Oleh: Sigit Darmawan
Ada yang menarik dari panggung America’s Got Talent 2026. Bukan hanya penyanyi bersuara emas. Bukan hanya aksi akrobatik yang membuat penonton menahan napas.
Tetapi robot.
Sekelompok robot Unitree tampil bersama seorang performer bernama Flying Bug di panggung AGT Season 21. Simon Cowell menyebut penampilan tersebut sebagai sesuatu yang “insane” sekaligus “brilliant”. Empat juri memberikan empat “Yes” dan meloloskan mereka ke babak berikutnya.
Event AGT & BGT memang selalu menjadi favorit tontonan saya di beberapa tahun terakhir ini. Melihat keunikan dan keberagaman talenta dari berbagai negara dalam satu panggung.
Saya menonton cuplikan video Flying Bug ini beberapa hari lalu. Untuk pertama kalinya saya merasa bahwa robot tidak lagi sedang dipamerkan.
Mereka sedang diperkenalkan. Seperti seorang anggota baru dalam kehidupan manusia.
Sekilas, itu memang hanya hiburan. Namun pengalaman saya selama lebih dari tiga dekade bekerja, baik sebagai praktisi maupun konsultan, di dunia manufaktur dan rantai pasok mengajarkan satu hal kepada saya: perubahan besar sering kali muncul dalam bentuk yang tampak sepele.
Internet dulu dianggap mainan akademisi. Media sosial dianggap hanya tempat berbagi foto. AI dianggap proyek laboratorium.
Hari ini semuanya mengubah dunia.
Karena itu saya melihat pertunjukan tersebut bukan sebagai hiburan semata, melainkan sebagai sinyal perubahan zaman. AI adalah game changer masa depan.
Dan masa depan datang lewat panggung hiburan.
Ia menari. Ia membuat penonton tertawa, terkejut, lalu berpikir: “Kalau robot sudah bisa tampil seperti ini, apa lagi yang akan mereka lakukan besok?”
Di sinilah saya melihat pentingnya fenomena ini.
Robot yang tampil di AGT bukan sekadar mesin yang bergerak mengikuti program. Mereka adalah simbol perubahan yang sedang berlangsung dalam dunia teknologi: pergeseran dari Generative AI menuju Embodied AI atau Physical AI.
Jika ChatGPT, Gemini, dan Claude hidup di layar komputer, maka Embodied AI hidup di dunia fisik.
Ia berjalan. Ia melihat. Ia bergerak. Ia berinteraksi dengan lingkungan. Ia bekerja.
Revolusi AI sedang berlangsung lebih tinggi.
Selama ini kita terlalu fokus pada chatbot. Terlalu fokus pada kemampuan membuat teks, gambar, atau video. Padahal pertanyaan yang lebih besar adalah: apa yang terjadi ketika AI diberi tubuh?
Jawabannya mulai terlihat di depan mata kita.
Perusahaan di balik robot tersebut adalah Unitree Robotics, perusahaan robotika asal Hangzhou yang didirikan pada tahun 2016 oleh Wang Xingxing. Dalam waktu kurang dari satu dekade, Unitree berkembang menjadi salah satu pemain paling agresif di industri robot quadruped dan humanoid global (Reuters, 2025; UpMarket, 2026).
Yang membuat Unitree menarik bukan sekadar karena robotnya bisa menari. Mereka sedang membangun fondasi industri baru.
Perusahaan ini mengembangkan motor aktuator sendiri, sistem kendali gerak sendiri, perangkat lunak navigasi sendiri, hingga model AI yang memungkinkan robot belajar dan beradaptasi terhadap lingkungan fisik. Robot humanoid mereka seperti G1, H1, dan H2 dirancang untuk melakukan tugas-tugas yang sebelumnya hanya dapat dilakukan manusia.
Sebagai orang yang mengikuti perkembangan transformasi digital dan industri dalam 10 tahun terakhir ini, saya melihat pola yang menarik.
China tampaknya sedang melakukan terhadap robot apa yang pernah mereka lakukan terhadap kendaraan listrik.
Mereka tidak selalu menjadi yang pertama menemukan teknologi. Tetapi mereka sering menjadi yang tercepat dalam memproduksi, memperbaiki, dan menurunkan biayanya.
