Category Archives: Kepemimpinan dan Manajemen

Trade War 2.0 dan Industri Otomotif: Dekade Paling Menentukan dalam 50 Tahun Terakhir

Oleh Sigit Darmawan

Perang dagang generasi baru—yang belakangan dikenal sebagai Trade War 2.0—tidak lagi berdiri semata sebagai sengketa tarif antara dua kekuatan ekonomi. Bentuknya telah meluas menjadi pertarungan geopolitik, persaingan teknologi, hingga perebutan pusat produksi global yang memengaruhi hampir seluruh sektor industri. Dampaknya nyata, bergerak cepat, dan terasa hingga ke jantung rantai pasok dunia.

Di antara banyak industri yang terdampak, sektor otomotif menjadi salah satu yang paling merasakan guncangannya. Alasannya sederhana: industri otomotif masa kini bukan hanya merakit mobil. Ia merangkai ribuan komponen elektronik, sistem perangkat lunak, ekosistem energi baru, hingga jaringan logistik lintas benua yang sangat bergantung pada stabilitas pasokan global. Sekali ada simpul yang terputus, seluruh mesin produksi dapat berhenti.

Continue reading

Dari Global Value Chain ke Sovereign Supply Chain

Oleh: Sigit Darmawan

Pernahkah Anda mendengar kisah satu kapal yang “tersedak” di Terusan Suez lalu membuat dunia ikut batuk-batuk? Tahun 2021, kapal Ever Given macet selama hampir sepekan. Akibatnya, lebih dari 12 persen perdagangan dunia tertahan. Dari mainan anak-anak sampai suku cadang pesawat, semua ikut tersendat (BBC, 2021).

Atau, pernahkah Anda membayangkan sebuah pabrik di Tiongkok yang berhenti beroperasi, lalu harga ponsel, laptop, hingga obat-obatan di berbagai negara ikut naik. Itu bukan cerita fiksi. Tahun 2022, penutupan pabrik Foxconn di Zhengzhou membuat pasokan iPhone global terganggu (Reuters, 2022). Dua peristiwa ini menjadi pengingat keras: rantai pasok global kita efisien, tapi juga rapuh.

Continue reading

The New Lean: Rantai Pasok yang Rampak, Lincah, dan Berdaulat

Oleh: Sigit Darmawan

Selama puluhan tahun, perusahaan memuja satu mantra: lean. Kata itu identik dengan merampingkan proses, memangkas pemborosan, dan mengefisiensikan biaya. Di ruang rapat, lean supply chain menjadi jargon sakti. Prinsipnya tampak sederhana: semakin ramping rantai pasok, semakin kompetitif perusahaan.

Namun alam permainan berubah. Krisis chip, pandemi, perang Rusia–Ukraina, serta ketegangan antara Amerika dan Tiongkok memperlihatkan satu hal jelas — ramping saja tidak memadai. Rantai pasok yang terlalu kurus justru mudah rapuh. Maka muncul gagasan baru: The New Lean — rantai pasok yang tidak hanya kurus, melainkan juga rampak, lincah, dan berdaulat.

Continue reading

AI Paradox #1: AI dan Gelombang Pemutusan Kerja Baru

Oleh: Sigit Darmawan

Kecerdasan buatan (AI) sedang tumbuh secara eksponensial. Teknologi ini tidak hanya mengubah pola konsumsi digital. AI kini juga mulai menyusun ulang lanskap ketenagakerjaan global.

Sejak awal 2024 hingga pertengahan 2025, ribuan pekerja dari berbagai perusahaan teknologi besar kehilangan pekerjaan. Bukan karena krisis keuangan, tetapi akibat efisiensi sistem yang digerakkan oleh AI.

Continue reading

Asap yang Memudar: Disrupsi, Daya Beli, dan Masa Depan Gudang Garam

Oleh: Sigit Darmawan

Kediri, kota yang lekat dengan aroma tembakau, kini merunduk dalam sepi. Gudang Garam (GG), simbol kejayaan kretek Indonesia, mengalami gejala kelesuan yang mencemaskan. Tidak hanya sebagai korporasi, tapi sebagai tulang punggung ekonomi daerah.

