Fenghuang: Kota Tua yang Tetap Hidup




(Catatan Ringan tentang Kota-kota di China—Bagian Ketiga)

Oleh: Sigit Darmawan

Setelah Chongqing dan Wulong, perjalanan saya berlanjut ke Provinsi Hunan.

Destinasi kali ini menawarkan cerita yang berbeda.

Kalau Chongqing memperlihatkan bagaimana sebuah metropolitan mengelola kompleksitas, dan Wulong menunjukkan bagaimana geografi dapat diubah menjadi aset ekonomi, Fenghuang membawa saya pada pertanyaan lain:

Bisakah sebuah kota tua tetap hidup tanpa berubah menjadi museum?



Sore itu saya tiba di Fenghuang, di bagian barat Hunan. Tujuan utamanya adalah Fenghuang Ancient Town, yang juga dikenal sebagai Phoenix Ancient Town.

Ketika melihat kota tua ini, kesan pertama saya sederhana: Tempat ini sangat hidup.

Bangunan tradisional berdiri rapat mengikuti tepian sungai. Rumah kayu bertingkat, atap gelap, gang sempit, jembatan, bangunan di atas tiang, dan bukit hijau membentuk lanskap yang seperti membawa kita ke China beberapa abad lalu.

Namun di dalam lanskap lama itu, kehidupan masa kini bergerak aktif.

Restoran, kedai makanan, hotel, toko suvenir, penyewaan pakaian tradisional, jasa fotografi, dan perahu wisata memenuhi kawasan.

Justru pertemuan antara masa lalu dan kehidupan hari ini itulah yang membuat Fenghuang menarik bagi saya.

Sejak awal perjalanan ke China ini, saya memang tidak hanya ingin melihat tempat-tempat yang menjadi perbincangan masyarakat internasional ini. Saya sangat tertarik membaca bagaimana sebuah kota dikelola

Di Chongqing saya melihat bagaimana kota dengan geografi kompleks dibuat tetap bergerak. Di Wulong, bagaimana bentang alam dihubungkan dengan infrastruktur dan ekonomi.

Dan di Fenghuang, asetnya berbeda.

Asetnya adalah masa lalu: bangunan, sungai, gang, budaya, tradisi, dan cerita sejarah.

Karena itu pertanyaan yang muncul kemudian di benak saya adalah: Apa yang dilakukan sebuah kota terhadap warisan yang sudah dimilikinya?

○00○

Fenghuang sendiri mempunyai akar sejarah panjang. Kawasan ini berkembang sejak masa dinasti-dinasti awal China, lalu semakin penting sebagai kota perbatasan dan penghubung Hunan dengan kawasan barat daya.

Kota tumbuh bersama pusat pemerintahan, pasar, perdagangan, permukiman, serta kehidupan masyarakat Miao, Tujia, Han, dan kelompok lainnya.

Artinya, sejak awal Fenghuang bukan sekadar kumpulan bangunan tua.

Ia adalah ruang kehidupan.

Ratusan tahun kemudian, fungsi kota tentu berubah. Benteng tidak lagi digunakan untuk pertahanan. Bentuk ekonominya berganti. Tetapi perdagangan tetap berjalan, budaya masih hadir, dan orang terus datang.

Di sinilah saya mulai melihat sebuah konsep warisan budaya yang hidup  (living heritage).

Living heritage bukan sekadar bangunan tua yang berhasil dipertahankan. Ia adalah warisan masa lalu yang masih mempunyai fungsi, makna, pengguna, dan hubungan dengan kehidupan sekarang.

Bangunan masih digunakan. Gang tetap dilalui. Ruang publik menjadi tempat bertemu. Kuliner tetap dikonsumsi. Budaya hadir. Tradisi melahirkan aktivitas ekonomi.

Karena itu, preservasi tidak harus berarti menghentikan perubahan. Preservasi adalah mengelola perubahan tanpa kehilangan identitas.

Sebuah kota tua tentu tidak mungkin hidup persis seperti 200 atau 300 tahun lalu. Teknologi berubah. Transportasi berubah. Ekonomi berubah. Wisatawan datang. Bisnis berkembang.

Pertanyaannya bukan bagaimana menghentikan perubahan.

Tetapi: Bagaimana sebuah kota berubah tanpa kehilangan karakter yang membuatnya unik?

Itulah yang saya rasakan menjejakkan kaki di Fenghuang.

Ia tidak seperti kawasan yang selesai dipugar lalu tugas dianggap selesai.

