
(Catatan Ringan tentang Kota-kota di China — Bagian Keempat)
Oleh: SigitDarmawan
Setelah Chongqing, Wulong, dan Fenghuang, perjalanan saya berlanjut ke Zhangjiajie, sebuah kota di barat laut Provinsi Hunan yang namanya hampir identik dengan wisata alam China.
Secara administratif, Zhangjiajie terdiri atas dua distrik dan dua county. Kota ini sebelumnya bernama Dayong, sebelum pada 1994 berganti nama menjadi Zhangjiajie seiring semakin kuatnya reputasi kawasan wisatanya. Nama itu sendiri dikaitkan dengan sejarah lokal kota.
Perubahan nama itu menarik. Seolah menunjukkan bahwa pariwisata bukan sekadar sektor ekonomi, tetapi telah menjadi bagian dari identitas kota.
Dalam perjalanan kali ini saya tentu tidak menjelajahi seluruh Zhangjiajie. Saya juga tidak mengunjungi Zhangjiajie National Forest Park dan seluruh kawasan Wulingyuan yang pernah jadi tempat pengambilan gambar film Avatar.
Kunjungan saya hanya mencakup dua destinasi: Tianmen Mountai dan Zhangjiajie Grand Canyon.
Karena itu, keduanya saya lihat sebagai dua jendela untuk membaca satu hal: bagaimana Zhangjiajie melakukan apa yang oleh banyak ahli pariwisata disebut sebagai rekayasa pariwisata (tourism engineering.)
○00○
Zhangjiajie mempunyai modal awal yang kuat: alam. Gunung, lembah, tebing, hutan, dan formasi batu vertikal membuat kawasan ini sangat atraktif.
Tetapi perhatian saya tidak berfokus ke pertanyaan: seberapa indah alam Zhangjiajie?
namun:
bagaimana bentang alam yang sulit dan ekstrem itu dibuat agar dapat dinikmati banyak orang dengan mudah, aman, teratur, dan tetap menarik?
Di sinilah saya berusaha mencari istilah yang tepat untuk menggambarkannya: tourism engineering.
Bukan sekadar pembangunan fasilitas, tetapi bagaimana akses, transportasi, keselamatan, arus pengunjung, teknologi, dan pengalaman dirancang sebagai satu perjalanan pengunjung (visitor journey).
Saya membaginya dalam dua model yang menarik untuk dipelajari. Tianmen Mountain menunjukkan rekayasa akses (engineering for accessibility.)
Sedangkan, Grand Canyon menunjukkan rekayasa pengalaman (engineering for experience).
○00○
Tianmen Mountain sebenarnya memiliki medan tinggi, sulit, dan ekstrem. Tetapi pengalaman saya menjelajahi gunung itu justru terasa jauh lebih sederhana.
Perjalanan berlangsung melalui: bus → cable car → escalator → berjalan kaki. Dan kembali dengan cara sama.
Banyak perpindahan, tetapi tidak terasa rumit.
Cable car-nya membentang sekitar 7,4 kilometer dari kawasan kota menuju bagian atas gunung dengan perbedaan elevasi lebih dari 1.200 meter. Dan dikenal sebagai the longest cable car in the world.
Namun fungsinya tidak berhenti sebagai transportasi saja. Infrastruktur itu telah menjadi sebuah pengalaman bagi pengunjung.
Perjalanan menuju destinasi gunung telah menjadi bagian dari destinasi itu sendiri.
○00○
Pengalaman lain yang lebih tidak biasa muncul pada rangkaian escalator.
Ada sekitar 12 bagian escalator panjang, dengan total perjalanan mendekati satu kilometer, yang membantu mengatasi perbedaan elevasi ratusan meter.
Kami hanya perlu bergerak dari satu escalator ke escalator berikutnya.
Naik. Berpindah. Naik kembali. Sampai ke kawasan atas. Kemudian turun dengan cara yang sama.
Di sinilah saya melihat esensi dari tourism engineering terasa.
Yang dilakukan Tianmen Mountain sebenarnya lebih jauh dari sekadar memberikan kenyamanan. Ia memperbesar accessibility.
Tanpa cable car, escalator, bus, dan jalur yang tertata, menikmati tempat seperti ini mungkin membutuhkan kondisi fisik tertentu.
Tetapi sekarang anak-anak, keluarga, orang yang tidak terbiasa mendaki, sampai wisatawan lanjut usia dapat menikmati sebagian besar pengalaman yang sama.
Menariknya, pilihan untuk merasakan tantangan tetap tersedia.
Menuju Tianmen Cave, misalnya, terdapat 999 anak tangga yang dikenal sebagai Heavenly Ladder.
Artinya, tourism engineering tidak harus menghilangkan tantangan. Ia justru dapat memberikan pilihan.
Mereka yang ingin berjalan dapat berjalan. Mereka yang membutuhkan kemudahan memperoleh alternatif.
Dalam pandangan saya, ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur. Ini adalah designing accessibility.
