Category Archives: Kepemimpinan dan Manajemen

Change or Die

Saya membaca sebuah buku yang menarik dari seorang penulis senior Malajah Fast Economy, Alan Deutschman, yang berbicara tentang proses perubahan dan bagaimana kita bisa melakukannya. Baik dalam konteks pribadi, organisasi, bisnis, dan masyarakat.

“Change or Die” mengulas tentang tiga kunci penting yang harus dilakukan agar perubahan bisa terjadi dalam individu dan organisasi. Ketiga kunci penting itu dinamakan ” 3 R : Relate, Repeat, Reframe”.

Ketiga kunci ini akan membantu kita untuk membuat perubahan-perubahan positif yang diperlukan baik bagi setiap individu , organisasi bisnis, komunitas, maupun sosial. Alan Deutschman menyatakan bahwa pada dasarnya setiap orang bisa dan mampu untuk melakukan perubahan-perubahan secara revolusioner.

Relate — berkaitan dengan upaya untuk membangun sebuah relasi baru, komunitas baru yang memungkinkan perubahan-perubahan yang sedang dilakukan bisa terjadi karena ada: dukungan, motivasi, dorongan, teguran, kedisiplinan, dan kebersamaan dari orang-orang yang menjadi bagian dari relasi atau komunitas baru tersebut. Artinya perubahan itu tidak mungkin dilakukan dalam relasi atau komunitas yang lama. Menciptakan relasi baru adalah langkah mendasar untuk memulai perubahan.

Repeat — adalah semangat untuk mengulang kebiasaan, perilaku, maupun ketrampilan yang baru secara kontinu dalam sebuah komunitas yang mendukung perubahan itu. Perubahan pada dasarnya adalah menciptakan kebiasaan baru, perilaku yang baru, memiliki ketrampilan yang baru, cara berpikir yang baru. Karena itu “repeat” adalam kunci untuk memastikan bahwa pengulangan yang konsisten dan kontinu akan mendorong perubahan yang revolusioner dalam setiap individu

Reframe — adalah membingkai ulang proses perubahan yang sudah dilakukan dengan pola berpikir dan bertindak dalam sebuah kerangka yang baru, yang berbeda dengan pola berpikir dan bertindak yang lama. Reframe (pembingkaian ulang) hanya terjadi jika kebiasaan baru, perilaku baru, dan ketrampilan yang baru mulai bisa dikuasai karena pengulangan yang dilakukan dalam relasi yang baru.

Kegagalan dalam melakukan 3 R ini, akan membawa sebuah proses kematian diri kita karena: kita tidak mampu mengembangkan diri secara utuh, terpenjara dalam sebuah pola pikir dan bertindak yang lama, tidak mampu melakukan perbaikan-perbaikan yang dibutuhkan untuk kemajuan, tidak memiliki ketrampilan-ketrampilan baru yang diperlukan untuk memaksimalkan potensi diri kita dan sebagainya. Jadi semestinya tantangannya adalah bukan “Change or Die” tetapi “Change and Strive”.

Pidato Kemenangan Obama

Pidato kemenangan obama yang memberikan inspirasi tentang kejayaan, kemenangan, dan keberhasilan selalu diperoleh dari sebuah perjuangan panjang yang tanpa kenal lelah.

————————————————————————————————————————–

Hello, Chicago.

If there is anyone out there who still doubts that America is a place where all things are possible, who still wonders if the dream of our founders is alive in our time, who still questions the power of our democracy, tonight is your answer.

It’s the answer told by lines that stretched around schools and churches in numbers this nation has never seen, by people who waited three hours and four hours, many for the first time in their lives, because they believed that this time must be different, that their voices could be that difference.

It’s the answer spoken by young and old, rich and poor, Democrat and Republican, black, white, Hispanic, Asian, Native American, gay, straight, disabled and not disabled, Americans who sent a message to the world that we have never been just a collection of individuals or a collection of red states and blue states. Continue reading

Pidato “Kekalahan” Mc Cain

Inilah pidato “kekalahan” (baca: kemenangan) Mc Cain yang sangat indah dan menyentuh hati. Kebesaran jiwa dan kenegarawanan yang ditunjukkannya semoga memberikan inspirasi kepada kita dalam hidup bermasyarakat dan bernegara.

——————————————————————————————————————-

Thank you. Thank you, my friends. Thank you for coming here on this beautiful Arizona evening.

My friends, we have – we have come to the end of a long journey. The American people have spoken, and they have spoken clearly.