Kota ini masih terus digunakan. Ia tidak hanya sekadar menyimpan masa lalu. Ia justru membuat masa lalu tetap memiliki fungsi.

○00○

Saya datang ke Fenghuang bukan pada musim liburan besar, tetapi kawasan sudah sangat ramai.

Di beberapa titik orang harus berjalan beriringan. Pada deretan pijakan batu yang melintasi Sungai Tuojiang, pengunjung mengantre untuk menyeberang sambil mengambil foto.

Semakin malam, kerumunan justru semakin besar.

Lampu menyala di sepanjang bangunan tepian sungai. Pantulannya jatuh ke permukaan air. Restoran semakin penuh. Pedestrian dipadati orang. Musik terdengar dari berbagai arah.

Kota ini seolah mempunyai dua kehidupan.

Sore hari memperlihatkan arsitektur, sungai, bukit, dan karakter kota lama. Malam hari tempat yang sama berubah menjadi sebuah night economy.

Dan sungai Tuojiang menjadi pusat pengalaman wisata itu.

Bangunan menghadap ke sungai. Jalur pedestrian mengikuti tepiannya. Jembatan menghubungkan kedua sisi. Perahu melintas. Orang berfoto. Restoran dan penginapan memanfaatkan pemandangan.

Bahkan aktivitas sederhana seperti menyeberangi sungai melalui pijakan batu berubah menjadi pengalaman wisata.

Di sini saya melihat satu pelajaran lain yang penting dalam pengelolaan wisata:

Aset tidak selalu harus diciptakan. Nilainya justru sering ditentukan oleh bagaimana aset yang sudah ada ditata, dihubungkan, dan diubah menjadi pengalaman.

Namun ada pertanyaan lain yang kemudian mengganjal saya: Apakah kota tua Fenghuang menjadi terlalu komersial?

Toko, restoran, hotel, jasa fotografi, dan penyewaan pakaian tradisional memenuhi kawasan. Pada malam hari, pencahayaan membuatnya seperti panggung besar.

Dalam ukuran tertentu, Fenghuang jelas sangat komersial.

Tetapi setidaknya dari pengalaman saya sore hingga malam itu, aktivitas ekonomi tersebut belum sepenuhnya menghilangkan karakter tempatnya.

Bangunan lama masih menjadi wajah kawasan. Sungai tetap menjadi pusatnya. Gang kecil tetap membentuk pengalaman berjalan kaki. Budaya lokal masih terasa.

Di sepanjang kawasan, misalnya, banyak wisatawan mengenakan pakaian tradisional Miao untuk melakukan sesi foto. Dari aktivitas sederhana ini muncul rantai ekonomi: penyewaan pakaian, make-up, fotografer, lokasi foto, media sosial, lalu konsumsi hotel, restoran, transportasi, makanan, dan suvenir.

Heritage tidak hanya dilindungi. Heritage dibuat produktif.

Tetapi di balik semua yang mudah terlihat itu terdapat hal-hal yang jarang masuk kamera: transportasi, pedestrian, kebersihan, signage, toilet, keamanan, pencahayaan, dan pengaturan ruang.

Dan justru hal-hal itulah yang membuat pengunjung nyaman tinggal lebih lama.

Karena itu, pengelolaan kota tua bukan hanya pekerjaan konservasi atau pariwisata. Ia adalah pekerjaan integrasi.

○00○

Di bagian inilah Fenghuang membuat saya banyak memikirkan kota-kota tua di Indonesia. Setidaknya saya pernah mengunjungi berbagai kota-kota tua di Indonesia.

Kota tua Jakarta, kota lama Semarang, Lasem di Rembang, Kotagede di Yogyakarta, Kota lama Jembatam Merah Surabaya,  Braga dan Koridor Asia Afrika di Bandung dan berbagai kota-kota tua lainnya.

Dari pengalaman mengunjungi berbagai kawasan kota tua di tanah air, saya merasa kita sebenarnya tidak kekurangan heritage.

Kita mempunyai kota perdagangan lama, kota pelabuhan, pusat kerajaan, jejak kolonial, pecinan, kampung Arab, pasar lama, bangunan keagamaan, kuliner lintas generasi, serta komunitas yang menyimpan memori kolektif.

Modalnya sangat besar.

Masalahnya sering bukan kekurangan aset. Kita hanya belum selalu berhasil menghubungkan aset-aset tersebut menjadi sebuah living heritage ecosystem.

