
Oleh: Sigit Darmawan
“Kalau green hydrogen belum menghasilkan keuntungan, mengapa harus mulai berinvestasi sekarang?”
Pertanyaan itu muncul dalam salah satu sesi Leadership Development Program: Global Exposure tentangTransisi Energi yang dikelola oleh LAPI ITB. Dari 15 kelas tentang Transisi Energi yang telah saya fasilitasi dalam periode 7 bulan terakhir, dan telah diikuti hampir lebih dari 500 para manajer perusahaan energi negara dari beragam fungsi dan lokasi, baru ada pertanyaan tajam tentang arah investasi perusahaan.
Bagi saya, pertanyaan itu bukan sekadar diskusi tentang green hydrogen. Pertanyaan itu sesungguhnya menggambarkan dilema yang sedang dihadapi hampir semua organisasi di dunia.
Bagaimana kita mengambil keputusan terhadap teknologi yang diyakini akan membentuk masa depan, tetapi hari ini belum mampu menunjukkan keuntungan finansial yang meyakinkan?
Di tengah tekanan efisiensi, tuntutan profitabilitas, dan ketidakpastian ekonomi, pertanyaan seperti ini menjadi semakin relevan.
Bukan hanya bagi perusahaan energi tersebut. Tetapi juga bagi perusahaan manufaktur yang mulai mengadopsi artificial intelligence, industri otomotif yang berinvestasi pada kendaraan listrik, perusahaan logistik yang mengembangkan robotika, industri pertambangan yang menyiapkan proses produksi rendah karbon, hingga sektor kesehatan yang mulai memanfaatkan teknologi genomik dan AI.
Hampir semua industri menghadapi pertanyaan yang sama. Haruskah kita menunggu teknologi menjadi matang? Atau justru membangun kemampuan sebelum pasar benar-benar terbentuk?
Menurut saya, di sinilah banyak organisasi keliru dalam memandang investasi.
Kesalahan Terbesar: Menilai Semua Investasi dengan Cara yang Sama
Sebagian besar organisasi terbiasa mengevaluasi investasi menggunakan ukuran yang sangat rasional. Berapa nilai investasinya? Berapa kenaikan pendapatannya? Berapa payback period-nya? Berapa Internal Rate of Return (IRR)-nya?
Pendekatan tersebut sangat tepat ketika perusahaan membangun aset produktif yang sudah memiliki pasar yang jelas.
Membangun pembangkit listrik. Membangun pabrik baru. Membangun gudang. Membangun jaringan distribusi. Atau membeli mesin produksi.
Saya menyebutnya sebagai investment for capacity.
Namun teknologi seperti green hydrogen, Small Modular Reactor (SMR), Carbon Capture, Artificial Intelligence, long-duration energy storage, bahkan quantum computing berada dalam kategori yang berbeda.
Teknologi-teknologi tersebut belum sepenuhnya matang secara komersial. Pasarnya masih berkembang. Model bisnisnya terus berubah. Regulasinya juga masih mencari bentuk terbaik.
Apabila semuanya dinilai menggunakan logika investasi konvensional, hampir pasti sebagian besar akan dianggap belum layak. Masalahnya, justru pada fase inilah organisasi mulai menentukan posisi strategisnya untuk masa depan.
Ketika membahas green hydrogen, pertanyaan pertama yang sering muncul adalah: “Berapa IRR proyek ini?”
Menurut saya, itu bukan pertanyaan pertama yang seharusnya diajukan. Pertanyaan yang jauh lebih strategis adalah: “Kompetensi apa yang harus dimiliki organisasi agar ketika teknologi ini menjadi arus utama, kita tidak hanya menjadi pembeli teknologi, tetapi mampu menjadi pemain yang kompetitif?”
Perbedaan antara kedua pertanyaan tersebut tampak sederhana. Namun implikasinya sangat besar.
Pada tahap awal, investasi terhadap teknologi frontier bukan terutama bertujuan membangun pendapatan.
Yang sedang dibangun adalah kemampuan organisasi. Kompetensi teknis. Pengalaman operasional. Ekosistem. Kemitraan. Kepercayaan pasar. Dan yang paling penting: opsi strategis.
Karena ketika pasar benar-benar terbentuk, organisasi yang belum pernah belajar akan selalu tertinggal dari organisasi yang sudah lebih dahulu membangun pengalaman.