Gunung tidak dibuat lebih rendah. Tebing tidak dibuat lebih landai. Yang diubah adalah cara manusia berinteraksi dengan medan tersebut.
Hambatan geografis diserap oleh sebuah sistem infrastruktur yang baik.
Tentu kompleksitas sistem berada di belakangnya. Namun, kemudahan diberikan kepada pengunjung.
○00○
Pengalaman berbeda saya temukan di Zhangjiajie Grand Canyon.
Jika Tianmen Mountain banyak berbicara tentang akses, Grand Canyon menunjukkan bagaimana engineering menciptakan cara baru mengalami daya tarik alam.
Ikonnya adalah jembatan kaca (Glass Bridge) yang membentang sekitar 430 meter, dengan lebar sekitar enam meter dan berada kurang lebih 300 meter di atas dasar ngarai. Ini jembatan ikonik yang banyak dibicarakan para wisatawan berbagai mancanegara.
Sebuah jembatan sebenarnya cukup menghubungkan dua sisi. Tetapi di sini, lantai kaca transparan, ketinggian, dan pandangan ke lembah di bawah sengaja menciptakan sensasi.
Orang tidak hanya datang untuk menyeberang. Mereka datang untuk merasakan bagaimana rasanya menyeberang diatas kaca yang transparan. Ada yang mulus melewatinya. Ada yang berjalan dengan gemetar. Ada yang sengaja menghindar.
Engineering tidak hanya menyelesaikan masalah mobilitas. Engineering menciptakan produk wisata baru.
Grand Canyon juga memperlihatkan paradoks menarik.
Pengunjung ingin merasa takut. Ingin merasakan ketinggian. Ingin melihat jurang di bawah kaki. Tetapi tetap ingin aman.
Di depan, wisatawan memperoleh sensasi. Di belakang, sistem memastikan pengendalian risiko (risk control).
Di sinilah rekayasa pengalaman (experience engineering) bertemu dengan rekayasa keselamatan (safety engineering).
Sensasi dipertahankan. Namun risiko dikelola.
Tianmen Mountain dan Grand Canyon tentu tidak mewakili seluruh Zhangjiajie. Tetapi keduanya memperlihatkan pola yang sama.
Di Tianmen Mountain: engineering mengurangi hambatan. Di Grand Canyon: engineering menambahkan pengalaman.
Yang pertama membuat sesuatu yang sulit menjadi lebih mudah dijangkau. Yang kedua membuat sesuatu yang sudah indah dapat dialami dengan cara berbeda.
Keduanya menunjukkan bahwa alam bukanlah produk akhir (finished product). Alam adalah aset dasar (raw asset.)
Setelah itu ditambahkan akses, mobilitas, keselamatan, aliran pengunjung, dan experience design.
Di sinilah saya mulai membandingkannya dengan beberapa perjalanan keluarga kami di Indonesia.
○00○
Saya pernah mengunjungi Raja Ampat: Misool. Wayag. Painemo. Keindahannya luar biasa.
Gugusan pulau karst, laut jernih, panorama dari ketinggian, dan kehidupan bawah laut adalah aset kelas dunia.
Dalam urusan atraksi, Indonesia tidak kalah. Tetapi dari perspektif _tourism engineering_ muncul pertanyaan lain:
seberapa mudah masyarakat luas dapat menikmati pengalaman tersebut?
Perjalanan menuju Raja Ampat cukup panjang. Sesudah tiba, perpindahan antardestinasi sangat bergantung pada kapal, jarak, cuaca, ketersediaan bahan bakar, dan operator.
Konsekuensinya adalah biaya yang tinggi. Dan tidak semua keluarga Indonesia dapat dengan mudah menikmati Misool, Wayag, atau Painemo.
Namun tentu solusinya bukan menjadikan Raja Ampat destinasi wisata massal _(mass tourism.)_
Ekosistemnya justru harus dijaga. Namun, pertanyaannya adalah:
bagaimana membuat akses lebih efisien tanpa merusak daya dukung ekologisnya?
Tourism engineering untuk Raja Ampat mungkin berarti:
the right access, for the right capacity, at the right ecological cost.
Pengalaman serupa saya rasakan ketika mengunjungi Labuan Bajo, termasuk Bukit Padar dan berbagai destinasi pulau di kawasan sekitarnya.
Sekali lagi, daya tarik alamnya sangat kuat.
Labuan Bajo juga sudah berkembang pesat. Konektivitas udara membaik. Hotel bertambah. Kota dan waterfront ditata. Dan kperator wisata berkembang.
Tetapi untuk menikmati pulau-pulau di sekitarnya, perjalanan tetap banyak bergantung pada perjalanan dengan kapal.
Wisatawan harus memilih kapal, operator, paket, rute, durasi, hingga standar layanan.
Artinya, atraksi sudah sangat kuat, tetapi friksi atau hambatan dalam perjalanan pengunjung masih cukup besar.
○00○
Saya tidak ingin membandingkan Zhangjiajie, Raja Ampat, atau Labuan Bajo dalam pengertian mana yang lebih baik.