Ada bangunan yang sudah direstorasi dengan baik, tetapi pedestrian di depannya belum nyaman.

Ada kawasan bersejarah menarik, tetapi akses dan transportasinya belum mudah. Ada bangunan cantik, tetapi kosong dari fungsi. Ada kawasan yang ramai ketika akhir pekan atau festival, lalu kembali sepi.

Dan ada kuliner, kerajinan, komunitas, dan cerita sejarah, tetapi semuanya berjalan sendiri-sendiri.

Akhirnya kita sering mempunyai kumpulan aset heritage, tetapi belum mempunyai pengalaman kawasan yang terintegrasi.

Fenghuang mengingatkan saya bahwa living heritage tidak cukup dibangun dengan pengecatan fasad, pemasangan lampu, atau festival beberapa kali setahun.

Semua itu bisa membantu.

Tetapi kota tua benar-benar hidup apabila kehidupan sehari-harinya juga hidup.

Karena itu pendekatannya mungkin perlu bergeser: dari restorasi bangunan menuju regenerasi kawasan.

Restorasi bertanya: Bagaimana bangunan ini diselamatkan?

Regenerasi bertanya lebih jauh: Setelah diselamatkan, untuk apa bangunan ini hidup.

Siapa yang menggunakannya?Bagaimana hubungannya dengan ruang publik?Bagaimana orang datang dan bergerak? Bagaimana aktivitas ekonomi tumbuh tanpa merusak karakter kawasan?

Dan yang paling penting:

Apakah masyarakat lokal tetap menjadi bagian dari kehidupan kota tua itu?

Kita mungkin berhasil menyelamatkan bangunannya, tetapi kehilangan kehidupan yang memberinya makna.

Itu bukan living heritage. Itu hanya heritage tanpa kehidupan.

Karena itu berkaca dari Fenghuang, kota tua kita perlu dikelola sebagai satu kawasan, bukan kumpulan proyek per bangunan.

Bangunan lama perlu memperoleh fungsi melalui pemanfaatan kembali secara adaptif (adaptive reuse). Masyarakat lokal harus menjadi pelaku dan penerima manfaat. Ruang publik, pedestrian, transportasi, kebersihan, keamanan, budaya, dan aktivitas ekonomi perlu dirangkai dalam satu sistem.

Dan semuanya membutuhkan orkestrasi antara pemerintah, pemilik bangunan, komunitas, pelaku usaha, dan masyarakat.

Kalau masing-masing berjalan sendiri, kita mungkin menghasilkan banyak proyek. Tetapi belum tentu menghasilkan sebuah kota tua yang hidup.

Living heritage membutuhkan tata kelola, bukan sekadar proyek.

○00○

Malam semakin larut ketika saya berjalan kembali di sepanjang Fenghuang.

Kerumunan justru semakin padat. Lampu semakin dominan. Orang masih mengambil foto. Restoran masih penuh. Fotografer masih bekerja. Dan perahu masih bergerak.

Kota tua itu tidak sedang tidur. Ia sedang bekerja.

Mungkin itulah pelajaran terbesar Fenghuang bagi saya.

Heritage yang kuat bukan hanya warisan yang berhasil bertahan secara fisik.

Ia adalah heritage yang masih mempunyai fungsi dalam kehidupan hari ini.

Fenghuang tentu bukan model sempurna yang harus kita tiru. Ia pun berada pada garis tipis antara _living heritage_ dan komersialisasi berlebihan.

Karena itu bukan bentuk Fenghuang yang perlu kita tiru. Yang lebih penting adalah cara berpikirnya:

Jangan hanya menyelamatkan bangunannya. Selamatkan kehidupannya.

Pengalaman mengunjungi kota-kota tua di Indonesia membuat saya semakin yakin bahwa kita mempunyai modal yang sangat besar.

Yang dibutuhkan bukan sekadar lebih banyak proyek revitalisasi, tetapi kemampuan mengelola heritage sebagai ekosistem yang hidup—menghubungkan preservasi, masyarakat, ekonomi, budaya, mobilitas, ruang publik, infrastruktur, dan pengalaman.

Karena kota tua seharusnya bukan hanya tempat yang mengingatkan kita bahwa kehidupan pernah ada di sana.

Kota tua seharusnya tetap menjadi tempat di mana kehidupan berlangsung.

Dan mungkin itulah makna sebenarnya dari living heritage.

Fenghuang, 15 Agustus 2026

Leave a comment