Wulong: Ketika Geografi Menjadi Aset Ekonomi




(Catatan Ringan tentang Kota-kota di China—Bagian Kedua)

Oleh: Sigit Darmawan

Setelah beberapa hari menjelajahi Chongqing, perjalanan saya berlanjut ke Wulong.

Perjalanan ini terasa seperti berpindah di antara dua wajah pembangunan China yang sangat berbeda.

Chongqing adalah metropolitan raksasa—padat, vertikal, penuh gedung tinggi, jalan bertingkat, jembatan, metro, pusat perdagangan, dan kehidupan digital yang bergerak cepat.



Dari kota sebesar itu, saya bergerak menuju kota Wulong, sebuah distrik yang jauh lebih kecil di bagian tenggara wilayah Chongqing.

Perubahan lanskap terasa jelas. Gedung-gedung tinggi perlahan menghilang, kepadatan berkurang, lalu jalan mengikuti kontur pegunungan. Sungai, lembah, tebing, hutan, dan permukiman kecil mengambil alih pemandangan.

Bagi saya, perjalanan ini menarik karena memberi kesempatan melihat bagaimana kualitas pembangunan berubah ketika kita bergerak dari metropolitan besar menuju wilayah yang lebih kecil.

Apakah kualitas infrastruktur ikut menurun? Apakah keteraturan hanya ada di kota besar? Atau kemampuan mengelola pembangunan juga menjangkau wilayah yang lebih jauh?

Wulong memberi sebagian jawabannya.

Kalau Chongqing memberi pelajaran tentang bagaimana sebuah kota mengubah kompleksitas menjadi sistem, Wulong menghadirkan pertanyaan berbeda:

Bagaimana sebuah wilayah yang lebih kecil menggunakan geografi dan keindahan alamnya untuk menciptakan pengalaman dan nilai ekonomi?

○00○

Secara administratif, kota Wulong merupakan distrik di wilayah municipal Chongqing—kota dengan status khusus setara provinsi—sekitar 137 kilometer dari pusat kota.

Skalanya jauh berbeda dari Chongqing. Luas wilayahnya sekitar 2.900 kilometer persegi dengan penduduk sekitar 350 ribu jiwa, atau kepadatan sekitar 120 orang per kilometer persegi. PDRB-nya berada di kisaran 25 miliar yuan, dengan sektor jasa menyumbang lebih dari separuh ekonominya.

Pariwisata menjadi salah satu penggerak penting. Jumlah kunjungan wisata mencapai sekitar 50 juta perjalanan per tahun, jauh melampaui jumlah penduduk tetapnya.

Modal utamanya memang alam.

Wulong dikenal dengan bentang karst (batu gamping atau kapur) dan menjadi bagian dari kawasan South China Karst yang masuk dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO.

Saya mengunjungi dua destinasi utamanya: Fairy Mountain dan Three Natural Bridges.

Fairy Mountain menawarkan dataran tinggi, hutan, padang rumput, udara sejuk, dan ruang terbuka. Sementara Three Natural Bridges menghadirkan tiga jembatan batu alami raksasa dalam lanskap karst yang dramatis.

Namun yang paling menarik bagi saya bukan sekadar keindahan alamnya. Namun, justru cara alam itu dikelola menjadi sebuah destinasi.

○00○

Setelah datang dari metropolitan sebesar Chongqing, saya mulai memperhatikan bagaimana Wulong sebagai wilayah yang jauh lebih kecil dikelola.

Kesan pertama saya sederhana: Skalanya berubah, tetapi keteraturannya tidak hilang.

Jalannya kualitas baik. Lingkungan relatif bersih. Kawasan komersial tertata. Transportasi tersedia dan terhubung dengan amat baik. Ruang publik dan fasilitas dasar tetap mendapatkan perhatian.

Sungai Wujiang yang mengalir di antara pegunungan Wulong juga menarik perhatian saya. Dari kawasan tempat kami menginap, airnya terlihat bersih, jernih, dan berwarna kehijauan.

Di kita Wulong sungai bukan sekadar latar belakang. Ia menjadi bagian dari wajah kota dan pengalaman wisata.