Karakter alamnya berbeda. Daya dukungnya berbeda. Model pariwisatanya juga seharusnya berbeda.
Tetapi ada satu pelajaran yang relevan: attraction dan accessibility adalah dua persoalan berbeda.
Indonesia mempunyai daya tarik yang luar biasa. Tantangannya adalah bagaimana daya tarik tersebut diterjemahkan menjadi pengalaman yang:
accessible, manageable, safe, sustainable, dan worth the cost
Accessible bukan berarti semua orang harus datang sebanyak-banyaknya.
Ia bisa berarti: informasi lebih jelas, transportasi lebih pasti, harga lebih transparan, perpindahan lebih terintegrasi, standar keselamatan lebih konsisten, dan kapasitas tetap dikendalikan.
○00○
Tourism engineering sekali lagi dalam pandangan saya bukan berarti _mass tourism_
Ini yang menurut saya penting.
Belajar dari Zhangjiajie bukan berarti Indonesia harus membangun cable car, glass bridge, atau escalator di setiap gunung.
Demikian juga tourism engineering bukan meniru infrastruktur. Tetapi, Tourism engineering adalah merancang sistem di sekitar destinasi (designing the system around the destination.)
Untuk Tianmen Mountain, solusinya mungkin cable car dan escalator. Untuk Raja Ampat, mungkin jawabannya adalah integrasi transportasi laut, standar operator, sistem reservasi, informasi cuaca, kapasitas pengunjung, dan distribusi wisatawan yang lebih baik.
Untuk Labuan Bajo, mungkin integrasi yang lebih kuat antara bandara, kota, pelabuhan, operator kapal, destinasi, ticketing, keselamatan, dan manajemen pengunjung.
Prinsipnya sama. Solusinya tidak harus sama.
○00○
Pengalaman di Zhangjiajie membuat saya melihat pariwisata dalam tiga lapisan.
Pertama, daya tarik (attraction). Apa alasan orang datang? Raja Ampat punya. Labuan Bajo punya. Zhangjiajie juga punya.
Kedua, access. Seberapa mudah wisatawan mencapai dan bergerak di dalam destinasi?
Ketiga, experience system. Seberapa terintegrasi perjalanan sejak wisatawan datang hingga pulang?
Di lapisan ketiga inilah, saya rasa rekayasa pariwisata memainkan peran besar. Karena wisatawan tidak mengingat proyek. Mereka mengingat experience.
○00○
Dari perjalanan ini saya mendapat pelajaran yang berbeda dari setiap tempat.
Chongqing menunjukkan bagaimana kompleksitas kota diubah menjadi sistem.
Wulong menunjukkan bagaimana geografi menjadi aset ekonomi.
Fenghuang memperlihatkan bagaimana heritage tetap hidup bersama masyarakat dan aktivitas ekonomi.
Dan Zhangjiajie memberi pelajaran berikutnya:
aset luar biasa membutuhkan rekayasa agar dapat diterjemahkan menjadi pengalaman yang mudah, aman, terkelola, dan bernilai.
Tianmen Mountain menunjukkan engineering for accessibility. Grand Canyon menunjukkan engineering for experience.
Sementara Raja Ampat dan Labuan Bajo mengingatkan saya bahwa:
*memiliki alam kelas dunia belum otomatis berarti memiliki _tourism experience_ kelas dunia.*
Di antara keduanya ada pekerjaan besar bernama sistem. Ini tantangan utama kita.
○00○
Kunjungan saya ke Zhangjiajie memang hanya melalui dua jendela kecil: Tianmen Mountain dan Grand Canyon.
Namun keduanya cukup mengubah cara saya melihat pembangunan destinasi wisata.
Di Tianmen Mountain, cable car, bus, escalator, dan jalur berjalan membuat medan ekstrem dan sulit relatif mudah dijangkau. Di Grand Canyon, glass bridge mengubah jurang dari sesuatu yang hanya dilihat menjadi sesuatu yang dirasakan.
Ketika mengingat kembali perjalanan bersama keluarga ke Misool, Wayag, Painemo, Bukit Padar, dan berbagai kawasan indah lain di Indonesia, saya semakin yakin bahwa masalah kita bukan kekurangan daya tarik. Kita justru sudah memiliki terlalu banyak daya tarik luar biasa.
Tantangannya adalah mengubah kekayaan alam tersebut menjadi pengalaman yang lebih terintegrasi, terakses, aman, bernilai, tetapi tetap sesuai dengan daya dukung lingkungannya.
Pelajaran dari Zhangjiajie tentu bukan: “Bangunlah seperti Zhangjiajie.”
Melainkan:
“Rancanglah pengalaman sesuai karakter destinasi kita sendiri.”
Alam menciptakan attraction. Engineering menciptakan access.
Experience design menciptakan value. Dan sustainability menentukan apakah semuanya masih dapat dinikmati oleh generasi berikutnya.
Destinasi kelas dunia bukan hanya tempat yang luar biasa untuk dilihat. Ia adalah tempat yang dirancang dengan bijak untuk dapat dialami.
Zhangjiajie, 15 Agustus 2026