Merawat yang Terluka, Menjaga yang Merawat


(Seri 3 — Jangan Memikul Koper Hari Esok Hari Ini)

Oleh: Sigit B. Darmawan

Salah satu pergumulan terbesar keluarga yang terdampak gangguan kesehatan mental adalah mengatasi kekhawatiran. Ini pergumulan yang sangat nyata.

Saya bisa merasakannya. Juga dalam pengalaman memfasilitasi keluarga yang terdampak, termasuk dalam family connecting support group. Di ruang-ruang seperti itu, saya sering mendengar kegelisahan yang sangat manusiawi: bagaimana nanti kalau gejala itu muncul lagi? Bagaimana kalau pengobatan tidak berjalan baik? Bagaimana kalau keluarga tidak sanggup lagi? Bagaimana dengan masa depannya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak muncul karena kurang iman. Sering kali justru muncul karena kasih. Kita khawatir karena kita mengasihi. Kita takut karena kita tidak ingin orang yang kita kasihi semakin menderita.

Kekhawatiran itu diibaratkan seperti seseorang yang membawa koper 30 kilogram. Koper hari ini saja sudah berat. Tetapi orang yang hidup dalam kekhawatiran sering kali bukan hanya membawa koper hari ini. Ia juga membawa koper besok, koper minggu depan, bahkan koper tahun depan.

Semua dipikul hari ini.
Tidak heran jiwa menjadi sangat lelah.

Bagi caregiver, ilustrasi ini sangat dekat dengan kenyataan. Ketika kita mendampingi anggota keluarga yang bergumul dengan kesehatan mental, pikiran kita sering tidak berhenti pada hari ini. Kita melompat ke masa depan.

Bagaimana kalau ia menolak ditolong?
Bagaimana kalau kami tidak mampu membiayai?
Bagaimana kalau saya sudah tidak kuat?
Bagaimana kalau masa depannya tidak jelas?

Pertanyaan-pertanyaan itu manusiawi. Namun masalahnya, kekhawatiran sering membuat kita memikul beban yang belum waktunya dipikul.

Dalam psikologi, ada perbedaan antara takut dan cemas. Takut biasanya memiliki objek yang jelas. Misalnya, dokter menyampaikan ada diagnosis tertentu. Ada fakta, ada objek, ada sesuatu yang bisa kita hadapi, diskusikan, dan tangani.

Tetapi kecemasan sering muncul dari ancaman yang belum jelas. Sesuatu belum terjadi, tetapi sudah kita bayangkan seolah-olah pasti terjadi. Masa depan belum datang, tetapi tubuh dan pikiran kita sudah bereaksi seperti sedang berada dalam bahaya.

Di sinilah kecemasan menjadi melelahkan. Tubuh kita ada di sini, tetapi pikiran kita berlari ke banyak tempat. Kita sedang duduk bersama keluarga, tetapi pikiran sudah pergi ke rumah sakit, biaya, obat, kemungkinan krisis, stigma sosial, dan masa depan yang belum tentu terjadi.

Ketika menulis refleksi ini, saya teringat Matius 6:34 berkata:

Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

Ayat ini tentu saja bukan ajakan untuk hidup tanpa rencana. Bukan pula alasan untuk mengabaikan pengobatan, konseling, terapi, atau pertolongan profesional. Justru keluarga tetap perlu merencanakan langkah dengan bijaksana.

Tetapi Firman Tuhan mengingatkan kita agar tidak membawa seluruh beban masa depan sekaligus hari ini.

Hari ini ada bebannya.
Tetapi hari ini juga ada anugerah Tuhan. Besok ada pergumulannya. Tetapi besok juga akan ada pemeliharaan Tuhan.

Prinsip ini sederhana, tetapi tidak mudah dilakukan: one day at a time. Satu hari demi satu hari. Satu langkah demi satu langkah. Satu keputusan demi satu keputusan.

Caregiver sering merasa harus mengendalikan semuanya. Harus tahu jawabannya. Harus selalu kuat. Harus siap setiap saat. Harus bisa mencegah semua kemungkinan buruk. Padahal tidak ada manusia yang sanggup memegang seluruh masa depan.

Saya belajar bahwa salah satu kelelahan terbesar caregiver adalah ketika kita diam-diam merasa harus menjadi penyelamat. Padahal kita dipanggil untuk setia, bukan menjadi Juruselamat.

Kita bisa melakukan bagian kita hari ini. Mendampingi hari ini. Mendengar hari ini. Mengantar ke dokter hari ini. Mengingatkan obat hari ini. Menjaga komunikasi hari ini. Berdoa hari ini. Mencari informasi yang tepat hari ini. Meminta bantuan ketika perlu hari ini.

Tetapi kita tidak harus memikul seluruh perjalanan lima tahun ke depan hari ini.

Dalam dunia psikologi, ada pendekatan yang disebut g
grounding. Intinya adalah menolong pikiran kembali hadir pada saat ini. Ketika pikiran melayang terlalu jauh ke masa depan, kita belajar kembali kepada realitas sekarang: saya ada di sini, hari ini, saat ini. Saya bernapas. Saya berdiri. Saya mendengar. Saya masih punya satu langkah yang bisa dilakukan.

Bagi caregiver, grounding bisa menjadi latihan yang sederhana tetapi penting. Saat pikiran mulai dipenuhi “bagaimana kalau”, kita bisa berhenti sejenak dan bertanya:

Apa yang benar-benar terjadi hari ini?
Apa yang masih hanya bayangan?
Apa satu hal yang bisa saya lakukan sekarang?
Siapa yang bisa saya hubungi untuk meminta bantuan?
Apa yang perlu saya serahkan kepada Tuhan?

Dalam support group, saya belajar bahwa pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini sering menolong keluarga keluar dari kabut kekhawatiran. Bukan karena semua masalah langsung selesai, tetapi karena beban yang besar mulai dipecah menjadi langkah-langkah kecil yang lebih mungkin dipikul.

Dalam kisah manna di Perjanjian Lama, Tuhan memberi makanan kepada bangsa Israel setiap hari. Mereka tidak boleh menimbun berlebihan untuk hari esok. Tuhan sedang mendidik mereka untuk percaya: cukup untuk hari ini, besok Tuhan memberi lagi.

Demikian juga dengan caregiver.

Kita tidak selalu diberi kekuatan untuk seluruh tahun. Tetapi Tuhan memberi kekuatan untuk hari ini. Kita tidak selalu diberi jawaban untuk seluruh masa depan. Tetapi Tuhan memberi hikmat untuk langkah berikutnya.

Kita tidak selalu tahu bagaimana akhir perjalanan ini. Tetapi kita boleh percaya bahwa Tuhan hadir dalam prosesnya.

Maka, ketika kekhawatiran datang, mungkin doa kita bukan lagi, “Tuhan, beri aku kepastian untuk semua hal.”
Mungkin doa kita menjadi lebih sederhana:

“Tuhan, beri aku kekuatan untuk hari ini. Beri aku hikmat untuk langkah hari ini. Beri aku hati yang cukup tenang untuk mengasihi hari ini. Dan untuk hari esok, ajar aku percaya bahwa anugerah-Mu juga akan cukup.”

Caregiver tidak perlu membawa koper besok, minggu depan, dan tahun depan hari ini. Cukup bawa koper hari ini.

Berjalanlah bersama Tuhan hari ini. Sebab kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.

Leave a comment