Perbedaannya dengan Chongqing menjadi jelas.

Di Chongqing, infrastruktur bekerja untuk mengatasi kepadatan dan kompleksitas perkotaan.

Di Wulong, infrastruktur bekerja untuk menghubungkan kota, alam, dan destinasi.

Bentuknya berbeda, tetapi prinsipnya sama: membuat sebuah tempat bekerja sebagai sistem.

○00○

Indonesia tentu tidak kekurangan alam yang indah.

Saya telah menikmati berbagai destinasi alam mulai dari Danau Toba di Sumatra sampai Raja Ampat di Papua, dan banyak tempat lain di antaranya. Karena itu, saya tidak pernah meragukan modal alam Indonesia.

Persoalannya bukan lagi:
Apakah tempat ini indah?”

Tetapi:
Apakah keindahan itu dapat diakses, dinikmati, dikelola, dan diubah menjadi pengalaman yang baik?”

Wulong memperlihatkan perbedaan antara memiliki aset alam dan mengelola aset alam.

Fairy Mountain, misalnya, relatif sederhana: padang rumput, hutan, udara sejuk, sapi, kuda, dan pemandangan.

Nyaris tidak banyak atraksi buatan.

Orang datang untuk berjalan, menikmati ruang terbuka, menghirup udara pegunungan, melihat hamparan hijau, dan berfoto.

Di sinilah saya melihat satu prinsip penting dalam pariwisata. Bahwa estinasi tidak selalu membutuhkan lebih banyak atraksi. Kadang-kadang yang dibutuhkan justru kemampuan membuat aset yang sudah ada dapat dinikmati dengan baik.

Dan itu membawa saya pada satu kesimpulan sederhana: akses adalah bagian dari produk wisata.

○00○

Hal tersebut paling terasa di Three Natural Bridges.

Destinasi ini tidak cukup dilihat dari satu titik pandang. Pengunjung harus masuk ke dalam bentang alamnya.

Dalam pengalaman kami, keseluruhan perjalanan membutuhkan sekitar tiga jam, tergantung kecepatan berjalan, kepadatan pengunjung, waktu istirahat, dan berfoto.

Dari pintu masuk, kami berjalan menuju lift panorama berputar yang dibangun di sisi tebing. Lift membawa pengunjung turun dari kawasan atas menuju dasar lembah karst.

Begitu turun, perspektif berubah total.

Tebing-tebing batu menjulang di kiri dan kanan. Jalur mengikuti dasar lembah, melewati dinding karst, lorong batu, aliran air, vegetasi, dan bukaan raksasa di bawah jembatan alami.

Tiga jembatan utama di kawasan ini memiliki skala ratusan meter. Pada bagian tertentu kami juga harus menuruni lebih dari 300 anak tangga, kemudian melanjutkan perjalanan melalui jalur yang sebagian besar satu arah.

Di sinilah pengalaman Three Natural Bridges menjadi sangat khas.

Kita tidak sedang berdiri jauh memandang sebuah gunung. Kita berjalan di bawah dan di antara struktur geologi itu sendiri.

Sesekali jalur berada di bawah dinding batu yang sangat tinggi. Di bagian lain, jalan menyempit mengikuti kontur karst. Ada air yang turun dari tebing, koridor pelindung sekaligus tempat beristirahat, toilet, dan fasilitas keselamatan.

Sepanjang perjalanan kita melewati tiga jembatan utama: Tianlong, Qinglong, dan Heilong.

Setelah jembatan terakhir pun perjalanan belum selesai. Pengunjung masih berjalan menuju titik kendaraan listrik, lalu berpindah ke kendaraan kawasan sebelum kembali ke kendaraan utama.

Jadi Three Natural Bridges bukan sekadar melihat tiga jembatan batu.

Ia adalah perjalanan turun dari tebing ke lembah, menuruni ratusan tangga, berjalan berjam-jam di antara dinding karst, lalu keluar melalui sistem transportasi berlapis.

Bentang alamnya memang ekstrem. Tetapi perjalanan wisatawannya dibuat terstruktur.

○00○

Di sinilah kualitas pengelolaan wisata alam Wulong terasa paling jelas.