Laporan keuangan 2024 menunjukkan kenyataan pahit: laba bersih anjlok menjadi Rp980,8 miliar dari Rp5,3 triliun di 2023. Pendapatan juga turun dari Rp118 triliun menjadi Rp98 triliun.

Dalam lima tahun terakhir, laba Gudang Garam mengalami penyusutan rata-rata sebesar 31% (Laporan Keuangan GG, 2025). Harga saham GGRM pun jatuh drastis—dari Rp90.000 di 2019 menjadi hanya sekitar Rp9.100–15.000 pada pertengahan 2025 (Emitennews, 2025).

Continue reading

Melihat yang Kita Miliki: Pendekatan Baru Mengubah Organisasi Lewat Appreciative Inquiry

Oleh: Sigit Darmawan

Dua orang berdiri di ujung tebing. Yang satu menatap gunungan hasil kerja keras, tersenyum sambil berkata, “Lihat apa yang sudah kita capai!” (Asset Based).
Yang lain menunjuk ke seberang, ke lubang kosong, sambil mengeluh, “Kita belum punya ini dan itu.” (Deficit Focused)

I.
Dua sudut pandang berbeda. Dua cara mengelola perubahan. Dan hasilnya bisa sangat berbeda.

Jumat 13 Juni 2025 lalu saya menghadiri peluncuran buku “Manajemen Strategis: Model Roket ST” yang ditulis oleh kawan saya, Dr. Sigit Triyono, Sekum LAI di gedung LAI. Buku itu ditulis sebagai panduan bagaimana organisasi nirlaba menyusun peta jalan perubahan yang komprehensif, tetap bertahan, serta berkembang dalam berbagai tantangan jaman dan multi krisis.

Continue reading

Integritas Seorang Ani

Ani, panggilan akrab Sri Mulyani, menjadi pusat perhatian masyarakat dalam beberapa bulan terakhir ini. Sejak kasus Century dibahas dalam pansus DPR, Ani tersandera secara politis oleh parlemen yang menganggap Ani sebagai pejabat yang bertanggungjawab atas kebijakan talangan bank Centrury. Oleh parlemen kebijakan tersebut dianggap sebagai kebijakan yang bermasalah. Dan karenanya Ani harus menjalani proses pertangungjawaban secara politis dan hukum.

Publik mengenal Ani sebagai seorang professional yang diakui integritasnya, tegas dalam bersikap, dan seorang reformator birokrasi di depkeu. Integritas pribadinya membuat gentar orang-orang yang tidak suka kepentingannya diusik. Dan karenanya ada upaya untuk menyingkirkannya.

 Walaupun Ani belakangan mendapatkan dukungan dari publik, namun kekuatan dukungan tersebut belum mampu menopang “ketersingkiran”nya dari jabatannya. Cepat atau lambat, Ani akan tersingkir.

Continue reading

Pertumbuhan Diri

Life is not advancement. It is growth. It does not move upward, but expands outward, in all directions.”  (Russell G. Alexander , Father, Human Being, Recovering Philosopher, 1954)

Kalimat diatas sangat menarik jika kita berbicara tentang pertumbuhan diri (Personal Growth), karena pertumbuhan diri pada hakekatnya adalah pengembangan kualitas hidup dalam semua aspek yang saling terkait satu dengan yang lainnya. Pertumbuhan di salah satu aspek hidup mempengaruhi pertumbuhan di aspek hidup yang lain. Karena itu pertumbuhan diri haruslah dipahami dan dihayati sebagai sebuah kehidupan yang terintegrasi, dan bukan bukan terpisah-pisah.

Secara natur manusia harus bertumbuh dan berkembang. Kapabilitas dan kapasitasnya harus terus-menerus diasah untuk agar mampu memberdayakan kehidupannya dan alam sekitarnya menjadi lebih berkualitas. Mengapa kita perlu bertumbuh dan berkembang? Prinsip apa yang melandasinya?

