Monthly Archives: July 2026

QRIS: Warisan Perry Warjiyo dan Kompas Kedaulatan Digital Indonesia

Customer scanning QRIS code with smartphone for payment at fruit market stall
QRIS untuk Transaksi Perdagangan sehari-hari

Oleh: Sigit Darmawan

Saya pernah beberapa kali berjumpa dengan Bapak Perry Warjiyo dalam agenda Kafegama maupun Kagama MBA. Baik forum seminar maupun meeting-meeting kepengurusan organisasi. Dalam forum-forum itu, saya mendengar langsung gagasannya mengenai ekonomi Indonesia, stabilitas, dan perubahan sistem keuangan.

Ia berbicara sebagai ekonom. Namun yang terasa bukan hanya angka.

Di balik istilah pertumbuhan, inflasi, suku bunga, dan stabilitas rupiah, selalu ada upaya menjelaskan arah: ke mana perekonomian bergerak dan fondasi apa yang perlu dibangun agar Indonesia tidak sekadar menjadi penonton dalam perubahan global.

Continue reading

Jangan Terburu-Buru Membangun Aset. Bangun Kompetensinya Terlebih Dahulu.

Oleh: Sigit Darmawan

“Kalau green hydrogen belum menghasilkan keuntungan, mengapa harus mulai berinvestasi sekarang?”

Pertanyaan itu muncul dalam salah satu sesi Leadership Development Program: Global Exposure tentangTransisi Energi yang dikelola oleh LAPI ITB. Dari 15 kelas tentang Transisi Energi yang telah saya fasilitasi dalam periode 7 bulan terakhir, dan telah diikuti hampir lebih dari 500 para manajer perusahaan energi negara dari beragam fungsi dan lokasi, baru ada pertanyaan tajam tentang arah investasi perusahaan.

Bagi saya, pertanyaan itu bukan sekadar diskusi tentang green hydrogen. Pertanyaan itu sesungguhnya menggambarkan dilema yang sedang dihadapi hampir semua organisasi di dunia.

Continue reading

Merawat yang Terluka, Menjaga yang Merawat

(Seri 5 — Caregiver Juga Perlu Dirawat)

Oleh: Sigit Darmawan

Salah satu pesan penutup yang kuat dari Seminar “Family Dynamics and Mental Health” , 12 Juli 2026 lalu, adalah bahwa caregiver juga perlu dirawat.

Sebuah ilustrasi yang sangat sederhana untuk menjelaskan hal ini. Ketika berada di pesawat dan terjadi keadaan darurat, kita diminta memasang masker oksigen untuk diri sendiri terlebih dahulu sebelum membantu orang lain.

Bukan karena kita egois.
Bukan karena kita tidak peduli. tetapi karena kalau kita sendiri tidak bisa bernapas, kita tidak akan sanggup menolong orang lain.

Begitu juga dalam perjalanan menjadi caregiver.

Continue reading

Merawat yang Terluka, Menjaga yang Merawat

(Seri 4 — Dengarkan Dulu, Jangan Ceramahi Dulu)

Oleh: Sigit Darmawan

Salah satu pelajaran paling praktis lagi yang saya peroleh dari Seminar Family Dynamics & Mental Health adalah pentingnya mendengar.

Pelajaran ini terasa sangat dekat bagi saya, baik dalam pengalaman saya dan ketika berinteraksi dengan keluarga-keluarga dalam family connecting support group. Di sana saya semakin menyadari bahwa banyak keluarga sebenarnya sangat mengasihi anggota keluarganya yang sedang bergumul.

Tetapi dalam situasi yang penuh tekanan, kasih itu sering bercampur dengan panik, takut, lelah, bingung, bahkan rasa tidak berdaya. Akibatnya, respons pertama kita tidak selalu menjadi respons yang menolong.

Continue reading

Merawat yang Terluka, Menjaga yang Merawat

(Seri 3 — Jangan Memikul Koper Hari Esok Hari Ini)

Oleh: Sigit B. Darmawan

Salah satu pergumulan terbesar keluarga yang terdampak gangguan kesehatan mental adalah mengatasi kekhawatiran. Ini pergumulan yang sangat nyata.