A little while ago, I had the honor of calling Senator Barack Obama to congratulate him. Continue reading

Rekayasa Ulang Sosial – Social Reengineering

Michael Hammer dan James Champy dalam bukunya berjudul “Reengineering the Corporation” memperkenalkan suatu revolusi dalam perbaikan proses bisnis yang bersifat radikal dan dramatik, karena terjadinya perubahan yang fundamental dalam paradigma dan rancangan proses bisnis. Continue reading

Turun Gunung

Presiden menangis mendengar penuturan perwakilan korban lumpur “ganas” lapindo di cikeas beberapa saat lalu. Tidak hanya menangis, presiden berjanji akan “turun gunung” untuk memastikan proses penyelesaian ganti rugi terhadap masyarakat korban lumpur tersebut segera selesai.  Turun gunungnya presiden berwujud dengan berkantor di “tempat berjarak 15 km dari semburan lumpur”, dan melakukan koordinasi dengan pimpinan lapindo untuk pemecahan masalah tersebut. Presidenpun memberi tenggat waktu 10 hari kepada lapindo untuk menyelesaikan pembayaran uang muka 20 persen ganti rugi. Itulah makna “turun gunung” bagi presiden.

Seorang pendekar silat yang “mumpuni” terpaksa turun gunung, ketika di dunia kacau balau oleh ulah pendekar-pendekar “hitam” dan tidak ada seorang pendekar putihpun yang mampu menandinginya. Sang pendekar “terpaksa” turun dari gunung – sebuah tempat kompemplasi baginya untuk menjauhkan diri dari hiruk pikuknya problem kehidupan, dan mencari makna kehidupan.

Ketika dulu presiden Soeharto mengutarakan keinginannya untuk “lengser keprabon, mandheg pandhita”, dia memaknainya sebagai undur dari  berbagai problematika masyarakat langsung dan menjadi penasehat kehidupan bermasyarakat belaka. Soeharto memaknainya sebagai “naik gunung”. Berlawanan makna dengan “turun gunung”.

Jika presiden SBY hendak turun gunung, tentu maksudnya adalah karena adanya kekacauan dalam penyelesaian ganti rugi korban lumpur lapindo, akibat tidak mampunya pejabat bawahannya menangani masalah tersebut, maka sang presiden memandang perlu dirinya untuk terjun langsung dalam proses tersebut. Dalam konteks komunikasi massa, tindakan presiden SBY ini ingin menjaga citra dirinya, sebagai presiden yang peduli dengan situasi masyarakat korban lumpur tersebut dan “tidak bersalah” dalam kekusutan ganti rugi tersebut. Dan bahwa tidak kunjung terselesaikannya ganti rugi tersebut, lebih disebabkan karena laporan yang diterima dirinya tidak seperti kenyataannya – alias abs; bahwa pejabat dibawahnya tidak kompeten menyelesaikan masalah tersebut, bukan dirinya; bahwa instruksi yang diberikan kepada menteri-menteri terkait tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkannya.

Kembiguan sang presiden ini semakin menegaskan sosok dirinya sebagai sang pemimpin yang “peragu dan tidak tegas” dan hanya peduli dengan citra dirinya. Bukankah tanggung jawabnya sebagai presiden, mengharuskan dirinya untuk untuk tetap bersentuhan dengan berbagai persoalan masyarakat secara riil, bukannya sedang di “gunung” untuk bertapa dan melihat dari kejauhan? Bukankah seorang presiden harus merasakan denyut nadi kehidupan rakyat, supaya mampu memimpin rakyat dengan negara ini dengan “tepat” dan “benar”? Bagaimana bisa selama satu tahun sejak lumpur meluber membenamkan kehidupan masyarakat porong, presiden “tidak sadar” bahwa berbagai persoalan terkait dengan “bencana lumpur” tersebut, sama sekali belum terselesaikan?

Baiklah, mungkin sang presiden juga sudah memberikan instruksi kepada menteri-menteri terkait, bahkan sudah membentuk tim – belakangan menjadi badan – penanggulangan lumpur sidoarjo. Tetapi kasus lapindo ini sudah lama dan menjadi kasus nasional, kenapa perhatiannya sangat minim? Dan media pun secara gencar memberitakan perkembangannya, termasuk berita “nglurug”nya warga sidoarjo ke ibukota beberapa saat lalu. Lalu informasi apa lagi yang dibutuhkan presiden untuk bersikap tegas terhadap bawahannya yang tidak mampu bekerja sesuai dengan instruksi dirinya dan memberi perhatian maksimal terhadap hal ini? Bukankah berita-berita yang ada sudah mengindikasikan bahwa ada “sesuatu yang tidak beres” dalam kasus lapindo ini. Janganlah kasus lapindo ini menjadi kasus yang terlunta-lunta, seperti kasus “PHK’nya PT Dirgantara Indonesia; yang belum terselesaikan sampai sekarang.

Jika presiden SBY adalah seorang yang ingin menjaga citra, maka jadikanlah kasus lapindo ini untuk memperbaiki citra, dengan menyelesaikan dengan segera dan tanpa pandang bulu – termasuk bulu salah seorang menterinya, yang empunya lapindo. Ketidakmampuan dan ketidakmauan presiden untuk menyelesaikan persoalan lapindo ini secara tegas, akan menyimpan “bara api” dalam sekam kehidupan masyarakat, dan menunggu waktu terjadinya “pergolakan sosial” yang lebih besar dampaknya. Tentu saja kita tidak menginginkan hal itu terjadi. Terlalu mahal ongkosnya.

Come on mr presiden!