Pertama, bahwa pertumbuhan diri itu adalah sebuah proses transformasi hidup. Perubahan atau transformasi ini terjadi melalui pembaharuan akal budi dan pikiran manusia. Tujuannya agar manusia memiliki kapabilitas untuk membedakan hal yang benar dan tidak benar, baik dan tidak baik. Transformasi akal budi dan pikiran tersebut dimaksud untuk mendorong perubahan kualitas hidup manusia.

Kedua, bahwa kita harus mengembangkan apa yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Berapapun yang dipercayakan Tuhan kepada kita, haruslah kita kembangkan secara optimal sebagai bentuk pertanggungjawaban  kepda Tuhan. Bukan masalah barapa banyak talenta yang kita miliki, tetapi apakah kita mengasah, melatih, dan mengembangkannya dengan baik seluruh talenta yang dipercayakan kepada kita.

Ketiga, prinsip pertumbuhan selalu dikaitkan dengan kualitas. Bertumbuh berarti menghasilkan kualitas yang baik, dan sebaliknya. Karena itu prinsip “bekerja dan mengusahakan yang terbaik” adalah esensi dari prinsip pertumbuhan ini.

Keempat, prinsip pertumbuhan diri haruslah didasarkan pada: kasih kepada Allah dan kepada manusia. Esensi dari prinsip ini adalah bahwa pertumbuhan diri tidak boleh bersifat egoistis. Tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri,  tetapi supaya bisa melayani orang lain secara optimal dalam berbagai bidang kehidupan kita.

Keempat prinsip inilah landasan kita dalam perencanaan pertumbuhan diri kita. Proses bertumbuh adalah proses sepanjang kehidupan kita. Pribadi yang bertumbuh dan berkualitas adalah pribadi yang dibentuk melalui proses panjang dalam kehidupan. Diperlukan mentalitas pembelajaran diri (self learning) dalam proses ini.

Pembelajaran Diri

Pembelajaran diri dapat di gambarkan melalui 3 unsur dalam segi tiga pertumbuhan berikut.

 Gambar 1. Tiga Unsur Pembelajaran Diri

Triangle

Unsur pertama adalah tujuan atau visi hidup. Ini sangat fundamental jika  kita berbicara tentang pembelajaran diri.  Tanpa visi atau tujuan hidup tidak mungkin ada upaya pembelajaran, karena tidak ada hal yang dituju dan dikejar dalam kehidupan. Kita perlu memiliki visi dan tujuan kehidupan, karena itulah yang akan memandu perjalanan kehidupan kita.

Unsur kedua adalah peluang, tantangan dan perubahan yang ada di sekitar kita. Kita selalu berhadapan dengan perubahan-perubahan di sekitar kita. Perubahan itu bisa menjadi peluang dan tantangan bagi kita untuk belajar, bertumbuh, dan berkembang. Bagaimana sikap kita dalam berespon terhadap tantangan dan peluang tersebut sangat menentukan pengembangan diri kita.

Unsur ketiga adalah sumber daya yang dimiliki. Setiap orang punya resources dasar yang dimilikinya: bakat, talenta, kecerdasan, kompetensi dan lain-lain. Ada yang dipercayakan banyak, ada yang sedikit. Tetapi faktor sumberdaya ini bukanlah faktor dominan yang menjadi penentu dalam proses pertumbuhan kita.  Ada pengikat ketiga unsur tersebut dalam proses pembelajaran diri, yaitu pola pikir (mind set)

Mind set adalah pola pikir yang terkait dengan kepercayaan dasar yang kita miliki. Ia akan mempengaruhi  sikap, perilaku, dan tindakan kita.  Segala sesuatu dimulai dari proses kita berpikir.

Gambar berikut menjelaskan tentang yang mempengaruhi mind set kita, dan apa yang bisa dipengaruhinya.

Gambar 2. Apa Yang Mempengaruhi Mind Set

MIND SET - APA SAJA YANG MEMPENGARUHINYA

Gambar 3. Apa yang Dipengaruhi Mind Set

MInd set - apa yang mempengaruhinya

 Bagaimana membentuk mindset?

