
(Catatan Penutup tentang Kota-kota di China — Bagian Terakhir)
Oleh: Sigit Darmawan
Perjalanan ini berakhir di Changsha.
Tentu perjalanan yang singkat seperti ini tidak cukup untuk menjelaskan negara sebesar China. Sejak awal, catatan-catatan ini juga bukan dimaksudkan sebagai kesimpulan tentang China.
Saya hanya mencoba membacanya dari dekat–melalui kota, perjalanan darat, ruang publik, destinasi wisata, teknologi sehari-hari, dan bagaimana masyarakat menggunakan semuanya.
Namun setelah berpindah dari satu tempat ke tempat lain, saya tidak lagi bertanya: Apa yang mereka bangun?
Tetapi: Apa yang membuat begitu banyak hal dapat bekerja secara relatif konsisten?
Mungkin pembangunan memang pada akhirnya bukan terutama tentang menghasilkan sebanyak mungkin proyek.
Ia adalah tentang membangun sebuah sistem yang mampu terus bekerja.
○00○
Pembangunan biasanya mudah dilihat melalui angka.
Berapa kilometer jalan dibangun. Berapa jembatan selesai. Berapa investasi masuk. Berapa fasilitas baru tersedia.
Semua itu tentu saja penting.
Tetapi kualitas pembangunan justru sering ditentukan oleh hal-hal yang kurang terlihat: standar, pemeliharaan, koordinasi, disiplin pengoperasian, dan kemampuan menghubungkan satu fasilitas dengan fasilitas lainnya.
Jalan yang baik kehilangan banyak manfaat jika ruas berikutnya buruk. Transportasi publik tidak optimal jika akses menuju dan meninggalkan stasiun sulit. Infrastruktur baru tidak banyak berarti jika tidak terhubung dengan aktivitas ekonomi.
Karena itu, kualitas sistem tidak ditentukan oleh titik terbaiknya, tetapi oleh konsistensi hubungan antarbagian.
Di situlah saya melihat perbedaan antara membangun proyek dan membangun sistem.
Proyek dapat dianggap selesai ketika konstruksi selesai. Sedangkan sistem baru menghasilkan nilai ketika berbagai bagiannya terus bekerja bersama.
○00○
Hal lain yang menurut saya lebih sulit daripada membuat sesuatu yang spektakuler adalah menjaga kualitas dalam skala besar.
Membangun satu kawasan yang bagus mungkin dapat dilakukan. Memasang teknologi baru juga relatif mudah.
Namun yang jauh lebih sulit adalah membuat standar yang sama terus muncul di banyak tempat dan bertahan dalam rentang waktu yang panjang.
Kemampuan seperti ini tidak lahir hanya dari investasi.
Di belakangnya ada perencanaan, pembiayaan, standar teknis, pengadaan, sumber daya manusia, pengawasan, pemeliharaan, teknologi, dan tata kelola.
Kita melihat aset fisiknya.
Tetapi yang menentukan apakah aset itu terus bekerja adalah kapabilitas di belakangnya.
Karena itu pembangunan bukan hanya soal kemampuan membangun. Ia juga soal kemampuan mengoperasikan, merawat, memperbaiki, dan terus meningkatkan apa yang sudah dibangun.
○00○
Pengalaman dan perspektif ini mengubah cara saya dalam melihat efisiensi pembangunan.
Efisiensi bukan hanya bagaimana sebuah proyek dapat dibangun lebih murah atau lebih cepat.
Yang lebih penting adalah efisiensi sistem.
Apakah sebuah investasi mampu mengaktifkan investasi lainnya?
Transportasi memperluas mobilitas. Mobilitas memperbesar pasar. Pasar menciptakan aktivitas ekonomi. Aktivitas ekonomi menciptakan kebutuhan layanan dan pekerjaan.
Teknologi mengurangi hambatan transaksi. Data membantu pengambilan keputusan.
Ketika hubungan seperti itu terbentuk, nilai sebuah investasi menjadi lebih besar daripada nilai aset itu sendiri.
Ia menciptakan efek pengganda (multiflier effect).
Karena itu, pertanyaan pembangunan seharusnya tidak berhenti pada: Berapa besar investasi yang dilakukan?
Tetapi juga:
_Seberapa besar investasi tersebut menggerakkan bagian lain dari perekonomian dan masyarakat?_
○00○
Teknologi memberi pelajaran serupa.
Transformasi digital sering dibicarakan melalui kecerdasan buatan, otomasi, aplikasi, atau teknologi terbaru.
Padahal teknologi mungkin justru telah matang ketika masyarakat tidak lagi sibuk membicarakan teknologinya.
Orang cukup membayar, membeli tiket, mencari arah, menggunakan transportasi, atau mengakses layanan.
Teknologinya hampir tidak terasa. Ia hanya bekerja.