Dan sejarah dalam dunia bisnis teknologi menunjukkan bahwa pemain yang berhasil membuat teknologi menjadi murah dan masif sering kali menjadi pemenang sesungguhnya.
Pada Juni 2026, Nvidia mengumumkan platform referensi humanoid terbuka pertama berbasis Isaac GR00T yang menggunakan Unitree H2 Plus sebagai salah satu platform utamanya. Jensen Huang, pendiri Nvidia, menyebut robot humanoid sebagai peluang ekonomi multi-triliun dolar yang akan membawa Physical AI ke industri-industri terbesar dunia (NVIDIA, 2026).
Pernyataan itu penting.
Karena Nvidia bukan sekadar perusahaan chip. Nvidia berada di pusat revolusi AI global.
Ketika Nvidia memilih Unitree sebagai bagian dari platform referensi mereka, saya melihatnya sebagai sinyal bahwa robot humanoid mulai bergerak dari tahap eksperimen menuju tahap industrialisasi.
Persis seperti smartphone pada awal 2000-an. Awalnya mahal. Lalu menjadi lebih murah. Kemudian menjadi umum. Dan akhirnya menjadi kebutuhan.
AGT 2026 memberi kita gambaran kecil mengenai masa depan itu.
Hari ini robot menari mengikuti lagu Lady Gaga. Besok robot yang sama mungkin bekerja di gudang logistik, memindahkan barang di pabrik, melakukan inspeksi gardu listrik, memeriksa kebocoran gas, membantu operasi tambang, atau menyisir reruntuhan gempa bumi.
Perubahan ini sebenarnya sudah mulai terlihat.
Menurut laporan World Robotics dari International Federation of Robotics (2025), penggunaan robot industri terus meningkat secara global dan Tiongkok telah menjadi pasar robot terbesar dunia selama beberapa tahun terakhir.
Dengan kata lain, yang kita lihat di panggung AGT bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah demonstrasi kemampuan.
Demonstrasi bahwa AI tidak lagi hanya mampu menjawab pertanyaan. AI mulai mampu melakukan pekerjaan fisik.
Di sinilah saya melihat tantangan terbesar bagi manusia.
Bukan soal teknologi. Bukan soal robot. Tetapi soal kesiapan mental.
Kita sering kali terlalu sibuk memperdebatkan apakah teknologi akan menggantikan manusia. Padahal pertanyaan yang lebih relevan adalah apakah manusia bersedia berubah lebih cepat daripada teknologi.
Maka isu utamanya bukan lagi manusia melawan robot.
Itu narasi lama.
Pertanyaan yang lebih relevan adalah: Siapa yang lebih siap berkolaborasi dengan robot?
Negara yang mampu membangun ekosistem robotika akan memiliki keunggulan produktivitas. Perusahaan yang memahami kolaborasi manusia dan mesin akan bergerak lebih cepat dibandingkan pesaingnya.
Maka kita perlu membaca sinyal ini dengan jernih. Jangan hanya kagum. Jangan hanya takut. Jangan pula sekadar menjadikannya konten viral.
Sebagai praktisi yang sehari-hari bergelut dengan transformasi bisnis, saya justru melihat perkembangan ini sebagai pengingat bahwa kompetisi masa depan bukan lagi antara manusia dan mesin.
Kompetisi sesungguhnya adalah antara organisasi yang mampu memanfaatkan teknologi dan organisasi yang menolaknya.
Pertanyaan strategisnya sederhana: apakah kita akan menjadi pasar? Menjadi pengguna? Atau ikut membangun kemampuan?
Kini masa depan industri tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki sumber daya alam atau tenaga kerja murah. Tetapi oleh siapa yang mampu menggabungkan manusia, algoritma, dan mesin menjadi satu sistem produktivitas baru.
Panggung AGT 2026 mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Tetapi pesannya panjang: Robot sudah tidak lagi berdiri di balik pagar pabrik. Ia sudah naik ke panggung manusia.
Dan ketika masa depan mulai menari, kita sebaiknya tidak hanya bertepuk tangan. Kita harus mulai belajar membaca iramanya.