Saya bisa merasakannya. Juga dalam pengalaman memfasilitasi keluarga yang terdampak, termasuk dalam family connecting support group. Di ruang-ruang seperti itu, saya sering mendengar kegelisahan yang sangat manusiawi: bagaimana nanti kalau gejala itu muncul lagi? Bagaimana kalau pengobatan tidak berjalan baik? Bagaimana kalau keluarga tidak sanggup lagi? Bagaimana dengan masa depannya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak muncul karena kurang iman. Sering kali justru muncul karena kasih. Kita khawatir karena kita mengasihi. Kita takut karena kita tidak ingin orang yang kita kasihi semakin menderita.

Continue reading

Merawat yang Terluka, Menjaga yang Merawat

(Seri 2 — Ketika Satu Orang Sakit, Seluruh Keluarga Ikut Berubah)

Oleh: Sigit Darmawan

Kesehatan mental tidak pernah hanya menjadi urusan satu orang.

Ketika ada satu anggota keluarga yang bergumul dengan kesehatan mental, yang ikut berubah bukan hanya orang tersebut. Suasana rumah berubah. Cara bicara berubah. Pola komunikasi berubah. Bahkan cara kita berdoa, berharap, dan memandang masa depan pun ikut berubah.

Dalam pengalaman saya memfasilitasi family connecting support group, saya belajar bahwa mendukung keluarga yang terdampak bukan hanya soal memahami diagnosis atau mencari pengobatan yang tepat. Ada bagian lain yang tidak kalah penting: bagaimana keluarga tidak berjalan sendirian.

Di titik inilah support group menjadi penting. Ia dapat menjadi ruang aman untuk saling mendengar, saling belajar, dan saling menguatkan.

Continue reading

Merawat yang Terluka, Menjaga yang Merawat

(Seri 1 — Diagnosis Bukan Identitas)

(Seri 1 — Diagnosis Bukan Identitas)

Oleh: Sigit Darmawan

Salah satu pesan paling penting yang saya tangkap dari Seminar “Family Dynamics & Mental Health”, 12 Juli 2026 lalu, adalah ini: pisahkan pribadi dari penyakitnya.

Seminar ini dikelola oleh Sahabat Bagi Jiwa (SBJ), salah satu komunitas Family Supporting Group bagi para caregiver, bersama Seeing with New Eyes (SWNE), komunitas yang peduli pada kesehatan mental keluarga.

Tema besarnya sangat relevan dengan banyak keluarga hari ini: bagaimana keluarga dapat lebih memahami, mendampingi, dan menguatkan anggota keluarga yang sedang bergumul dengan kesehatan mental.

Dan saya ingin berbagi beberapa catatan penting yang mungkin berguna bagi keluarga-keluarha Kristen dalam serial tulisan.

Continue reading

Empat Besar Sudah Terbaca, Tetapi Siapa Juaranya?

(Apa yang Diajarkan Semifinal Piala Dunia 2026 tentang Data, Predictive Analytics, Kepemimpinan, dan Ketidakpastian)

Oleh: Sigit Darmawan

Ketika saya menulis artikel Ketika Algoritma Memilih Juara pada awal dimulainya Piala Dunia 2026, saya mengajukan satu pertanyaan sederhana: sejauh mana data mampu membaca masa depan?

Menjelang semifinal, jawabannya mulai terlihat.

Empat tim yang tersisa adalah Spanyol, Prancis, Inggris, dan Argentina. Menariknya, keempat negara tersebut memang merupakan empat unggulan utama dalam simulasi Opta Analyst Supercomputer. Berdasarkan 25.000 simulasi, Opta menempatkan Spanyol sebagai favorit dengan peluang juara 16,1%, disusul Prancis (13%), Inggris (11,2%), dan Argentina (10,4%) (Opta Analyst, 2026).

Continue reading