Tag Archives: TradeWar2_0

Siapa yang Menang dari Damai AS-Iran? Jawabannya: China

Oleh: Sigit Darmawan

Setiap perang selalu menyisakan pertanyaan klasik: siapa yang kalah, siapa yang menang?

Tetapi dalam perang modern, jawabannya jarang sederhana.

Kemenangan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang menembakkan rudal terakhir. Tidak selalu oleh siapa yang menandatangani kesepakatan damai. Tidak juga semata-mata oleh siapa yang paling keras berbicara tentang kedaulatan, keamanan, atau stabilitas kawasan.

Dalam konflik AS–Iran yang mengguncang Selat Hormuz sejak akhir Februari 2026, kemenangan justru dibaca dari arah yang lebih tersembunyi: aliran kapal tanker, cadangan minyak, sistem pembayaran, dan kemampuan sebuah negara menjaga rantai pasok energinya saat dunia sedang panik.

Continue reading

PMI, Rantai Pasok dan Pertaruhan Daya Saing

Container ships loaded with colorful cargo containers docked at an industrial shipping port at sunset
Container ships docked at a bustling port during a vibrant sunset

Oleh: Sigit Darmawan

Angka 50.

Bagi sebagian orang, angka itu mungkin tidak berarti apa-apa.

Namun bagi dunia manufaktur, angka 50 adalah garis batas yang menentukan apakah sebuah industri sedang bertumbuh atau mulai kehilangan tenaga. Di atas 50 berarti ekspansi. Di bawah 50 berarti kontraksi.

Karena itu ketika PMI (Purchasing Managers Index) manufaktur Indonesia berada tepat di angka 50,0 pada Mei 2026 setelah sempat jatuh ke 49,1 pada April 2026, perhatian kita seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah industri sedang tumbuh atau menyusut.

Continue reading

Ketika Trump Terbang ke Beijing: Trade War Sudah Usai, Kini Mulai Supply Chain War

Oleh: Sigit Darmawan

Dulu, kunjungan Presiden sebuah negara ke negara lain selalu dibaca dengan kacamata diplomasi klasik: negosiasi dagang, isu keamanan, atau persaingan ideologi.

Hari ini, konteksnya sudah berubah drastis.

Ketika Donald Trump mendarat di Beijing pada 13–15 Mei 2026, dunia sebenarnya sedang menyaksikan format diplomasi yang berbeda. Menurut laporan resmi The White House serta liputan BBC News dan Reuters (2026), Trump tidak hanya datang membawa pejabat diplomatik atau negosiator perdagangan. Ia membawa delegasi elite teknologi Amerika.

Elon Musk hadir dengan misi yang sangat spesifik: mengamankan persetujuan regulator China agar sistem Full Self Driving milik Tesla dapat beroperasi lebih luas di pasar domestik China. Ini sangat penting karena Gigafactory Shanghai masih menjadi salah satu basis produksi global terbesar Tesla, sementara produsen kendaraan listrik lokal China bergerak sangat agresif.

Continue reading

Ketika Plastik Menjadi Risiko Bisnis

(Mengapa lonjakan harga kemasan harus dibaca sebagai sinyal strategis, bukan sekadar gangguan biaya)

Oleh: Sigit Darmawan

Beberapa waktu lalu, di sela konsultansi merancang modul pelatihan supply chain untuk sebuah grup perusahaan FMCG, saya berbincang dengan seorang procurement manager. Topiknya sederhana: plastik.

Namun seperti banyak percakapan di dunia bisnis, yang tampak kecil sering kali menyimpan sinyal besar.

“Wah…Harga plastik sudah naik 2–3 kali lipat pak! Pasokan juga tidak pasti. Kuartal satu aman. Entah di kuartal dua ini. Kalau ini berlanjut terus, margin bisa tertekan 2–3 persen.”

