Tag Archives: dataanalitik

Ketika Algoritma Salah Membaca Juara

(Mengapa Data Gagal Menangkap Kebangkitan Arsenal?)

Oleh: Sigit Darmawan

Di awal Liga Primer 2025/2026, saya pernah menulis artikel berjudul “Data vs Intuisi: Pelajaran dari Premier League untuk Bisnis dan Organisasi“. Tulisan itu mencoba membaca persaingan liga melalui data analitik: xG (expected Goals), xGA (expected Goals Against), intensitas pressing, tingkat cedera, hingga efektivitas penyelesaian akhir. Rujukannya cukup kuat: FBRef, StatsBomb, Understat, dan Transfermarkt (2022–2025)—platforn data sepakbola digital analitik untuk statistik pemain dan klub.

Hasilnya terlihat meyakinkan.

Liverpool diproyeksikan tetap dominan. Manchester City dianggap pesaing utama. Arsenal dinilai kuat, tetapi belum cukup kuat untuk menjadi kandidata juara. Chelsea masih dipandang sebagai proyek yang belum stabil.

Namun sepak bola selalu punya cara mempermalukan kesombongan manusia.

Continue reading

Data vs Intuisi: Pelajaran dari Premier League untuk Bisnis dan Organisasi



(Menyambut Pembukaan Liga Primer Inggris)

Oleh: Sigit Darmawan

I.
Ketepatan Angka, Kecepatan Strategi

Premier League bukan sekadar liga dengan nilai komersial tertinggi di dunia. Ia adalah ajang unjuk kecerdasan, teknologi, dan kepemimpinan. Di balik sorak penonton dan sorotan kamera, berlangsung pertarungan yang tak tampak— pertarungan data.

Musim 2025/2026 tidak hanya ditentukan oleh kecepatan atau taktik. Tapi juga oleh kemampuan klub membaca metrik dan menangkap momentum—dua hal krusial, namun kerap tidak seiring.

Continue reading

Winning with Data: Dari Intuisi Menuju Intelijen Kolektif di Sepakbola

Oleh: Sigit B. Darmawan

(Menyambut Laga Krusial Indonesia vs China)

Kemenangan dalam pertandingan sepak bola selama ini bertumpu kepada 3 hal: insting pelatih, intuisi pemain, dan semangat kolektif. Tetapi sekarang, sepak bola memasuki era baru: winning with data. Maka algoritma, sensor, dan big data menjadi bagian tak terpisahkan dari permainan modern.

Klub-klub besar tidak lagi hanya mengandalkan talenta atau pengalaman, tetapi juga sistem analitik yang presisi dan terukur. Lahirlah yang disebut sebagai intelijen kolektif—ekosistem terintegrasi yang melibatkan pelatih, analis data, tim medis, ahli nutrisi, hingga ilmuwan olahraga.

Continue reading