Kompetensi Adalah Mata Uang Baru Keunggulan Kompetitif
Pelajaran ini jauh melampaui sektor energi. Hari ini kita menyaksikan hampir semua industri memasuki fase yang sama. Artificial Intelligence. Agentic AI. Digital Twin. Humanoid Robotics. Green Hydrogen. Advanced Battery. Biotechnology. Carbon Capture.
Tidak ada seorang pun yang mampu memastikan teknologi mana yang akan menjadi pemenang. Namun satu hal hampir pasti. Perusahaan yang menunggu seluruh ketidakpastian hilang justru berisiko kehilangan momentum untuk belajar.
Ironisnya, teknologi dapat dibeli dengan relatif cepat. Tetapi kompetensi tidak.
Kompetensi dibangun melalui proses belajar yang panjang, serangkaian eksperimen, kegagalan, kolaborasi, dan akumulasi pengalaman. Karena itu, keunggulan kompetitif masa depan semakin ditentukan oleh kecepatan organisasi dalam belajar, bukan hanya oleh besarnya aset yang dimiliki.
Belajar Sebelum Membesar
Banyak organisasi melihat hanya ada dua pilihan: Masuk besar-besaran atau tidak masuk sama sekali.
Padahal organisasi terbaik justru memilih jalur ketiga: Learn → Pilot → Partner → Scale.
Mereka memulai dengan belajar. Membangun pemahaman organisasi. Menguji asumsi. Mengembangkan talenta. Mempelajari regulasi. Membangun jaringan. Kemudian melakukan pilot project.
Bukan untuk mengejar keuntungan. Melainkan untuk memperoleh pembelajaran. Berikutnya membangun kemitraan.
Karena pada fase awal, tidak ada organisasi yang memiliki seluruh kompetensi yang dibutuhkan. Barulah ketika teknologi semakin matang, pasar mulai terbentuk, dan model bisnis semakin jelas, investasi dilakukan dalam skala besar.
Pendekatan seperti ini bukan tanda keraguan. Justru menunjukkan kedewasaan strategi.
Investasi Terbaik pada Tahap Awal Adalah Membeli Opsi
Dalam literatur strategi terdapat konsep real options. Intinya sederhana: organisasi tidak harus langsung membeli seluruh masa depan. Cukup membeli hak untuk siap ketika masa depan itu benar-benar datang.
Untuk green hydrogen, misalnya, investasi awal tidak harus berupa proyek berskala raksasa.
Yang jauh lebih penting justru membangun pilot project. Melatih SDM. Mengembangkan standar keselamatan. Memahami integrasi dengan sistem kelistrikan. Membangun kemitraan dengan universitas, lembaga riset, penyedia teknologi, dan calon off-taker.
Semuanya mungkin belum menghasilkan keuntungan finansial hari ini. Tetapi semuanya menghasilkan sesuatu yang jauh lebih bernilai: strategic readiness.
Membangun Masa Depan Tidak Selalu Berarti Membangun Aset
Diskusi dalam kelas tersebut memberikan satu refleksi yang menurut saya sangat penting.
Selama bertahun-tahun kita terbiasa menganggap investasi identik dengan pembangunan aset fisik. Padahal pada era disrupsi teknologi, investasi terbesar sering kali justru berada pada pembangunan kemampuan organisasi.
Organisasi yang memenangkan masa depan bukan selalu organisasi yang paling banyak mengeluarkan uang. Melainkan organisasi yang paling cepat belajar. Yang paling cepat memahami perubahan. Yang paling cepat membangun jejaring. Dan yang paling siap mengambil keputusan ketika momentum datang.
Bagi perusahaan energi negara, kesiapan tersebut akan menentukan posisi Indonesia dalam transisi energi global.
Namun pelajaran yang sama juga berlaku bagi hampir seluruh industri.
Karena kita sedang memasuki era ketika kompetensi, kemampuan belajar, dan kemitraan strategis menjadi aset yang nilainya tidak kalah penting dibandingkan pembangkit, pabrik, mesin, atau infrastruktur.
Pada akhirnya, perusahaan yang memenangkan masa depan bukanlah perusahaan yang paling agresif berinvestasi. Melainkan perusahaan yang paling bijaksana membangun opsi, kompetensi, dan strategic readiness sebelum peluang besar itu benar-benar datang.