Continue reading

Leadership in Polycrisis Era: Memimpin di Dunia yang Tidak Lagi Tunggal

“Krisis hari ini tidak datang satu per satu. Ia datang bersamaan—dan saling memperkuat.”

Oleh: Sigit Darmawan

Dunia yang Tidak Lagi Sederhana

Dalam Trade War 2.0, saya menggambarkan bagaimana dunia tidak lagi bergerak dalam logika ekonomi semata. Perdagangan tidak lagi netral. Rantai pasok tidak lagi ditentukan oleh efisiensi, tetapi oleh kekuatan geopolitik, aliansi, dan kepentingan nasional.

Apa yang dahulu kita pahami sebagai globalisasi—arus barang yang bebas, biaya yang optimal, dan jaringan yang efisien—perlahan berubah menjadi sistem yang terfragmentasi. Negara memilih mitra. Perusahaan menata ulang rantai pasok. Risiko tidak lagi tersembunyi, tetapi menjadi bagian dari strategi.

Namun satu hal yang semakin jelas: Trade war bukan satu-satunya krisis.

Continue reading

Politik Perdagangan dan Diplomasi: Ketika Rantai Pasok Menjadi Arena Kekuasaan

Oleh: Sigit Darmawan

“Perang modern tidak dimulai dengan tembakan pertama. Ia dimulai ketika akses dihentikan.”

Dalam buku Trade War 2.0, saya menulis satu kalimat di salah satu bab yang saat itu terasa seperti peringatan. Hari ini, kalimat itu menjadi kenyataan: “Ketika jalur distribusi terganggu, dunia tidak kehilangan energi—dunia kehilangan akses terhadap energi.”

Dan ketika akses hilang, yang terjadi bukan sekadar krisis energi. Yang terjadi adalah pergeseran kekuasaan.

Dunia hari ini tidak kekurangan energi. Dunia kehilangan kepastian.

Continue reading

Selat Hormuz: Ketika Dunia Diguncang dari Sebuah Jalur Sempit

Oleh: Sigit Darmawan

Ketika Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran, banyak orang melihatnya sebagai eskalasi konflik regional. Namun bagi saya, peristiwa itu lebih dari sekadar berita militer. Ia adalah alarm bagi sistem rantai pasok global.

Dalam Trade War 2.0: Navigasi Korporasi & Transformasi Rantai Pasok Global, saya menjelaskan bahwa masa depan rantai pasok tidak lagi ditentukan hanya oleh tarif dan kebijakan industri. Ia juga ditentukan oleh stabilitas jalur distribusi dan keamanan energi. Konflik di sekitar Selat Hormuz memperlihatkan tesis itu secara nyata.

Rudal mungkin ditembakkan jauh dari pusat bisnis dunia. Namun dampaknya bisa langsung terasa di laporan keuangan perusahaan global.

Continue reading

Menguji Narasi Trade War 2.0: Apa yang Terjadi Setelah Tarif Trump Dibatalkan?

Oleh: Sigit Darmawan

Ketika saya membaca berita tentang Mahkamah Agung Amerika Serikat yang membatalkan kebijakan tarif Donald Trump, saya tidak langsung bersorak. Saya justru bertanya: apakah ini benar-benar mengubah arah ekonomi global, atau sekadar koreksi hukum di tengah perubahan yang sudah telanjur berjalan?

Sebagian pelaku pasar melihatnya sebagai tanda meredanya perang dagang. Ada harapan globalisasi akan kembali seperti dua dekade lalu—lebih terbuka, lebih murah, lebih sederhana. Namun pengalaman saya berdiskusi dengan pelaku industri beberapa tahun terakhir membuat saya berhati-hati, bahkan skeptis.

Putusan itu penting. Ia menegaskan mekanisme pengawasan kekuasaan. Tetapi dari sudut pandang rantai pasok global, saya tidak melihatnya sebagai titik balik struktural. Dan di sinilah narasi Trade War 2.0 diuji.

Continue reading