Aksesibilitas tidak hanya berarti kendaraan dapat mencapai gerbang destinasi.

Ia juga berarti: apakah pengunjung bisa berjalan dengan nyaman, beristirahat, menemukan toilet, memahami arah perjalanan, dan berpindah antarmoda tanpa kebingungan?

Kebersihan menjadi salah satu kesan terkuat saya, baik di Fairy Mountain maupun Three Natural Bridges. Jalur pejalan kaki, area transit, toilet, dan fasilitas publik relatif terjaga.

Hal lain yang menarik adalah kotak panggilan darurat di sejumlah titik.

Dalam kawasan dengan perjalanan beberapa jam dan medan cukup berat, fasilitas ini relevan. Keselamatan tidak hanya disampaikan melalui imbauan.

Keselamatan dibangun ke dalam sistem.

Aktivitas ekonomi juga hadir dalam bentuk makanan, minuman, suvenir, tempat belanja, dan jasa wisata.

Tetapi relatif sangat tertata.

Ini penting karena pariwisata memang harus menciptakan manfaat ekonomi, tetapi komersialisasi yang berlebihan justru bisa merusak pengalaman.

Di Wulong, saya melihat upaya menjaga agar alam tetap menjadi produk utama, sementara aktivitas ekonomi mendukungnya.

○00○

Three Natural Bridges juga memperlihatkan pentingnya cerita.

Kalau hanya dilihat dari sisi geologi, kita sebenarnya sedang melihat batu, tebing, lembah, dan formasi karst.

Tetapi setiap bagian diberi identitas.

Tiga jembatan alam diberi nama Tianlong, Qinglong, dan Heilong. Ada formasi celah-celah dinding perbukitan yang menyerupai jempol, pedang, dan ikan.

Ada pula cerita tentang film “Curse of Golden Flower” karya Zhang Yimou dan kaitan kawasan ini dengan pengambilan gambar dari film Transformers 4.

Pemandu kami bahkan menunjukkan dari sudut mana pengunjung sebaiknya mengambil foto agar bentuk-bentuk tertentu terlihat.

Bagi saya, ini bukan sekadar trik fotografi. Ini adalah bagian dari bercerita dalam pengelolaan destinasi.

Tanpa cerita, pengunjung mungkin hanya melihat batu.

Dengan cerita, batu mendapatkan identitas dan menjadi lebih mudah diingat.

Dan memang pariwisata ternyata bukan hanya menjual tempat. Pariwisata juga menjual makna.

○00○

Kalau diminta memberikan penilaian pribadi terhadap pengelolaan wisata alam Wulong, saya memberi 9 dari skala 10.

Ini tentu bukan audit formal, melainkan penilaian berdasarkan pengalaman sebagai pengunjung.

Nilai tinggi itu bukan hanya karena keindahan alam, tetapi karena banyak elemen bekerja bersama: akses, konektivitas, jalur pejalan kaki, kebersihan, fasilitas dasar, keselamatan, pengelolaan pengunjung, UMKM yang tertata, cerita destinasi, serta integrasi antara kota, lingkungan, transportasi, dan objek wisata.

Mengapa bukan 10?

Three Natural Bridges cukup menuntut secara fisik. Perjalanan sekitar tiga jam, ratusan anak tangga, medan yang tidak ringan, serta pergantian moda dapat menjadi tantangan bagi lansia atau pengunjung dengan keterbatasan mobilitas.

Informasi bagi wisatawan internasional juga masih perlu diperkuat agar cerita destinasi lebih mudah dipahami tanpa terlalu bergantung pada pemandu.

Tetapi secara keseluruhan, 9 dari 10 pantas diberikan bukan karena semuanya sempurna, melainkan karena detail-detailnya bekerja sebagai satu sistem.

○00○

Setelah mengunjungi Fairy Mountain dan Three Natural Bridges, saya melihat pola yang cukup jelas:

Aset Alam → Pengelolaan Kawasan → Aksesibilitas → Desain Pengalaman → Kenyamanan dan Keselamatan → Cerita → Aktivitas Ekonomi → Nilai Destinasi

Di sinilah geografi berubah menjadi aset ekonomi.

