
Oleh: Sigit Darmawan
Ketika Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) mulai dibicarakan bersamaan dengan nama besar Indomaret dan Alfamart, kegelisahan masyarakat bisnis segera muncul.
Apakah koperasi desa akan berhadapan dengan ritel modern?
Apakah Indomaret dan Alfamart harus dibatasi agar koperasi desa tumbuh?
Ataukah justru keduanya dapat bekerja sama untuk memperkuat ekonomi desa?
Pertanyaan ini bukan hanya sekadar teknis. Soal izin toko, zonasi usaha, distribusi barang, dan persaingan harga. Tetapi di baliknya ada pertanyaan yang jauh lebih penting: ekonomi desa hendak dibangun dengan cara apa?
Apakah desa akan terus menjadi pasar bagi kekuatan ekonomi dari luar? Ataukah desa mulai menjadi pelaku yang memiliki daya tawar dalam rantai nilai nasional?
Di sinilah KDMP perlu sekali lagi disikapi dengan pikiran yang lebih jernih.
Continue reading