stabilitas pasokan global. Sekali ada simpul yang terputus, seluruh mesin produksi dapat berhenti.

Continue reading

Dari Global Value Chain ke Sovereign Supply Chain

Oleh: Sigit Darmawan

Pernahkah Anda mendengar kisah satu kapal yang “tersedak” di Terusan Suez lalu membuat dunia ikut batuk-batuk? Tahun 2021, kapal Ever Given macet selama hampir sepekan. Akibatnya, lebih dari 12 persen perdagangan dunia tertahan. Dari mainan anak-anak sampai suku cadang pesawat, semua ikut tersendat (BBC, 2021).

Atau, pernahkah Anda membayangkan sebuah pabrik di Tiongkok yang berhenti beroperasi, lalu harga ponsel, laptop, hingga obat-obatan di berbagai negara ikut naik. Itu bukan cerita fiksi. Tahun 2022, penutupan pabrik Foxconn di Zhengzhou membuat pasokan iPhone global terganggu (Reuters, 2022). Dua peristiwa ini menjadi pengingat keras: rantai pasok global kita efisien, tapi juga rapuh.

Continue reading

The New Lean: Rantai Pasok yang Rampak, Lincah, dan Berdaulat

Oleh: Sigit Darmawan

Selama puluhan tahun, perusahaan memuja satu mantra: lean. Kata itu identik dengan merampingkan proses, memangkas pemborosan, dan mengefisiensikan biaya. Di ruang rapat, lean supply chain menjadi jargon sakti. Prinsipnya tampak sederhana: semakin ramping rantai pasok, semakin kompetitif perusahaan.

Namun alam permainan berubah. Krisis chip, pandemi, perang Rusia–Ukraina, serta ketegangan antara Amerika dan Tiongkok memperlihatkan satu hal jelas — ramping saja tidak memadai. Rantai pasok yang terlalu kurus justru mudah rapuh. Maka muncul gagasan baru: The New Lean — rantai pasok yang tidak hanya kurus, melainkan juga rampak, lincah, dan berdaulat.

Continue reading