Bukan karena gunung, sungai, atau batu otomatis menghasilkan nilai.

Nilai muncul ketika alam dihubungkan dengan infrastruktur, pelayanan, cerita, dan pengalaman manusia.

Lalu, apa yang bisa dipelajari Indonesia? Menurut saya ada enam hal.

Pertama, akses adalah bagian dari produk wisata. Wisatawan mengingat bukan hanya apa yang mereka lihat, tetapi juga bagaimana mereka sampai dan bergerak di dalam destinasi.

Kedua, fasilitas dasar bukan pelengkap.  Toilet, tempat istirahat, jalur pejalan kaki, papan petunjuk, pengelolaan sampah, dan keselamatan menentukan kualitas pengalaman.

Ketiga, kawasan di sekitar destinasi sama pentingnya dengan atraksi utama. Sungai yang bersih, kota yang tertata, ruang publik yang terawat, dan aktivitas komersial yang terorganisasi membentuk satu pengalaman.

Keempat, UMKM harus tumbuh sekaligus ditata. Pariwisata harus memberi manfaat ekonomi tanpa merusak kualitas destinasi.

Kelima, setiap destinasi membutuhkan cerita. Indonesia memiliki kekayaan sejarah, budaya, geologi, kuliner, dan tradisi yang luar biasa. Tantangannya adalah mengkurasi dan menyampaikannya dengan menarik.

Dan keenam, pengelolaan destinasi harus dilihat sebagai sebuah sistem.

Jalan, transportasi, objek wisata, kebersihan, UMKM, keamanan, promosi, dan pelayanan sering dikelola terpisah.

Padahal bagi wisatawan, semuanya adalah satu pengalaman.

○00○

Tentu pelajarannya bukan membuat Danau Toba menjadi Wulong atau Raja Ampat menjadi Fairy Mountain.

Setiap destinasi Indonesia memiliki karakter geografis, budaya, masyarakat, dan daya dukung lingkungan yang berbeda.

Yang perlu dipelajari adalah cara berpikirnya.

Bagaimana menjaga aset utama. Membangun akses tanpa merusaknya. Menciptakan kenyamanan tanpa membuat alam terlalu artifisial. Menata aktivitas ekonomi. Membangun cerita. Dan memastikan masyarakat lokal memperoleh manfaat.

Dengan kata lain:

Yang perlu dipelajari bukan bagaimana membuat Indonesia seperti Wulong, tetapi bagaimana membuat setiap destinasi Indonesia menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.

Perjalanan dari metropolitan Chongqing menuju Wulong juga memberi saya satu pelajaran tambahan:

Skala sebuah kota boleh berubah. Tantangan ekonominya boleh berbeda. Tetapi kualitas pengelolaan tidak harus berhenti di kota besar.

Chongqing menggunakan infrastruktur dan teknologi untuk membuat metropolitan yang kompleks tetap bekerja.

Wulong menggunakan infrastruktur, pengelolaan lingkungan, pelayanan, dan cerita untuk mengubah kekayaan alam menjadi pengalaman dan ekonomi.

Bentuk transformasinya berbeda.

Tetapi keduanya bertumpu pada kemampuan yang sama: mengelola aset dan menghubungkannya menjadi sebuah sistem.

Alam memang memberi Wulong keunggulan.

Tetapi pengelolaan mengubah keunggulan itu menjadi pengalaman, dan pengalaman mengubah geografi menjadi nilai ekonomi.

Dan mungkin bagi Indonesia—dengan kekayaan alam dari Danau Toba sampai Raja Ampat—pertanyaan terpentingnya bukan lagi apakah kita mempunyai destinasi yang cukup indah.

Kita sudah memilikinya.

Pertanyaannya adalah:

Seberapa baik kita mampu mengubah keindahan itu menjadi pengalaman yang nyaman, terjaga, berkesan, dan memberi nilai ekonomi secara berkelanjutan?

Mungkin di situlah perbedaan antara sekadar memiliki tempat yang indah dan benar-benar membangun sebuah destinasi.

Wulong, 14 Agustus 2026

Leave a comment