Di titik itu, teknologi tidak lagi menjadi sekadar proyek digital. Ia telah menjadi infrastruktur kehidupan sehari-hari.
Pengertian infrastruktur pun menjadi lebih luas.
Bukan hanya jalan, pelabuhan, bandara, rel, atau jembatan.
Data adalah infrastruktur. Pembayaran digital adalah infrastruktur. Standar dan keamanan adalah infrastruktur. Kemudahan akses adalah infrastruktur.
Bahkan koordinasi antarlembaga yang membuat berbagai layanan dapat bekerja bersama merupakan bagian penting dari infrastruktur tersebut.
○00○
Tentu pelajaran dari perjalanan ini bukan bahwa Indonesia harus menjadi China.
Kondisi geografis, sejarah, sistem pemerintahan, struktur ekonomi, dan kapasitas institusi kita berbeda. Dan karena itu, yang relevan bukan meniru bentuk akhirnya.
Yang lebih penting adalah memahami logika di belakangnya.
Bagaimana sebuah proyek menjadi bagian dari sistem.
Bagaimana investasi saling memperkuat.
Bagaimana standar dijaga.
Bagaimana pemeliharaan diperlakukan sebagai bagian dari pembangunan.
Bagaimana teknologi masuk ke dalam proses.
Dan bagaimana berbagai institusi dapat bekerja dengan arah yang cukup selaras.
Bagi Indonesia, pertanyaan yang lebih relevan mungkin bukan: Bagaimana kita membangun seperti China?
Tetapi:
_Bagaimana kita membuat pembangunan Indonesia bekerja lebih sistemis?_
Sebab persoalan kita mungkin bukan selalu kekurangan aset.
Kita memiliki jalan, pelabuhan, bandara, kawasan industri, perguruan tinggi, perusahaan, BUMN, teknologi, destinasi wisata, serta berbagai program pemerintah.
Tantangannya sering justru berada di antara semuanya.
Antara pelabuhan dan kawasan produksinya.
Antara infrastruktur dan industri.
Antara pendidikan dan kebutuhan dunia kerja.
Antara teknologi dan proses organisasi.
Antara destinasi dengan ekonomi masyarakat sekitarnya.
Antara pemerintah pusat dan daerah.
Antara satu program dan program berikutnya.
Masing-masing dapat bekerja cukup baik, tetapi nilai yang lebih besar baru muncul ketika hubungan di antaranya juga bekerja.
Karena itu, tantangan pembangunan bukan hanya keunggulan eksekusi (execution excellence).
Kita juga membutuhkan keunggulan integrasi (integration excellence)—kemampuan membuat berbagai aktor, aset, kebijakan, teknologi, dan kepentingan bekerja dalam arah yang cukup selaras.
○00○
Setelah melewati seluruh perjalanan ini, saya menjadi kurang tertarik bertanya: Berapa banyak yang sudah dibangun?
Saya justru lebih tertarik bertanya:
Apakah yang dibangun benar-benar digunakan?
Apakah satu investasi memperkuat investasi lainnya?
Apakah akses masyarakat semakin luas?
Apakah biaya dan hambatan untuk bergerak semakin kecil?
Apakah kualitas dapat dipertahankan setelah proyek selesai?
Dan mungkin yang paling penting:
Apakah kita sedang membangun aset, atau sedang membangun kapabilitas sebuah negara?
Aset akan menua. Teknologi akan berganti. Jalan harus diperbaiki. Bangunan harus dirawat. Model bisnis akan berubah.
Yang menentukan keberlanjutan pembangunan bukan hanya asetnya, tetapi kemampuan masyarakat dan institusinya untuk terus merencanakan, menjalankan, merawat, memperbaiki, dan mengintegrasikannya.
Mungkin di situlah esensi dari membangun sistem.
○00○
Jadi, apa yang paling saya bawa pulang dari seluruh perjalanan ini?
Bukan gambaran tentang gedung, jembatan, kereta, jalan, destinasi, ataupun teknologi tertentu.
Yang saya bawa adalah sebuah cara melihat.
Bahwa pembangunan yang matang bukan ketika sebuah negara mampu menghasilkan semakin banyak proyek spektakuler.
Tetapi ketika banyak hal yang berbeda dapat bekerja bersama dengan cukup baik sehingga masyarakat tidak perlu memikirkan kerumitannya. Mereka cukup menggunakannya.
China tentu tidak memiliki semua jawaban. Tetapi melihatnya dari dekat membuat saya pulang dengan pertanyaan yang berbeda tentang pembangunan.
Dan mungkin itulah salah satu nilai sebuah perjalanan.
Kita berangkat untuk melihat tempat yang baru.
Kadang-kadang kita pulang dengan cara melihat yang baru.
MERDEKA!
Jakarta, 19 Agustus 2026