Mind set perlu dibentuk melalui berbagai aktivitas yang mendukungnya. Pola pikir kita harus diberikan “nutrisi” yang tepat agar sehat, jernih, dan optimal. Aktivitas apa yang positif dalam membentuk mind set kita?

Pertama, kita perlu belajar dari buku sumber hikmat dan kehidupan, yaitu kitab-kitab yang menjadi sumber kepercayaan kita sebagai orang beriman. Tidak saja untuk memahami dan mempelajarinya, namun sampai kepada tindakan menghayati dan melakukannya. Firman Tuhan dalam kitab-kitab tersebut kaya akan kebenaran yang bisa memandu kita dalam berpikir, berperilaku, dan bertindak

Kedua, membaca buku-buku yang baik dan berkualitas akan berguna untuk: membentuk cara pandang kita dalam melihat berbagai persoalan; mempeluas wawasan berpikir kita; dan merubah cara berpikir kita.

Ketiga, melatih pikiran kita melalui proses berdiskusi dengan berbagai orang atau komunitas di sekitar kita agar terbentuk mind set yang positif dan kritis. Pikiran yang terlatih akan membentuk mind set yang baik.

Keempat, belajar kepada orang-orang yang memiliki wawasan dan pengetahuan yang lebih dibandingkan kita. Proses belajar ini bisa melalui berbagai cara : mendengarkan ceramah, membaca tulisan-tulisan mereka, berinteraksi secara positif dengan mereka, dan sebagainya. Jangan pernah malu untuk bertanya hal yang kita tidak tahu.

Jika kita melakukan tindakan-tindakan sederhana ini, maka kita sedang melatih mind set kita dengan benar.

Bagaimana merencanakan pertumbuhan diri?

Pertumbuhan diri adalah sebuah proses yang seharusnya bisa direncanakan. Peningkatan kualitas dan kapabilitas kehidupan kita bisa jadi adalah hasil dari sebuah proses yang terjadi secara tidak terencana maupun terencana. Namun merencanakan pertumbuhan diri akan memiliki dampak yang lebih terukur dan berkesinambungan. Bagaimana caranya?

1. Memulai dengan identifikasi: Peluang-peluang apa saja yang dapat kita gunakan untuk  berkembang   hari ini? Untuk diri kita? Profesi kita? Untuk orang orang di sekitar  kita? Kelemahan-kelemahan apakah yang perlu kita tingkatkan (berkaitan dengan profesi, karakter, kompetensi, ketrampilan dan sebagainya)?

 2.   Menyusun sebuah rencana. Kapan, dimana, dan bagaimana saya akan memulai rencana kita? Rencana ini perlu dibuat secara terukur dan bisa dievaluasi dan diidentifikasi kemajuannya.

 3.  Jika menemui rintangan dan kemunduran, maka pikirkan dan renungkan apa yang menjadi kendala, kesulitan, dan masalahnya. Jika kita sudah menemukannya, maka susun lagi rencana tindakan: Kapan, dimana, dan bagaimana kita akan melaksanakan rencana kita?

 4.  Jika berhasil, pikirkan untuk mempertahankannya Apa yang harus kita lakukan untuk mempertahankan dan melanjutkan perkembangan dan keberhasilan kita? Setiap upaya peningkatan kapabilitas kita, perlu dipertahankan agar terus menghasilkan keluaran dan dampak positif dalam kehidupan kita.

 5.  Proses perencanaan ini harus selalu dilakukan evaluasi dengan meminta umpan balik dari orang lain.

Penutup

Pertumbuhan adalah sebuah proses hidup untuk mentransformasi kehidupan, baik secara revolusioner maupun evolusioner. Kemampuan kita untuk meresponi setiap tantangan dan peluang dalam kehidupan kita  sangat tergantung dari pola pikir yang kita miliki. Karena itu membangun pola pikir yang baik, kritis, dan positif adalah hal utama yang harus kita lakukan. Mari mentransformasi diri!